HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it
"Suapin!"
"Rame anjir, emang ngga malu?"
"Ngapain malu, gue bangga kok pacaran sama lo" ucap Farel dengan santai nya, bahkan menampilkan senyum tanpa dosa yang membuat Dio kesal
"Bukan masalah bangga atau engga nya, Rel. Tapi pandangan mereka ke kita itu kaya..." Dio melirik ke sekitar tempat duduk nya "Aneh..."
"Buat apa lo repot mikirin pandangan mereka ke kita? Yang ada, itu cuma bakal jadi penghalang kebahagiaan lo" Farel menatap Dio dengan sorot mata yang teguh. Tak ada ragu di sana, tak ada niat untuk mundur. Suaranya tenang saat ia mulai berbicara, namun keyakinannya terdengar jelas. Ia tahu apa yang ia pilih, dan ia siap menanggung segala konsekuensinya "Ibaratnya gini, Yo. Mau satu dunia ngeliat kita aneh, gue tetep bakal genggam tangan lo. Bukan karena berani, tapi karena gue yakin"
Tertegun, Dio terdiam. Kata-kata Farel masih bergema di kepalanya, membuatnya kehabisan jawaban untuk sesaat. Ia menunduk singkat, lalu menatap kembali. Ada perasaan yang tak sempat ia siapkan, namun terlanjur tumbuh
"Kalau gitu... pegang terus, ya. Gue percaya sama keyakinan lo"
Farel tersenyum dan mengangguk tipis "Pasti"
Dio mengambil sendok, meniupnya pelan agar tidak terlalu panas, lalu menyuapkannya kepada Farel dengan sabar
Farel tersenyum kecil dan menerima suapan itu tanpa ragu
"Kayanya gue bakal kecanduan lo suapin deh, Yo. Kita tinggal serumah aja yuk?"
"Pala lo"
Farel tertawa lepas hingga hampir lupa mengunyah makanannya. Ia sempat terbatuk kecil karena tawanya yang terlalu spontan, membuat Dio refleks menegurnya sambil tersenyum agar ia lebih berhati-hati
Mereka menikmati kebersamaan itu tanpa keraguan dan tanpa cemas, tenggelam dalam momen sederhana yang terasa berarti, seolah pandangan orang-orang di sekitar tak lagi memiliki arti
"Suap suapan udah. Ayo kita ciuman disini"
"Mikir ya bangs—mphh"
Farel dengan cepat membungkam mulut Dio "Sama pacar jangan kasar kasar dong"
"Simi picir jingin kisir kisir ding"
Farel mendekatkan kursi tempat ia duduk lebih dekat dengan Dio, membiarkan bahu mereka bersentuhan. Farel memegang salah satu tangan Dio dengan kedua tangannya
"Nanti gue nginep rumah lo"
Dio melirik Farel "Ngapain? Nanti malem gue mau main"
"Sama siapa?"
"Temen gue"
"Iya. Temen lo tu siapa namanya? ngga nerima jawaban, temen gue temen gue"
"Si anjir.." gumam Dio pelan "Gama, Ilyas sama Fatir"
"Oke, gue tetep pengen nginep"
"LAH?"
***
"Eh bangsat, pelan pelan napa minumnya"
Uhuk-huk
Dio, Ilyas dan juga Gama tertawa puas saat melihat Fatir terdesak minuman beralkohol nya hingga hampir muntah, mimik wajah anak itu benar benar sampai merah padam
"Huk anjing. Temen nya sekarat di ketawain uhuk. Ngga bakal gue tebengin balik lo pada"
Mendengar itu teman temannya langsung berpura pura bertingkah baik, entah itu mengelus ngelus punggung Fatir, memberi minuman non-alkohol dan lain lainnya yang mereka bisa. Ancaman Fatir bener benar berpengaruh
KAMU SEDANG MEMBACA
D'amour
Fiksi RemajaCerita ini adalah complicato S2, agar lebih menikmati dan memahami cerita ini maka terlebih dahulu untuk membaca complicato ***** Ini hanya mengisahkan tentang dio si pecinta lego dan Spiderman yang menyimpan perasaan kepada sang sahabat selama hamp...
