53

21 2 0
                                        

Karina melihat Giselle yakin.

"Iya, aku akan melakukannya. Apapun itu." Kata Karina.

"Baiklah, putuslah dengan Jeno." Kata Giselle dengan santainya.

"APA?!" Teriak Karina dan Jeno bersamaan.

Karina dan Jeno saling melihat lalu kembali melihat Giselle.

"Giselle, kau sedang bercanda kan?" Kata Karina.

"Tidak." Kata Giselle.

"Kalau begitu tidak mungkin kau meminta aku untuk berpisah dengan Jeno." Kata Karina.

"Kenapa tidak mungkin?" Tanya Giselle.

"Karena sejak awal, aku tahu kalau kau selalu mendukung hubungan kami." Kata Karina yakin, Giselle berdehem kecil karena ketahuan.

Sebenarnya Giselle memang hanya bercanda saja. Tapi dia cukup kesal karena dia merasa Karina berubah setelah bertemu dengan Jeno dan semakin terlihat ketika hubungan mereka sudah baik-baik saja.

"Sekarang tidak lagi." Kata Giselle ingin bertahan pada omongannya.

Giselle ingin menunjukkan kekesalannya dengan tegas agar Karina jera dan tidak mengabaikan mereka lagi karena keberadaan Jeno di sisinya.

"Kenapa?" Tanya Karina dengan wajah bingungnya.

"Karena dia merebutmu dari kami!" Teriak Giselle sambil menunjuk dan menatap Jeno tidak suka.

"Aku?" Kata Jeno menunjuk dirinya sendiri.

"Tentu saja, memangnya siapa lagi jika bukan kau?" Kata Giselle.

"Memangnya kenapa? Karina kan calon istriku, kenapa aku tidak boleh merebutnya?" Kata Jeno dengan santainya.

"Tentu saja tidak bisa. Bukan hanya dari ayah dan ibu Karina saja, kau juga harus mendapat restu dari kami." Protes Giselle.

"Memang cukup aneh, tapi aku setuju." Kata Yeji ikut bergabung.

"Aku juga!" Kata Ryujin juga.

Jeno dan Karina saling memandang dengan tatapan aneh mereka.

"Teman-teman, sepertinya tidak harus begitu juga." Kata karina dengan senyum canggungnya.

"Apanya yang tidak harus seperti itu juga? Pokoknya dia harus meminta restu pada kami juga." Protes Somi.

"Tapi..." Kata Karina tertahan oleh Jeno yang segera menggenggam tangan Karina.

"Tidak apa. Jika dengan begitu mereka bisa meresponi ku dengan baik, aku tidak apa." Kata Jeno sambil tersenyum untuk menenangkan Karina.

Jeno mengalihkan pandangan nya melihat mereka bergantian lalu membuang nafas pelan.

"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Jeno pada mereka.

Para anak perempuan saling melirik dengan tatapan penuh arti. Jeno melihat mereka dengan tatapan santainya, tapi beda halnya dengan Karina.

Karina mengerti akan tatapan teman-temannya itu. Tatapan jahil yang hanya muncul jika mereka merencanakan sesuatu hal yang aneh. Karina juga pernah menjadi korban kenakalan mereka.

"Karina, kau tinggal disini." Kata Giselle pada Karina.

"Kau, ikut kami." Kata Giselle pada Jeno sambil menunjukkanya.

Karina cukup khawatir dengan tindakan teman-temannya itu. Jika bukan karena Jeno yang bilang tidak apa dengan itu, mungkin Karina tidak akan membiarkan mereka membawa Jeno pergi.

"Jangan terlalu khawatir dengan itu, mereka tidak akan sampai mencelakai Jeno." kata Mark.

"Aku juga tahu kalau mereka tidak akan mencelakai Jeno. Hanya saja aku khawatir dengan tindakan mereka. Kalian juga tahu betapa anehnya mereka." Kata Karina berhasil mengundang gelak tawa anak laki-laki.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 5 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

From Message To RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang