Haechan tengah makan ice cream ditaman, disampingnya ada Mark yang beberapa hari ini selalu membuntutinya, hubungan mereka kali ini tampak sedikit baik daripada sebelumnya yang selalu adu argumen.
"Chan, udah memaafkan ku belum?" Mark mencoba memberanikan diri membuka pembicaraan diantara mereka.
Haechan mengangguk, ia melirik kearah mark, "Gak dimaafin juga kamu ngikutin aku terus" sungutnya.
Mark terdiam, Haechan terlihat benar-benar tak menyukai kehadirannya.
"Aku akan dinas di luar kota selama sebulan, lusa aku akan pergi" ucap mark membuat si cantik disampingnya spontan menoleh, "Ada sesuatu yang ingin aku utarakan padamu sebelum pergi" imbuh Mark.
Haechan terdiam bingung, hal serius apa yang ingin diutarakan seorang komisaris jendral pada orang biasa seperti dirinya.
Terjadi keheningan diantara keduanya, semirik angin berhembus halus namun seakan menusuk kulit, ditengah keheningan itu udara dingin sangat terasa, canggungnya membuat darah terasa panas ingin segera menyudahi keheningan itu.
"Sepertinya aku suka kamu" ucap mark tiba-tiba membuat jantung haechan terasa berhenti sepersekian detik.
"Awalnya aku merasa seperti itu, ragu, tidak percaya diri, dan bimbang dengan perasaan ku, tapi setelah menghabiskan beberapa waktu untuk berpikir.... ternyata aku sudah sejauh itu padamu, aku ingin berani mengatakan hal lebih dari sekedar suka, tapi aku takut akan penolakan yang akan kamu ucapkan, melihat betapa kamu tidak menyukaiku, jadi-"
"Siapa yang bilang aku tidak menyukaimu?" Potong haechan dengan cepat.
Haechan letakkan ice cream yang ia makan tadi disebelahnya lalu kembali menatap Mark yang juga tengah menatapnya, "Dulu kamu sangat baik padaku, kamu membantuku kerumah sakit, lalu membantu kasus orang tuaku dan menguatkan aku, aku- aku sangat menyukaimu, tapi akhir-akhir ini aku merasa kecewa karena kamu tidak pernah mempercayai ku, saat itu aku sadar kau hanya mengasihani anak malang sepertiku dan kemudian aku berusaha menjauhi mu dan berhenti bergantung padamu..." Imbuhnya.
"Jadi ini salah paham?" tanya Mark, Haechan mengangguk sebagai jawaban.
Mark dengan berani meraih tangan pria cantik disampingnya itu, jantung keduanya berdetak seirama seolah saling menyahuti didalam keheningan insan yang tengah saling menyelami dalam tatapan mata mereka.
"Jadi bagaimana pendapatmu jika aku ingin kamu menjadi kekasih ku?" Ucap mark membuat debar jantung haechan semakin tak terkendali. "Aku berjanji akan memperlakukan mu dengan baik, aku tidak akan meragukan mu lagi, aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik untuk mu, jadi bolehkah kita mengembangkan hubungan ini lebih serius lagi?" Imbuhnya.
Haechan mengangguk membuat senyum Mark melebar, dikecupnya tangan si cantik mengungkapkan rasa terimakasihnya, untuk pertama kalinya mark berani untuk membangun hubungan lebih dari sekedar teman, ia akan berusaha sebaik mungkin untuk tak mengecewakan pemuda cantik dihadapannya itu.
"Jam berapa lusa berangkatnya?" Tanya Haechan.
"Jam 7 pagi."
"Aku akan ikut mengantarmu" -Harchan.
"Baiklah."
Jaemin menghampiri Jeno yang tengah bermain dengan Jisung, ia membawa sepiring buah yang sudah di kupas dan dicuci seperti anggur, apel, jeruk dan strawberry.
"wahh jie, coba lihat apa yang Buna bawa untuk kita" seru Jeno mendudukkan Jisung di pangkuannya.
"capek gak? Aku gantiin gendong jie sini."
Jeno menggeleng, "Tidak perlu, aku gak capek kok sayang."
"Yasudah."
"Sayang, apa menurut mu bang Mark bisa bicara baik-baik dengan Haechan?" ujar Jeno membuat sang istri spontan berpikir.
"Harusnya sih bisa" saut Jaemin.
"Bang Mark terlalu gila kerja, dia tidak bisa berpikir jauh tentang perasaannya, aku jadi sedikit khawatir." tutur Jeno risau
"Jangan begitu, melihat betapa berjuangnya bang Mark untuk meminta maaf pada Haechan aku bisa melihat jika dia sudah menyadari perasaannya." Sergah jaemin membuat sangat suami hanya mengangguk paham, "kamu beneran masih sanggup jaga jie?" Tanya Jaemin kemudian.
"Sanggup sayang, kamu mau pergi?" Jawab Jeno diakhiri pertanyaan.
Jaemin menatap Jeno ragu, "Aku sudah lama gak skincare-an karena sibuk sama jie, bisa aku minta izin untuk melakukannya sekarang?."
Jeno tersenyum ringan dengan penuturan sang istri yang terlihat seperti takut kepada-nya, "Tentu saja, maaf ya aku udah merenggut masa muda kamu."
Jaemin yang mendengar penuturan sang suami reflek menggeleng kuat, "enggak enggak, aku malah senang sekali ketemu kamu, walau sebelumnya hubungan kita banyak pasang surutnya, tapi akhirnya kita bisa kembali lagi ke-versi yang lebih baik." ujar jaemin membuat sang suami tersenyum.
"Aku benar-benar tidak salah memilih istri" jeno kecup kening istri cantiknya mengutarakan kasih sayang lewat tindakannya itu. Jaemin hanya tersenyum, ia sekarang telah menemukan kebahagiaannya setelah sekian lama hidupnya dipenuhi dengan luka, kini jaemin sangat bahagia, bahkan lebih dari kata bahagia.
"Maaf ya aku tinggal dulu" jaemin kecup pipi sang suami kemudian pergi setelah mendapatkan anggukan dari suaminya itu.
"Jie, buna itu benar-benar manusia paling hebat yang pernah papa temui, jadi kelak jie harus jadi anak yang baik dan patuh pada buna."
KAMU SEDANG MEMBACA
One Night Stand
FanfictionTerjebak dalam genggaman tuan muda yang arogan, malam pertamanya dirampas begitu saja oleh tuan muda yang nyatanya begitu dirinya benci.
