50 ¦

0 0 0
                                        

"Ayo kita keluar."

Ajakan Komandan meruntuhkan ketenangan. Tidak lagi mengutarakan pertanyaan di kepala, diam saja mengikuti alur perjalanan. Mulut tertutup rapat, tangan sibuk mempersiapkan alat, sementara jantung mulai berdegup dengan cepat. Apa yang akan kami lakukan setelah ini? Apa yang akan terjadi nantinya? Tidak usah dipikirkan. Tidak ada gunanya menerka-nerka masa depan yang tidak pasti. Apapun yang menanti di depan sana, bertahan dan lakukan apa saja untuk tetap hidup.

Aku membersihkan diri dari darah-darah busuk yang menempel di badan. Kubersihkan juga anak kecil yang sudah tidak ada lagi aroma bayinya. Kuberikan empengnya, lebih dulu membungkam mulut kecilnya sebelum keluar dari mobil.

Kami sudah siap. Komandan dengan kapaknya. Kak Bagas dengan pisau di dua tangannya. Kulkas dengan parang dan tasnya. Serta aku dan si kecil dengan pistol di tangan.

Di luar sana ada tiga ekor zombie yang sedang makan besar. Dua di kanan dan satu di depan mobil.

Komandan membuka jendela depan, membunyikan mainan dan tidak ada reaksi apapun. Kulkas pula mengiris telapak tangannya, meneteskan darah segar di tanah dan lagi, tidak ada reaksi. Mereka bahkan tidak menoleh sedikitpun pada suara dan darah yang terus menetes.

Kulkas memberanikan diri membuka pintu mobil, mengeluarkan kakinya lalu turun perlahan. Badannya berhenti sejenak, memperhatikan boss zombie yang tidak peduli dan tidak tertarik dengan daging segarnya. Masih belum yakin dia kemudian mengentakkan kakinya beberapa kali, satu dari tiga zombie melihatnya sejenak kemudian melanjutkan makan besarnya. Benar-benar mengabaikan Kulkas yang sedari tadi haus perhatian.

Dia menoleh ke arah kami, memperlihatkan ibu jarinya pertanda aman.

Kak Bagas kemudian turun, diikuti Komandan lalu aku dan si kecil. Udara luar menyapa senang, sejuk namun bau terasa menyengat. Langit sangat mendung. Warna abu-abunya begitu pekat. Angin yang bertiup menggoyangkan pohon dan berusaha menyingkirkan bau, tapi mustahil. Aroma busuk sudah sangat mendominasi udara.

Kami bergerak cepat menuju klinik tentara yang juga berada di dalam kawasan "asrama tentara". Mungkin saja di sana bisa menemukan kemustahilan. Dari pintu gerbang kawasan asrama ini tidak terlihat bahayanya. Jalanannya sepi dan rapi. Tidak ada satupun manusia yang berserakan di jalan. Tidak ada sedikitpun coretan-coretan dari cat merah. Hanya pohon rindang dan daun-daunnya yang berguguran tertiup angin kencang. Layaknya kawasan elit yang sangat ketat aturannya. Padahal zombie-zombie tadi berdatangan dari dalam.

Udara sejuk. Angin bertiup kencang. Langit menghitam, tanda akan hujan. Kaki sudah berhenti tepat di depan pintu klinik yang tertutup rapat. Kak Bagas mengetuk pintu. Sangat sopan. Mungkin saja di dalam ada zombienya.

5 detik berlalu, dia kembali mengetuk. Sama, tidak ada yang menjawab. Dia lalu membuka pintu perlahan. Gelap dan bau. Bau busuk dari dalam membuat kami menutup hidung dan berpaling.

Kak Bagas menyalakan senternya sambil menahan napas. Kami bertiga melihat saja saat dia masuk dua langkah, menyenter ruangan lalu kembali mundur dan menutup pintu dengan cepat.

Kenapa? Tanya kami melalui pikiran.

Komandan dan Kulkas penasaran. Kulkas mengambil senter dan hendak membuka pintu, tapi ditahan olehnya. Dia menggeleng, mengatakan kami harus pergi, tapi mereka berdua nekat. Akupun penasaran juga.

"Jangan masuk. Liat dari sini aja," henti kak Bagas menahan Kulkas.

Dia mengambil alih senter, membuka lebar pintu. Disenternya ruangan gelap yang ternyata banyak penghuninya. Mereka tidak bergerak, malah terlihat seperti sedang tidur.

"Perhatikan."

Bergerak. Mereka semua bergerak.

"Ayo pergi," ajak kak Bagas setelah menutup pintu di tengah kakunya badan kami bertiga. Dia menarikku untuk sadar. Menyadari kami harus segera pergi, aku berlari mendahului mereka yang masih saja di depan pintu. Ntah apa yang sedang mereka bicarakan. Padahal tadi kak Bagas sudah menarikku untuk pergi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 7 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

neWorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang