46. Luka

450 39 3
                                        

HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it

Rekeman suara pun kini terhenti, Tama melamun, pandangannya lurus jauh. Selama ini ia hidup dengan satu keyakinan yang ia rawat diam diam, kebencian itu masuk akal. Ia menyimpannya rapi, menumpuknya tahun demi tahun dan menyakini bahwa perasaannya punya alasan yang kuat. Kebencian itu menjadi pegangan, sesuatu yang membuat luka terasa memiliki arah. Ia percaya, apa yang ia rasakan benar adanya

Namun kini fakta itu datang

Bukan sebagai kebenaran tapi yang tenang, melainkan sebagai tamparan keras yang tak bisa di sangkal. Ia terkejut, fakta itu membantah seluruh kebencian yang selama ini ia pelihara. Ternyata kebenciannya sekama ini keliru

Fakta ini datang terlambat, setelah kebencian mengeras, setelah jarak terlanjur tercipta, setelah banyak hal tak bisa lagi diulang. Ia menatap masa lalu dengan perasaan campur aduk, andai ia lebih awal mendengarkan penjelasan Angga, mungkin ada banyak hal yang tak perlu ia rusak

Kini kebenaran memang akhirnya datang, tapi tidak selalu tepat saat hati masih mampu memperbaiki segalanya

Ia memejamkan matanya, tangan Tama mengepal kuat. Ia menarik nafas pelan dan menghembuskan "Mau gimana pun faktanya, rasa benci gue tetep ada"

Dio menatap Tama dari ekor matanya setelah itu mengangguk paham, ia paham bagaimana perasaan Tama sekarang "Sekarang fakta udah jelas, tapi bukan berarti perasaan lo salah. Tam, mau lanjut benci atau engga itu bukan soal Kakak lo lagi, tapi soal gimana perasaan lo. Gue ngga bakal maksa lo buat berhenti benci, gue juga ngga bakal maksa lo maafin Papa gue, karena keputusan itu cuma lahir kalo lo sendiri yang milih"

Dio menjeda ucapannya, jujur sekarang buat ngomong aja susah rasanya, setiap ia membuka mulutnya, rasa perih di sudut bibir nya itu muncul, namun ia tak bisa untuk tidak membicarakan hal ini, karena ia yakin Tama perlu seseorang untuk menariknya dari zona nyaman tersebut

"Kalo lo masih mau benci, itu hak lo. Kalo suatu hari lo capek dan pengen ngelepas, itu juga hak lo. Gue cuma pengen lo inget satu hal, jangan hukum diri lo seumur hidup atas sesuatu yang ngga sepenuhnya ada di tangan lo. Setelah ini, apa yang lo simpen di dada lo, apa yang lo lepasin, semuanya keputusan lo sendiri"

Tama mendengarkan semua ucapan Dio dengan jelas, ia tak bisa mengelaknya. Tanpa sadar, air matanya mulai turun seiring dengan ucapan yang Dio sampaikan. Ucapan Dio tidak ada yang salah, benar adanya jika semua keputusan hanya datang saat dirinya sendiri yang memilih

Pandangan Dio benar benar sudah buram mungkin sebentar lagi ia akan tak sadarkan diri. Dio menoleh ke arah Tama dengan sisa sisa kesadarannya, ada satu hal yang perku Tama ketahui "Tam, satu hal yang harus lo inget. Meskipun lo bilang lo ngga takut di penjara karena rencana lo itu, tapi lo harus tau, masih ada gue yang bakal mastiin lo ngga nyentuh penjara sedikitpun" Dio tersenyum "Lo paham maksud gue kan? ....artinya gue bakal bikin rencana lo ngga sampe garis akhir"

Pertahankan Dio runtuh, pandangannya mulai gelap, seperti yang ia duga sebelumnya, ia benar benar pingsan. Tama yang melihat itu sedikit terkejut namun setelah itu ia terkekeh pelan

Tama berusaha untuk berdiri tegak, dengan susah payah ia menarik tubuh Dio agar berdiri. Meski untuk berjalan sendiri pun susah, Tama bersikeras untuk memapah tubuh Dio masuk ke dalam ruangannya

Tama melirik Dio dan tersenyum tipis "Gue ngga nyangka, baru kali ini gue punya pikiran ngga pengen masuk penjara. Lo menang, Yo" gumam nya di sela sela ia berjalan

***

"Pelan pelan anjing, sakit cok"

"Udah pelan ini"

 D'amourCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang