HAPPY READING BRO!
Jangan lupa tinggalkan tap vote dan share.
Hope you enjoy it
Dio menarik baju Farel dengan kasar, berusaha menjauhkan tubuh itu dari pintu kamar mandi. Ia sama sekali tidak berniat mengalah.
"Gue yang punya rumah. Gue duluan yang mandi"
Farel mendecak, berusaha mempertahankan posisinya. "Dari mana mana juga, tamu itu harus diutamakan"
"Gue nggak termasuk," balas Dio cepat
Mereka terus saling tarik-menarik, bahu bertabrakan, tangan saling mencengkeram. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mundur. Ego masing masing terlalu tinggi untuk sekadar memberi jalan
Farel menghentikan langkahnya lalu menatap Dio dengan kesal "Kalau gitu, mandi bareng aja"
"Itu malah bikin gue makin nggak mau!"
"Kenapa nggak mau?" tanya Farel dengan nada sedikit meninggi. "Biar selesai bareng, daripada rebutan"
"Justru makanya nggak usah rebutan. Gue duluan aja"
Farel tak menggubris ucapan itu. Ia langsung menarik lengan Dio, menyeretnya masuk ke kamar mandi
"Pemaksaan, anjing. Pemaksaan!" protes Dio
Dio terus meronta, berusaha melepaskan diri dari tarikan Farel. Namun pintu kamar mandi sudah tepat di depan mereka, dan sebelum Dio sempat melawan lebih jauh, Farel sudah lebih dulu menyeretnya masuk
Dio pun terjebak di dalam kamar mandi bersama Farel
"NGGA MAU REL SUMPAH!"
"Gapapa, bentuk nya sama ngapain malu malu"
Brak
Dio membuka pintu kamar mandi dengan kasar, setelah itu segera berlari keluar "Mandi duluan sana"
Farel tertawa puas, menatap Dio dengan jail "Sama pacar sendiri malu malu segala" tangan Farel mengode Dio untuk mendekat "Sini"
Dio mendekat dengan was was, ia tak tau apa yang di pikirkan oleh Farel "Apa?"
Cup
"Babay"
Dio membeku sesaat saat Farel dengan santai mengecup tepat di bibir nya, ia memegang bibir nya, menatap pintu kamar mandi yang telah tertutup dengan tersenyum tipis. Ia tidak bisa menahan rasa salah tingkahnya
Ceklek
Saat pintu kamar mandi kembali terbuka menampilkan Farel dengan senyum licik, ia dengan cepat mengembalikan ekspresi wajahnya
"Cieeee saltingg, Dio sating cieee"
Dio melotot kecil, menatap Fare dengan jengkel "Dih anjing! Siapa yang salting!" Dio mendorong tubuh Farel agar kembali masuk ke kamar mandi
Benar benar mengesalkan
Dapet Dio dengar suara tawa Farel dari dalam kamar mandi. Ia menggeleng nggelengkan kepalanya, tanpa sadar senyum kembali terukir di sudut bibirnya, lucu
***
"Habis balik jadi kumpul kan?" Gama menatap temannya satu persatu, menunggu tanggapan dari mereka
"Harus jadi!" sahut Ilyas cepat
"Gue absen dulu, ngga bisa"
Mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut Dio, mereka menatap Dio dengan tatapan mengintimidasi
"Lah kenapa anjing"
Dio menggelengkan kepalanya "Lagi ngga pengen aja"
Gama menaikkan alisnya. "Lagi nggak pengen?" ulangnya pelan, seolah nyicipin alasan Dio
Ilyas langsung berdiri setengah, nunjuk Dio. "Sejak kapan lo pake hak 'nggak pengen' ke kita?"
"Sejak sekarang" jawab Dio santai
"Napa ngga ikut anjir, galau?" Fatir terus menerus menebak alasan Dio tidak ikut, tapi Dio memutuskan untuk diam dan menatap teman temannya dengan jengah
"Ngga punya alesan lebih, emang lagi ngga pengen aja" Dio bersandar di bangku kelas, memainkan bolpoin, menutup dan membuka. Sekalian menunggu pesan dari Farel yang katanya akan mengiriminya pesan jika sudah keluar kelas
Detik berikutnya pesan tersebut benar benar muncul di hp Dio, sebuah senyuman kecil terukir tanpa kasar
Farel
Sini buruan, Yo. 5 menit ngga nyampe gue samperin
Dio berdiri, menatap teman temannya satu persatu dengan senyum lebar "Mau ah ah dulu" ucap Dio asal bunyi sebelum berlari keluar dari kelas
Teman temannya menatap Dio hingga tak terlihat lagi, setelah itu saling melempar pandang masing masing "Slengekan tu anak" celetuk Fatir
Kembali ke Dio, kini ia berjalan cepat ke arah mobil Farel yang terparkir agak menyendiri di ujung halaman parkiran. Begitu Dio mendekat, kaca mobil Farel sudah turun setengah
"Lama amat," celetuk Farel, tapi sudut bibirnya naik dikit
"Ngomel mulu, baru juga lima menit," balas Dio sambil nyengir
Farel turun dari mobil, berdiri di depan Dio. "Jadi? Balik sekarang atau mau muter dulu?"
"Balik aja," jawab Dio singkat. "Capek."
"Okee sayang"
Tanpa banyak basa-basi, Farel langsung menggenggam tangan Dio, narik halus ke arah pintu penumpang. Gerakannya refleks, seolah itu hal paling normal di dunia.
Dio sempat kaget sebentar, tapi sama sekali tidak protes. Namun belum sempat mereka benar benar masuk—
"Farel!"
Suara itu bikin Dio refleks nengok. Hera berdiri beberapa meter dari mereka, napasnya agak terengah, raut mukanya ragu tapi nekat
"Aku... bisa nebeng nggak?" Hera melirik sekilas ke Dio, lalu balik ke Farel. "Sekalian... aku mau minta maaf soal kemarin, Rel"
Dio langsung merasa genggaman tangan Farel jadi terasa beda. Nalurinya membuat ia pengen menarik kembali tangannya pelan, melepaskan. Tapi sebelum sempat benar benar terlepas
Genggaman itu malah menguat
Farel sama sekali tidak menengok ke arah Hera. Fokusnya tetap ke Dio, ibu jarinya sedikit menekan punggung tangan Dio, seolah tak membiarkan tangan itu terlepas
"Ngga," jawab Farel singkat
Hera terdiam. "Fare—"
"Gue bilang ngga," potong Farel, nadanya dingin, nyaris judes
Akhirnya dia menoleh, tatapannya datar. "Cari tebengan yang lain"
"Tapi aku cuma mau ngomong—"
"Jangan sama gue, gue ngga mau. Cukup lupain dan jalanin hidup lo aja"
Farel buka pintu mobil, masih dengan tangan Dio di genggamannya "Gue lagi buru buru"
Hera mengepalkan tangan, jelas kecewa. "Oke... yaudah"
Dio bisa meresakan jika Hera masih berdiri ditempat bahkan setelah pintu mobil tertutup. Tapi Farel sama sekali tidak peduli. Begitu Dio duduk, Farel ikut masuk, menutup pintu, dan langsung menyalakan mesin
Mobil melaju meninggalkan halaman parkiran
Beberapa detik hening
Dio melirik tangan mereka yang masih saling menggenggam. "Lo... kasar dikit barusan"
Farel nyengir tipis, tapi matanya tetap ke jalan. "Dia butuh denger itu. Nanti ngelunjak"
Dio tidak lagi menjawab. Tapi dia juga sama sekali tidak menarik tangannya juga
.
.
To be continued
Sekali lagi, jangan lupa tap vote dan share readers!
KAMU SEDANG MEMBACA
D'amour
Fiksi RemajaCerita ini adalah complicato S2, agar lebih menikmati dan memahami cerita ini maka terlebih dahulu untuk membaca complicato ***** Ini hanya mengisahkan tentang dio si pecinta lego dan Spiderman yang menyimpan perasaan kepada sang sahabat selama hamp...
