49. Sakit

494 39 3
                                        

HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it

Setelah kurang lebih 5 jam berada di pantai, kini mereka memutuskan untuk segera pulang. Mereka benar benar sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat

Kini, Farel dan Dio memutuskan untuk berboncengan

"Dingin"

Dio yang mendengar itu langsung tersenyum dengan bibir melengkung kebawah "Terus kenapa kalo dingin?"

"Perlu di peluk"

"Ntar mereka tau"

Farel menarik salah satu tangan Dio agar melingkari di perutnya, ia mengelus ngelus tangan Dio lembut "Gapapa, biar tau"

Dio tersenyum tipis, ia tidak menyangka sama sekali hal seperti ini akan terjadi dalam hidup nya, padahal ia tidak punya bayangan akan berpacaran dengan Farel

"Masih rada canggung gue kaya gini sama lo"

Farel yang mendengar ucapan Dio tersebut, tertawa kecil "Kenapa canggung?"

"Gimana engga, gue bisa pacaran sama orang yang gue suka selama tiga tahun lebih"

Mendengar itu, Farel semakin tertawa "Lo jujur banget ya"

Awalnya semua terasa baik baik saja

Farel menarik napas agak dalam. Dadanya terasa sedikit berat, tapi ia mengabaikannya
Paling karna capek, pikir nya

Ia tetap melaju

Beberapa meter kemudian, rasa tidak nyaman itu datang lagi, lebih kuat. Napasnya terasa sempit

Sesak itu tak pergi. Justru menjalar, kepalanya terasa ringan, seperti ditekan dari dalam. Keringat dingin mulai turun di lehernya

Tangannya sedikit gemetar di setang

Farel menelan ludah, berusaha untuk tetap tenang
Masih aman... masih aman

Namun perlahan pandangan Farel kabur

"Rel, lo gapapa? Badan lo tegang banget" tanya Dio saat merasa gelagat Farel sangat aneh

"Engga.... Gapapa, gue aman"

Ia memaksakan diri. Tapi napasnya kini pendek pendek, dadanya terasa nyeri setiap kali menarik udara. Tanpa sadar ia meremas tangan Dio yang melingkar di perut nya dengan kuat

Keringat dingin merembes di pelipisnya meski udara malam terasa sejuk

Farel menggeleng nggelengkan kepalanya, berharap rasa pening di kepalanya segera hilang

Numun pandangan Farel semakin kabur. Jantung nya berdebar tak beraturan

Setang motor bergetar pelan

"Rel! kenapa?"

"Nepi dulu nepi"

Dio sekarang benar benar panik dengan keadaan Farel yang seperti sedang tidak baik baik saja, ia takut jika anak itu memaksakan malah akan menjadi bahaya untuk mereka

Motor mulai oleng, Farel sepertinya tidak mendengar ucapan Dio

"FAREL! HEI, LIAT DEPAN!" teriak Dio panik sembari menepuk nepuk pundak Farel keras

Farel mencoba mengerahkan sisa tenaganya untuk menghindari pembatas jalan yang ada tepat di depan, tapi tubuhnya tak lagi menurut. Setang terlepas dari kendali

Brak!

Dalam sekejap, motor tergelincir

Mereka terjatuh ke sisi jalan. Suara benturan keras membuat teman teman mereka yang berada barisan depan menoleh

 D'amourCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang