"Tuan, Nona Zero ingin bertemu dengan Anda," ujar seorang pria kepada sosok di depannya.
"Suruh dia masuk," perintah orang tersebut tanpa sedikit pun mengangkat pandangannya.
"Baik!" Pria itu segera berbalik dan mempersilakan seorang wanita yang telah menunggu di luar untuk masuk ke dalam ruangan.
Wanita itu melangkah dengan penuh percaya diri. Wajahnya tidak asing, yah dia adalah Novia Ardhana, adik dari Fayra Carolina.
"Salam kepada Tuan Besar," sapanya dengan nada penuh hormat.
Pria di hadapannya, Lucian Valtieri, menatapnya dengan tatapan tajam. "Zero, sangat jarang melihatmu melapor. Apakah kamu mulai melupakan kewajibanmu?"
"Saya tidak berani," jawab Novia, atau lebih tepatnya Zero dengan tenang.
Lucian berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat. "Baguslah," ujarnya, lalu menatapnya lebih dalam. "Lagipula, kamu tidak ingin kematian ayahmu menjadi hiburan bagi mereka, bukan?"
Mata Zero membelalak, tangannya mengepal erat, dan dia menatap lantai dengan kemarahan yang tertahan. "Tidak... aku harus membalaskan dendam Ayah!" gumamnya dengan tekad yang membara.
Lucian menyeringai kecil, menepuk bahu Zero sekali, lalu kembali duduk. "Katakanlah."
Zero mengangkat wajahnya dan mengangguk. "Sekarang, keluarga Astoria dan Alcantara telah dikalahkan oleh Altherion," lapornya.
BRAK...
Lucian menghantam meja dengan keras. Senyumnya melebar, tetapi ada kemarahan di matanya. "Sialan! Padahal semuanya sudah siap! Bagaimana bisa...?" gumamnya, menatap Zero dengan sorot yang menyeramkan.
Zero menunduk, tubuhnya sedikit bergetar, namun dia tetap melanjutkan laporannya.
"Kemala dari keluarga Astoria berkhianat... dan sekarang jejaknya menghilang setelah pertarungan antara Alcantara dan Altherion."
Lucian menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya. "Yah, sudahlah... Yang terpenting sekarang, apakah sebagian pasukan kita sudah melewati perbatasan?"
"Tidak... Tidak satu pun dari pasukan kita yang berhasil melewatinya," jawab Zero dengan nada hati-hati.
Lucian mengepalkan tangannya erat, Wajahnya tegang sebelum akhirnya ia menenangkan diri kembali. "Kalau begitu... bagaimana dengan perempuan itu? Racunnya sudah diminumkan?" tanyanya, kali ini dengan keyakinan bahwa rencana tersebut tidak mungkin gagal.
Zero menggeleng lemah. "Maafkan kami, Tuan... Tapi seseorang berhasil mengelabui kami dan menggagalkan rencana—"
CRASH!
Sebuah gelas melayang cepat ke arahnya, Zero langsung menghindar sebelum benda itu menghantam dinding dan pecah berkeping-keping.
"Tidak berguna... Panggil Nyrx," perintah Lucian dengan nada tajam dan penuh tekanan.
Zero segera mengangguk. "Baik!" dia berbalik dan hendak melangkah keluar, namun suara Lucian kembali menghentikannya.
"Zero..."
Zero menoleh.
"Lanjutkan penyamaranmu," ujar Lucian dingin.
"Lakukan apa pun yang perlu, asal organisasi yang telah ayahmu kembangkan bisa menguasai dunia—seperti harapannya."
Zero mengangguk tanpa ragu. "Dimengerti, Tuan."
Kemudian, dia melangkah keluar dari ruangan dengan tekad yang kuat.
'Ayah... Velora pasti akan membalaskan dendammu dan mewujudkan harapanmu!'
^°^°^°^°^°
"Kakak Ira...."
"Hafzah? Kamu akhirnya bangun sayang, mama khawatir melihat kamu kesakitan.." ujar ibu Hafzah yang baru saja datang dan memeluk putrinya.
Hafzah tidak merespon, matanya menatap jendela kamar, mata yang kosong memperlihatkan seberapa kosongnya dirinya sekarang.
'kamu siapa? Dimana kakak fayra?! "
'maaf saja, tapi pinjamkan aku identitas mu sebentar saja.'
'apa! Ukhh! '
'seret dia, pastikan dia tidak pernah muncul lagi.'
'kakak fayra... Maafkan Novi.."
°°°°°°°°°
'kita bakar disini saja.'
'tidak... Novi.. ingin hidup..'
'heh! Sirene polisi?! Bagaimana bisa?! CK! Jika begini tidak ada waktu buat menghilangkan jejak gadis ini!'
'lalu apa yang perlu kita lakukan?'
'hm... Daripada tertangkap, buang saja gadis ini ke bawah situ, lagipula 100% pasti akan mati.'
'baiklah.'
'tidak! Kenapa! Suaraku tidak mau keluar! Aku tidak mau mati!'
Brak..Duk...
°°°°°°°°°°
'Semoga kamu dapat mengingatnya kembali.'
'siapa? Lag-lagi suaraku tidak bisa keluar.'
' ayo pergi Lyra, kael.'
'tunggu! Siapa! Sebutkan namamu!'
'tuan Gevon! Tunggu ksatria setia mu!'
'Gevon?'
°°°°°°°°°°
"Hafzah?" Panggil ibu Hafzah seraya mengelus bahunya.
Hafzah melihat ibunya dan berkata, "hafzah... Sekarang ingat siapa hafzah." Ujar Hafzah mengagetkan wanita dihadapannya.
Wanita tersebut terdiam dan mengeluarkan butiran air yang kemudian tersenyum, "Mama tidak tau... Mama senang hafzah dapat ingatan hafzah kembali... Tapi.. mama tidak mau hafzah pergi." Tutur wanita tersebut.
Hafzah melihat lekat wanita yang sudah dianggap ibu, wajah yang penuh butiran air dan gemetar memperlihatkan kesedihan dalam hatinya.
Satu nama terlintas dibenak Hafzah saat mengingat situasi yang terasa Dejavu ini, situasi ini pernah dia lihat saat dia kecil.
Saat Fayra dimarahi karena kesalahan Dirinya sendiri, Hafzah tidak tau apa-apa, dia hanya bisa diam saat Fayra dimarahi.
Hafzah memutuskan tatapannya dan melihat kearah jendela, "Hafzah ini pendosa.... Merebut kasih sayang yang seharusnya menjadi milik orang lain." Ujarnya.
Ibu Hafzah terdiam mendengar penuturan gadis yang sudah dia anggap putrinya, "apa maksudmu sayang? Mama..."
"Hafzah sering dihibur olehnya waktu kecil, namun hafzah sendiri tidak bisa menghiburnya saat dibutuhkan." Potong Hafzah yang kemudian melihat ibu angkatnya.
"Sekarang, Hafzah mengerti mengapa Hafzah masih hidup sampai sekarang." Ujarnya dengan senyuman yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.
Jari ibu Hafzah ingin menggapai bahu putri angkatnya namun terhenti saya melihat senyuman yang baru pertama kali dirinya lihat.
Hafzah turun dari kasur dan memeluk ibu angkatnya, "Terimakasih karena telah merawat dan menjadikan saya sebagai anak anda, terimakasih dan maaf karena saya harus membersihkan dosa yang telah menempel selama ini, mama."
Ibu Hafzah tertegun dan dengan berat hati mengangguk mengiyakan, Hafzah tersenyum dan memeluk ibunya erat.
'terimakasih..'
°°°°°°°°°°°°°
KAMU SEDANG MEMBACA
Melissa
Randomperpindahan jiwa / transmigrasi Lerina yang awalnya mencari udara di taman, namun saat lagi asyik nya melamun, kepalanya malah dihantam sesuatu membuat nya transmigrasi ke tubuh seorang wanita antagonis beranak 1. ******...
