35. Penjelasan

377 35 3
                                        

HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it

Malam hari pun tiba, tapi Dio belum memutuskan untuk pergi bersama siapa, ia bimbang. Ia takut jika ia pergi bersama Farel ia benar benar akan menyia-nyia kan kesempatan untuk tahu semuanya tapi jika ia pergi ke tempat yang sudah Tama tentukan, apakah anak itu bisa dipercaya?

Dalam diam, ia berperang dengan dirinya sendiri. Hatinya menarik ke satu sisi, logikanya menahan ke sisi lain, dan ia terjebak di tengah tak bergerak, tak pasti, hanya gusar

Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Ini gue harus milih yang mana?" tanyanya dalam hati

Detik berikutnya, Dio sudah memutuskan mana yang ia pilih. Ia mengambil hp nya dan memencet tombol telepon di kontak seseorang

"Bentar ya, gue siap siap dulu"

Mendengar hal itu, membuat Dio merasakan perasan tak enak, apalagi disini ia menelfon untuk membatalkan ajakan tersebut

"Gini rel, tiba tiba temen gue ngajak main, gue ngga bisa nolak karna udah lama ngga ketemu juga"

"Siapa temen lo"

Dio tidak langsung menjawab, ia diam sebentar memikirkan jawaban yang pas "Temen SMA gue, di SMA gue yang dulu"

"Katanya lo ngga bakal batalin, padahal gue udah tinggal otw ini"

"Ya sorry, gue juga ngga tau dia bakal ngajak sedadakan ini"

"Mau gimana lagi"

"Besok, gue bisa kalo besok"

"Gue butuhnya sekarang, nanti gue pergi sama cewe gue aja"

Dio mengangguk "Oke dah siap, sorry ya"

Tak ada jawaban lagi dari Farel diseberang sana, anak itu langsung mematikan telepon tanpa basa basi

Dio membuka room chat dengan Tama untuk melihat kembali lokasi yang orang itu kirim, setelah melihat lihat dan sudah ia pastikan benar, Dio langsung bergegas menuju tempat tersebut

Ia menghentikan motornya tepat di depan coffee shop, tepat dilokasi yang dikirimkan Tama

Kreet..

Dio membuka pintu, menatap sekeliling dengan intens, mancari sosok Tama diantara banyak nya pelanggan yang datang

"Ayo"

Dio sedikit terpelojok kaget saat seseorang dengan tiba tiba memegang bahu nya disaat ia dengan fokus mencari orang itu

Tama berjalan ke tempat dimana hanya karyawan yang diperbolehkan masuk, meletakan sesuatu didalam sana sebelum kembali berjalan keluar untuk masuk keruangan di sebelahnya

Tama duduk di kursi ergonomis yang ada didalam ruangan tersebut, setelah itu menatap Dio

"Lo kerja disini?"

"Gue pemiliknya"

Dio hanya membulatkan bibirnya mendengar ucapan Tama, ia sedikit tidak heran karena setelah ia lihat lihat seperti Tama jauh lebih tua dari pada dirinya

Dio yang awalnya masih bediri kini ia duduk di sova, menatap Tama dengan serius "Langsung ke intinya"

Tama menyungging senyuman tipis, mengambil box dibawah meja nya dan memberikan box tersebut kepada Dio tanpa mengucapkan sepatah kata pun

Dio yang paham maksud Tama, langsung bergegas membuka box tersebut

Deg

Entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat saat melihat isi yang ada didalam box itu

"Lo dapet foto foto dari mana anjing!"

Tama mendekatan kursinya kearah Dio, mengambil salah satu bingkai foto yang ada didalam box, bingkai foto yang menampilkan foto 3 anak SMA zaman dahulu

Menuding satu per satu foto dari ketiga "Ini kakak gue, Kak Tiwi dan ini Kak Nia sama Kak Angga, alias papa mama lo"

Meskipun Dio sesikit terkejut, tapi ia tetap terus menyimak ucapan Tama dengan seksama

Tama kembali mengambil foto foto yang ada didalam box, menunjukkan kearah Dio "Ini foto foto Kakak gue sama papa lo dulu"

Tama berusaha bicara, namun setiap kata yang ingin terucap selalu berubah menjadi kenangan tentang seseorang yang pernah begitu berarti, ia terpaksa membuka luka lama ini

Tama menghembuskan nafasnya perlahan "Mereka bertiga itu sahabat dari kecil karena rumahnya tetanggaan, dari SD, SMP sampe ke SMA sekolahan mereka sama, Kakak gue dan Kak Angga mulai pacaran waktu mereka duduk dibangku SMP"

"Lo sendiri tau kan, kalo lo itu bukan anak kandung dari kak Angga" Dio hanya mengangguk guna untuk menanggapi ucapan Tama

Tama menujukan sebuah foto kecil ke arah Dio "Itu pacar Kak Nia dan sekaligus papa kandung lo"

Dio menatap foto tersebut dalam dalam, foto laki-laki itu sama dengan foto orang yang sempat ia lihat dikamar mama nya dulu, ia baru paham sekarang kenapa foto itu ada dikamar mama nya

"Gue ngga tau siapa namanya tapi yang jelas, Kak Nia mabuk mabukan dan tidur berdua sama pacarnya sampe dia hamil lo" Dio tetap terus menyimak mesti kini nafas nya terasa tercekat menerima fakta baru itu "Setelah pacarnya Kak Nia tau kalo Kak Nia hamil, dia kabur ngga tau kemana karena dia ngga mau tanggung jawab"

"Karena dia ngga mau tanggung jawab, kedua orangtua Kak Nia minta Kak Angga nikahin Kak Nia buat pengganti ayah dari anak itu, Kak Angga udah nolak dan bilang kalo di pacaran sama Kakak gue tapi karena orangtua Kak Angga yang terus terusan maksa Kak Angga buat nikah sama kak Nia juga, alhasil pun mereka bener bener nikah diusia yang masih sekitar 15 sampe 16 tahun"

"Satu hari setelah mereka nikah, kedua orangtua Kak Nia meninggal karena kecelakaan, dan mereka mutusin buat pindah keluar kota karena Kak Nia sedih berlarut larut"

"Tapi mereka seolah olah ngga peduli sama keadaan Kakak gue waktu itu, kakak gue down parah karena tau kalo Kak Angga nya mau nikahin Kak Nia, Kakak gue udah ngemis ngemis sama Kak Nia buat ganti orang biar jangan kak Angga yang tanggung jawab, tapi Kak Nia sama sekali ngga ngegubris permintaan Kakak gue, padahal disitu Kak Nia sendiri tau kalo mereka berdua pacaran sejak mereka SMP"

"Setelah Kak Angga sekeluarga dan Kak Nia pindah, mereka semua ganti nomer seolah olah biar Kakak gue ngga bisa ngehubungin mereka"

"Setelah kejadian itu, Kakak gue ngga mau berangkat sekolah, ngga mau makan, ngga mau keluar kamar bahkan dia ngga mau bicara sama gue dan mama papa gue, waktu itu umur gue masih 10 tahun, gue belum terlalu ngerti sama keadaan kakak gue, gue coba masuk kedalam kamar dia—" Tama menggantung ucapannya, ia membuka belahan yang ada di rambutnya untuk menunjukkan luka bekas jahitan kepada Dio "Tapi waktu gue masuk, kakak gue nge-lempar botol parfum kearah kepala gue, sejak saat itu gue dilarang masuk kekamar Kakak gue"

"Dua tahun berlalu, keadaan Kakak gue semakin parah, awal nya papa mau bawa Kakak gue ke rumah sakit jiwa tapi mama nolak, jadi mereka kadang cuma ngundang psikiater dateng kerumah"

"Setiap gue ngedeket kekamar kakak gue, gue selalu denger kakak gue bilang aku benci Nia, anaknya dan Angga dia bilang kaya gitu terus terusan. Disitu rasanya gue pengen peluk kakak gue, gue pengen bilang ke dia kalo mereka ngga pantes ngebuat Kakak gue kaya gini"

"Suatu hari, waktu gue pulang sekolah, rumah gue udah banyak polisi" Tama menghentikan bicaranya, ia tersenyum getir saat mengingat masa masa itu, ia melipat bibirnya kedalam sebelum kembali melanjutkan cerita nya "Kakak gue nyerang papa, mama gue pake pisau sampe mereka meninggal dunia"

"Kakak gue ngga dipenjara karena polisi tau keadaan kejiwaan kakak gue, tapi mereka bawa kakak gue ke rumah sakit jiwa"

"Gue ikut nganterin kakak gue kerumah sakit dan itu waktu dimana gue ngeliat keadaan dia setelah ngga liat dia selama dua tahun penuh tapi itu juga jadi terakhir kali gue ngeliat Kakak gue ada di dunia, Kakak gue mutusin buat bunuh diri waktu dirumah sakit jiwa"

.
.
.

To be continued
Sekali lagi, jangan lupa tap vote dan share readers!

 D'amourCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang