51.

381 35 0
                                        

HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it

"Kenapa lo disini?"

"Mastiin biar lo ngga kemana mana"

Dio kini menetap di coffee shop milik Tama, matanya tak pernah lepas mengawasi anak itu. Sekarang hari ayahnya menikah, ia bertekad memastikan Tama tak melangkah lebih jauh dengan rencana berbahaya itu

Tama mencoba tidak mempedulikan kehadiran Dio, ia sedang bersiap siap untuk segera membuka Coffee Shop nya

"Rumah lo dimana Tam?"

"Perlu gue bantuin ngga Tam?"

"Tam jangan diem bae anjing!"

Tama melirik Dio dengan tatapan tajam "Sopan dikit. Gue lebih tua dari lo"

"Oh... maunya dipanggil apa?" tanya Dio "Abang Tama? Kak Tama? Aa Tama?" lanjutnya dengan nada jail, sambil menaik turunkan alisnya, sengaja menggoda Tama

"Muka lo mau lebih bonyok?"

Dio tertawa keras sambil mengangkat kedua tangannya "Oke, ampun," katanya, berusaha menahan tawanya. Perlahan ekspresinya berubah serius saat menatap Tama "Lo udah lupain dendam lo sama Papa gue, ya?"

Tama diam terpaku, tidak langsung menjawab. Ia menatap Dio sekilas "Kalo mau tetep disini, jangan banyak omong"

Dio diam patuh, namun rasa bosan mulai menyerangnya. Maka dari itu Dio memutuskan untuk bermain hp dengan sesekali melirik ke arah Tama, untuk memastikan keberadaannya

"Tam, gue punya pacar"

"Hah?" Tama menatap Dio aneh "Fungsi nya lo bilang gitu ke gue apa?"

"Baru jadian kemarin sih, tapi gue suka nya dari 3 tahun yang lalu"

"Kasian amat"

"Gue sayang banget sama dia, Tam"

Semakin Tama respon semakin ngelantur pula omongan Dio. Tama berpikir mungkin Dio benar benar sudah gila karena cinta

"Tam, lo punya pacar ngga?"

"Ngga ada untungnya"

"Karna lo jelek ya?"

"Lo anjing!"

Tama menatap Dio jengah, ia kesal sekali karna sedari tadi Dio tidak bisa berhenti berbicara "Lo balik aja deh anjir, main sama pacar lo kek. Ngga bakal kemana mana gue, buat sekarang"

"Pacar gue kuliah"

Setelah semuanya siap, Tama duduk di samping Dio. Tinggal menunggu pelanggan datang

"Rumah lo dimana?"

"Perlu gue jawab?"

"Ngga wajib sih"

"Ini" tangan Tama bergerak menunjuk ke arah ruangannya "Disana ada pintu lagi, itu tempat gue tidur"

Dio mengangguk angguk paham "Kenapa ngga beli rumah aja?"

"Kegedean buat gue yang tinggal sendiri, duit nya juga belum nyampe"

"Rumah gue gede, tapi isi nya gue doang" Dio menoleh menatap Tama "Kalo lo kapan kapan main, gue sambut"

"Bokap lo bukanya udah balik?"

"Iya, tapi cuma selama belum nikah. Setelah nikah engga lagi, kalo pun tinggal bareng gue, gue ngga mau"

 D'amourTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang