44. Flashback

274 19 0
                                        

HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it

Flashback On

18 tahun yang lalu..

Di ruang keluarga yang sederhana, berkumpullah sebuah keluarga yang lengkap. Sepasang suami istri yang masih berusia 17 tahun duduk berdampingan di sofa, dengan anak mereka yang masih berusia satu tahun berada di pangkuan sang ibu. Ayah dari sang suami pun ikut serta duduk di depan mereka, seolah ada obrolan penting yang akan beliau sampaikan

Ayah dari sang suami menghembuskan nafasnya perlahan, ia sedikit ragu untuk mengucapkan hal ini "Ayah menerima telepon dari tetangga rumah kita di Jakarta, orangtua Tiwi meninggal dunia, disebabkan karena depresi Tiwi tidak terkontrol dan menyerang mereka"

Deg

Sepasang suami istri, yang tak lain adalah Angga dan Nia terpaku setelah kata kata itu selesai di ucapkan.

Pandangan Nia kosong, ia tak tahu harus bagaimana. Bukan hanya keterkejutan dan kesedihan, melainkan rasa bersalah yang datang terlambat namun menghantam lebih keras

"Aku dan Nia baru kemarin lusa datang ke rumah mereka, semua masih baik baik aja. Kapan, kapan mereka meninggal?" ucap Angga, ia sedih namun ia perlu penjelasan lebih

"Sudah Ayah bilang, jangan pernah datang ke rumah mereka lagi. Berkali kali kalian di usir oleh orangtua Tiwi, berkali kali juga kalian di caci maki olehnya, kenapa masih nek—"

"Ayah ngga bakal ngerti perasaan aku. Aku ngga masalah diusir berkali kali, dicaci maki, atau diperlakuin kaya gimana pun, asal ujung ujungnya aku bisa ketemu Tiwi. Aku gapapa, Yah. Ayah harus tau satu hal, keadaan Tiwi yang sekarang itu karena aku. Aku yang ngerusak masa depan dia. Rasa bersalah itu nggak pernah berhenti ngejar aku. Meskipun belum tentu Tiwi bakal maafin aku, aku bakal jauh lebih lega kalo aku udah ngucapin kata maaf ke dia. Aku nggak nuntut buat dimaafin, karena aku tau aku salah. Aku cuma pengen dia tau kalau selama ini aku ngga pernah bener bener pergi, karena aku selalu berusaha ketemu dia meskipun orangtuanya melarang keras"

Sang Ayah mengangguk mendengar ucapan anaknya itu. Ia tidak boleh egois dan terus terusan memaksa anaknya berbuat seperti apa yang ia inginkan "Temui Tiwi dan samapikan maaf Ayah kepadanya. Orang tua Tiwi meninggal kemarin malam. Turut berduacita atas meninggalnya orangtua Tiwi. "

Angga yang mendengar itu pun mengangguk tipis, ia berdiri dan ingin bergegas dari sana, tapi tangan Nia menghentikan langkah Angga

"Ngga, tolong ajak aku dan Dio ketemu Tiwi"

Angga tidak langsung menjawab, ia memejamkan matanya sebentar dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tidak membenci Nia, tapi Angga masih belum menerima Nia menjadi istri nya. Tapi mau bagaimana pun, Nia juga berhak bertemu dengan Tiwi

"Ayo"

Mereka, yang tak lain adalah Angga, Nia dan Dio kecil mulai melajukan mobilnya menuju rumah mereka yang lama, rumah yang menemani mereka sedari kecil

Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 6 jam, Angga memarkirkan mobil nya jauh dari sana. Mereka turun dan mendekati rumah dimana kejadian itu berlangsung. Garis polisi dimana mana, rumah ini tampak sepi

Nia berjalan mendekat ke seseorang yang tak jauh dari sana "Bu, anak pemilik rumah ini dimana ya kalau boleh saya tau?"

"Si Tiwi anak stres itu? udah sewajarnya dia di rumah sakit jiwa. Kalau adiknya, saya kurang tau. Tapi kemarin dia ikut polisi nganterin Tiwi ke rumah sakit jiwa. Kasian anak itu, udah Kakak nya stres di tambah sekarang ngga punya siapa siapa yang waras"

 D'amourTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang