HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it
Dari teman teman yang lain, Dio di antar pulang oleh Fatir paling terakhir. Padahal sempat melewati depan rumahnya namun Fatir memilih untuk memulangkan Ilyas lebih dulu. Emang bangsat
Saat ia masuk ke dalam pekarangan rumahnya, terpampanglah mobil Farel yang terparkir rapi disana
Dio berjalan santai masuk ke dalam rumah dengan kondisi lampu yang remang remang. Ia membuka pintu hingga berbunyi ceklek...
Iris matanya sempat bertemu dengan Farel untuk sesaat, sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah lain
"Kenapa lo ngga ngabarin gue kalo otw pulang?"
Dio tidak langsung menjawab, memang benar jika Farel sudah berpesan kepada Dio untuk mengirimi anak itu pesan jika mau otw pulang. Karna Farel akan datang ke rumah Dio jika Dio sudah pulang ke rumah
"Lupa" Dio melepaskan baju nya guna untuk mengganti baju yang lebih nyaman untuk tidur "Lagian lo juga tau kalo gue udah pulang kan?"
Setelah selesai mengganti baju, Dio berjalan mendekat ke arah Farel, merebahkan tubuhnya di atas ranjang "Lo dari rumah atau dari mana?"
"Dari rumah"
Dio memejamkan mata, mengambil nafasnya dalam dalam setelah itu terkekeh. Tapi di balik itu semua, Dio tak bisa menahan rasa kecewa yang datang dengan sendirinya, Farel berbohong
Dari posisinya yang berbaring, Dio mengamati Farel tanpa berkata apa apa. Tidak ada suara selain detak waktu yang berjalan pelan
Merasa ditatap, Farel mengalihkan pandangan dari hp nya untuk beralih menatap Dio "Kenapa?"
"Menurut sudut pandang lo, ciuman itu sekadar buat siapa aja, atau sesuatu yang cuma pantes buat orang yang lo sayang?"
Farel diam, mencoba memikirkan sesuatu yang pas. Ia tersenyum tipis dan menatap Dio dengan lembut "Menurut gue, ciuman itu bisa ke siapa aja. Di umur gue sekarang, itu udah jadi hal biasa, nggak selalu soal sayang" Farel merebahkan tubuh nya disamping Dio, memposisikan kedua tangannya di bawah kepala guna untuk menjadi bantal "Itu pemikiran gue sebelum pacaran sama lo, sekarang, karna gue udah punya orang yang gue sayang, ciuman cuma berhak gue kasih ke orang yang gue sayang, ...lo orangnya"
"Bullshit, Rel" tangan Dio bergerak pelan, mengambil hp di balik sakunya, memperhatikan foto Farel dengan Hera yang sedang berciuman di bawah germelak lampu diskotik
Benar. Orang yang ia lihat di Club tadi adalah Hera, ia tak tau kenapa Farel bisa berada di sana, apalagi bersama Hera. Tapi yang jelas Farel sudah berbohong kepadanya
Dio menunjukkan foto tersebut kepada Farel, melihat reaksi terkejut dari yang katanya pacar-nya itu, Dio hanya tersenyum tipis. Ia kembali menyimpan hp tersebut
Dio berdiri dari tidur nya "Lo tidur sini aja, gue mau ke kamar Ma—"
Tangan Farel mencerah Dio untuk pergi "Yo, bentar, dengerin dulu penjelasan gue"
"Penjelasan yang gimana?" tanya Dio mencoba berbicara dengan nada setenang mungkin, ia harus bisa mengontrol emosinya "Yang lo boong katanya dari rumah tapi ternyata ke Club itu?"
Suara Farel tertahan, tidak langsung menjawab pertanyaan Dio "Iya, gue akuin emang gue boong soal itu tapi bukan karena gue jalan sama Hera, Yo"
"Bukan gue yang mau ci—"
"Gapapa, Rel..." Dio menepuk pundak Farel dua kali setelah itu berjalan perlahan ke arah pintu "Gue cuma kaget aja, nanti lama lama juga lupa"
Farel kembali menghentikan langkah Dio dengan cara menghadang di depannya "Gue ngga bakal ngelak sama kesalahan gue tapi gue juga ngga bakal nge-iyain prasangka lo. Gue tau keadaan lo sekarang ngga cuma kaget aja, tapi juga sedih, marah, dan kecewa sama gue. Marah sama gue gapapa"
Dio sedikit menundukkan kepalanya, Dia tidak langsung menjawab, bukan karena tidak mau jujur, tapi karena takut. Takut kata katanya nanti berubah jadi amarah yang berlebihan. Dio mengepalkan tangan di saku "Gue nggak mau marah. Nanti gue kebablasan"
"Terus?" Farel menatap Dio dalam, matanya sedikit berair "Lo pikir ini lebih baik? Gue malah ngerasa lo nggak peduli"
Dio akhirnya menatap Farel penuh "Gue peduli. Justru karena itu gue lebih milih diem daripada marah, apalagi sama orang yang gue sayang"
Farel menggeleng, senyum pahit tersungging.
"Gue lebih sakit kalo lo diem. Gue lebih milih lo marah, teriak, luapin semuanya ke gue. Setidaknya gue tau apa yang lo rasain"
Hening jatuh di antara mereka.
"Gue tipe orang yang nyimpen perasaan gue sendiri," kata Dio pelan. "Gue mikir kalo gue tahan, orang lain ngga bakal ngerasa sakit"
Farel mengusap matanya cepat cepat "Tapi gue bukan orang lain, gue pacar lo, Yo. Gue mau lo jujur, bukan lo pura pura gapapa"
Dio menelan ludah. Ada retakan kecil di dinding yang selama ini dia bangun "Gue cuma takut kehilangan lo," katanya akhirnya
"Dulu juga gitu," kata Farel pelan. "Lo milih diem daripada jujur kalo sebenernya lo suka sama gue. Dan akhirnya... lo kehilangan kesempatan itu"
Grep
Farel menarik napas panjang, lalu memeluk Dio erat "Yo, lo bakal kehilangan gue kalo lo terus diem"
Mereka membiarkan posisi seperti itu untuk benerapa men
Mereka membiarkan pelukan itu berlangsung selama beberapa menit. Tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka
Farel melepaskan pelukannya secara perlahan, memegang bahu Dio dan menatap nya dengan lembut "Gapapa.. luapin semua, Yo. Tapi tolong setelah itu dengerin penjelasan gue, ya"
Suasana sempat hening untuk beberapa menit sebelum Dio memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya
"Rel, gue sakit hati banget tadi pas liat itu. Sampe mau megang HP aja tangan gue gemetar karena ngga nyangka sama apa yang gue liat.
Ini bukan pertama kali gue liat lo ciuman sama Hera, tapi yang kali ini rasanya beda. Dulu, waktu status kita masih temen, gue ngerasa sakit juga, tapi masih bisa gue tahan.
Sekarang gue pacar lo, Rel. Sakitnya beda. Semua perilaku lo akhir akhir ini bikin gue ngerasa gue di terima, gue jadi suka dan sayang sama lo lebih dari sebelumnya. Jadi pas gue liat kejadian itu, hal yang dulu terasa biasa sekarang jadi nyakitin banget.
Tadi di sana, rasanya gue pengen mukul lo, pengen maki maki lo. Emosi gue campur aduk dan susah dikontrol.
Tapi pas gue udah pulang dan liat muka lo, gue nggak sanggup ngelakuin itu semua
Makanya gue lebih milih buat ngehindar. Kaya yang gue omongin tadi, bukan karena nggak peduli, tapi karena gue sayang sama lo, Rel"
Dio menghentingkan ucapannya sejenak, raut wajah nya terlihat lebih tenang daripada awal tadi
"Tapi setelah gue tenang, gue sadar satu hal, Rel. Ngehindar ternyata bukan solusi. Diem dan menjauh nggak bikin rasa sakit ini ilang, malah bikin semuanya numpuk di gue sendiri
Gue sadar kalau solusi itu harusnya komunikasi. Seberat apa pun, sesakit apa pun, ini perlu diomongin. Karena kalau gue beneran sayang sama lo, gue nggak bisa terus kabur dari masalah ini"
Setelah kalimat itu keluar, suasana jadi hening. Dio terdiam, seakan memberi ruang pada kata katanya sendiri untuk jatuh dan dipahami. Ia menghembuskan napas panjang, seperti baru saja melepaskan beban yang sejak tadi menekan dadanya. Bahunya terasa sedikit lebih ringan, meski hatinya masih nyeri.
Pandangan Dio menunduk, bukan karena ragu, tapi karena lelah. Mengungkapkan semua itu menguras banyak tenaga dan perasaan. Namun di balik rasa sakit yang masih tertinggal, ada kelegaan kecil karena ia memilih jujur dan bertahan, bukan menghindar
.
.
To be continued
Sekali lagi, jangan lupa tap vote dan share readers!
KAMU SEDANG MEMBACA
D'amour
Novela JuvenilCerita ini adalah complicato S2, agar lebih menikmati dan memahami cerita ini maka terlebih dahulu untuk membaca complicato ***** Ini hanya mengisahkan tentang dio si pecinta lego dan Spiderman yang menyimpan perasaan kepada sang sahabat selama hamp...
