56. kambuh

561 41 13
                                        

HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it

"Serius mau pulang aja?" tanya Farel lagi. Tanpa mengalihkan pandangannya, ia tetap fokus mengemudi

Dio menatap Farel lekat, sebenarnya ia capek dan ingin buru buru mandi tapi sepertinya Farel masih belum ingin kembali ke rumah

"Lo mau kemana?" bukanya menjawab, Dio malah melontarkan pertanyaan

"Kemana aja asal sama lo, gue belum mau pulang aslinya" Farel menatap Dio sebentar "Tapi lo capek banget keliatannya"

Dio langsung menegakkan badannya dan tersenyum lebar "Nanti capek gue pelan pelan ilang kalo udah sama lo"

Farel mencubit pipi Dio pelan "Bisa aja lo anjir"

"Eh serius gue anjir" Dio terkekeh kecil "Jadi mau kemana ini?"

Farel diam sebentar, tidak langsung menjawab. Ia sedang memikirkan tempat mana yang cocok di kunjungi pada sore hari

Saat ide sudah muncul, ia tersenyum tipis. Tempat yang akan mereka datangi adalah tempat yang akhir akhir ini mereka kunjungi

"Kemana?" tanya Dio, saat merasa Farel sudah memiliki jawaban

"Bukit Gemilang"

Dio mengangguk tipis "Oke"

"Kita nanti ke atasnya langsung naik mobil aja, males jalan kaki"

Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit, hingga sekarang sampailah mereka ke tempat yang di tuju

Mobil berhenti di tepi jalan berbatu saat matahari mulai condong ke barat. Bukit Gemilang menyambut mereka dengan angin sore yang lembut dan langit jingga keemasan. Farel mematikan mesin, lalu menghela napas pelan seolah ikut melepas penat yang sejak tadi menggantung

Dio membuka pintu lebih dulu, melangkah keluar dan meregangkan badan. "Ternyata kalo sore, lebih cantik ya" gumamnya sambil menatap hamparan bukit yang bergelombang

"Makanya gue ajak ke sini," jawab Farel sambil mengunci mobil "Tenang. Ngga ribut. Cocok buat lo yang capek"

Mereka berjalan berdampingan menuju spot favorit, sebuah batu besar yang menghadap langsung ke lembah. Angin menyapu rambut Dio, membuatnya sedikit berantakan. Farel refleks merapikannya, jemarinya berhenti sesaat di pelipis Dio

"Apaan sih," Dio terkekeh kecil, tapi tidak menepis

Farel mendengus, senyum tipis mengembang "Emang kenapa?"

Dio menatapnya sebentar, lalu duduk di batu itu. "Ngga kenapa napa. Malah... enak"

Mereka duduk bersebelahan. Senja perlahan menurunkan tirainya, warna langit berubah dari jingga ke ungu pucat. Dio menyandarkan punggungnya, lalu tanpa sadar bahunya menyentuh bahu Farel. Tidak ada yang menjauh

"Lo tau nggak," kata Dio pelan, "akhir-akhir ini gue sering ngerasa capek tanpa alasan. Tapi tiap sama lo, rasanya kayak... lebih ringan"

Farel menoleh, menatap Dio yang memandang lurus ke depan. Ia ragu sesaat, lalu menggeser tangannya hingga menyentuh punggung tangan Dio. Pelan, hati-hati, seolah memberi waktu untuk ditolak. Tapi Dio justru membalikkan tangannya, mengaitkan jari mereka

"Berarti gue fungsional dong," Farel berusaha bercanda, meski suaranya sedikit turun

"Banget," jawab Dio cepat. Ia menoleh, senyumnya lembut. "Makanya gue ngga masalah kalo ngga langsung pulang"

Mereka duduk santai, kaki menjuntai, suasana Bukit Gemilang sore itu begitu tenang

Dio membuka botol minumnya, lalu melirik Farel. "Rel, gue heran deh"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 15 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

 D'amourCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang