54. Cium bibir

425 40 3
                                        

HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it

Farel menarik napas pelan sebelum akhirnya bicara. Tatapannya jatuh ke Dio tenang, lembut, seolah sedang menimbang setiap kata agar tak melukai. Dengan suara yang dijaga tetap rendah, Farel mengaku bahwa kebohongannya soal nge-club bukan tanpa alasan

"Gue boong soal nge-club itu karena sebenernya gue ngikutin lo diem diem. Bukan karena gue nggak percaya, tapi karena gue belum siap jelasin posisi gue waktu itu dan ngga mau lo ngerasa gue berlebihan. Jujur, pikiran gue sempat ke mana mana saat ngebayangin lo mabuk sama temen temen lo, dan perasaan itu masih belum sepenuhnya bisa gue lepas"

Saat kata-kata itu berakhir, tatapannya tak berpaling, tetap hangat, berharap Dio mengerti, bukan memaafkan

Dio menatap Farel dalam dalam, ia melihat tidak ada kebohongan sedikitpun di matanya, terlihat sangat yakin dan jujur. Ia menarik nafas nya dan menghembuskannya secara perlahan, ia mengangguk. Ia percaya dengan penjelasan Farel

"Kok bisa ada Hera disana?"

"Gini...

Flashback On

Farel menatap Dio dan teman-temannya dengan sorot mata mengintimidasi. Dari tempatnya duduk, ia tak bisa mendengar apa yang sedang Dio bicarakan dengan gadis di sebelahnya, namun entah kenapa hal itu cukup untuk membuat darahnya mendidih

"Awas aja sampai macam-macam, gue seret pulang," gumamnya pelan, tanpa melepaskan pandangan dari Dio

"Farel?"

Tatapan Farel teralihkan pada seseorang yang baru saja memanggil namanya. Ia menoleh dengan ekspresi tak begitu senang. Hera.

"Kamu ngapain di sini?" tanyanya Hera dengan lembut

"Tempat umum, euy," jawab Farel santai

Rasa tak suka Farel bertambah saat Hera justru duduk di sampingnya. Ia segera menggeser tubuhnya, menciptakan jarak agar mereka tak terlihat terlalu dekat

Dengan perasaan kesal, Farel meneguk minuman beralkohol di tangannya. "Ada urusan apa?"

Hera menggeleng kecil "Nggak ada. Aku cuma pengen duduk di samping kamu aja."

Hera menunduk, memainkan jari-jarinya sendiri. Hera tak berani menatap Farel yang jelas tak suka kehadirannya

"Aku belum mau putus, Rel..."

Farel menyenderkan tubuhnya di sofa, menatap Hera dengan jengah. Menghembuskan nafasnya berat "Ini harus berapa kali gue bilang?"

"Tapi aku ngga mau, aku masih sayang kamu..."

Farel menghela napas kasar. "Her, gue lagi ngga mau bahas—"

Belum sempat kalimatnya selesai, Hera tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. Bibir itu singgah untuk beberapa detik di bibir Farel

Semua terjadi terlalu cepat

Farel membeku sesaat, matanya membelalak. Detik berikutnya, ia langsung mendorong bahu Hera menjauh dengan refleks. Tubuh Hera terhembas sedikit jauh dari Farel dan suasana di antara mereka mendadak dingin

"Anjing apaan sih lo?!" hardik Farel pelan namun tajam. Rahangnya mengeras, sorot matanya jelas menunjukkan ketidaksukaan

Hera terkejut, wajahnya langsung pucat. "Rel... aku cuma—"

"Di diemin malah ngelunjak ya lo" potong Farel cepat. Ia berdiri, menatap Hera dengan emosi yang tertahan "Murahan"

"Eh sorry nyela, ada apa ribut ribut sama pacar gue bang?"

 D'amourCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang