Amanda memegang mug berisikan cokelat panas itu pelan-pelan seraya memutar-mutar sisi mug tersebut agar panas dari cokelat itu menyalur ke tangan nya yang begitu dingin. Ia tidak tahu bahwa suhu di daerah ini akan sedingin ini, namun memakai baju hangat pun juga membuat diri nya merasa tidak nyaman.
"Cause my heart breaks a little when I hear your name..." ujar nya mengikuti nyanyian yang kini di putar di salah satu channel televisi swasta itu.
Drrt drrt
Manda mengecilkan volume televisi nya dan meraih handphone nya yang terletak di atas meja nakas. Mata nya sedikit melebar begitu melihat ada satu notifikasi yang masuk ke handphone nya.
Marchilleo: lari, lari dan lari. Hanya itu yg bisa kamu lakukan?
Amanda memejamkan mata nya, ia merapal kan kalimat dia tidak mengerti berulang-ulang di dalam hati. Memang benar, tidak ada satu pun hal yang dapat pria itu mengerti mengenai hidup nya. Akan berbeda cerita jika saja ia kekasih sungguhan pria itu, sungguh akan berbeda cerita jika seperti itu ada nya. Tapi apa ini? Permainan macam apa yang coba pria itu lakukan?
Jika saja pria itu menyadari, bahwa sebenarnya seluruh yang ia lakukan hanya memiliki satu tujuan. Hanya ada satu poros, bagai bumi yang hanya mengelilingi matahari, diri nya hanya berporos pada pria itu, namun sayang nya pria itu terlalu sibuk akan dunia nya. Pria itu hanya tidak mengerti atau mungkin, memang ia tidak pernah mau untuk mengerti.
Jika ia bisa menjawab satu persatu pertanyaan di dalam benak nya, maka hanya akan memiliki satu jawaban. Hanya ada satu.
Bodoh? Sejak awal diri nya memikirkan hal ini saja, ia sudah begitu bodoh. Pria itu bukan apa-apa di dalam hidup nya, begitu pula arti diri nya di dalam hidup pria itu.
Dan di situ lah masalah nya, mereka terlalu sibuk dengan dunia nya masing-masing. Amanda dengan segala pikiran nya untuk menghilang dan tak terjangkau, kemudian Chilleo dengan pemikiran yang ingin menjauh namun justru membuat nya tercekik dalam sudut gelap hati nya sendiri.
Tanpa pernah mereka berpikir, mungkin kah mereka saling membutuhkan dan merindukan satu sama lain dalam... diam?
•
"Aku akhir-akhir ini kenapa susah banget buat hubungin Manda ya, Dan?" tanya Maura pelan kemudian meminum susu hamil cokelat nya yang terasa begitu hangat.
Daniel lantas teringat akan ucapan Chilleo tempo hari, namun mengingat bagaimana lemah nya kondisi tubuh Maura membuat Daniel harus berpikir ulang untuk menceritakan semua nya. "Kamu udah coba telefon atau sms dia?" tanya Daniel pelan seraya mengambil alih gelas susu dari tangan Maura dan meletakan nya di atas nakas.
Maura mengangguk, "Aku merasa ada yang salah, dia berubah dan aku khawatir. Aku tidak bisa melihat dia muram namun aku juga tidak bisa melakukan apapun untuk dia. Aku adalah kakak nya, tapi nggak ada satu pun yang bisa aku lakukan untuk adik aku sendiri Dan. Aku benar-benar..." Maura tidak bisa melanjutkan ucapan nya. Airmata nya kembali keluar lagi, bayangan wajah terakhir kali yang ia lihat... Bayangan wajah yang, ia bersumpah, adalah bayangan wajah yang tidak ingin ia dapati lagi di wajah adik bungsu nya itu begitu menyakitkan.
Daniel meremas tangan istri nya pelan, "Aku tahu, tapi mungkin dia seperti ini agar kamu tidak terlalu mengkhawatirkan dia. Kamu tahu bagaimana karakter dia, aku percaya dia bisa menjaga diri nya sendiri. Aku tahu kamu khawatir atau kamu cemas dengan dia, tapi aku juga yakin dia tidak akan senang melihat kamu yang seperti ini." jelas Daniel seraya menghapus airmata itu dengan kedua ibu jari nya.
Satu hal yang sedang terlintas di pikiran nya, ia harus cepat menemukan adik ipar nya dan sesegera mungkin mempertemukan dia dengan Maura. Hanya itu satu-satu nya cara untuk membuat Maura berhenti untuk cemas dan memiliki pikiran-pikiran buruk yang akan berdampak tidak baik pula untuk kandungan nya.
"Aku janji, aku akan coba hubungin dia untuk kamu. Dia mungkin hanya sedang sibuk, kamu tahu dia begitu bersemangat di pekerjaan nya, bukan?" ujar Daniel pelan.
Maafkan aku, ujar Daniel dalam hati seraya tersenyum lirih melihat kerapuhan di balik mata jernih istri nya.
Wanita ini harus bahagia, karena wanita seperti dia tidak pantas untuk menangis dan di sakiti.
•
"Kamu mau makan apa? Mama sedang membuat cookies, kamu mau?" tanya Ashley kepada Carlotte yang duduk di kursi meja makan dan masih tampak mengantuk. "Aku mau sereal, Ma. Bibi baru membelikan nya di supermarket." ujar Carlotte dengan suara serak nya.
Ashley membuka oven dan dengan perlahan mengeluarkan loyang berisi cookies-cookies dan meletakan nya di sebelah oven. "Oke, kamu tidak ada acara hari ini?" tanya Ashley seraya memasukan cookies-cookies itu ke dalam toples ber-aneka warna itu.
Carlotte menggeleng. "I'm free Ma. Mama mau jalan-jalan?" ujar Carlotte seraya mengambil satu lembar roti dan langsung memakan nya.
"Hari ini Mama mau ke salah satu butik teman Mama untuk mengambil baju yang akan Papa dan Mama kenakan di salah satu event, minggu depan. Kamu mau menemani Mama?" tanya Ashley seraya melepas apron nya dan membereskan loyang-loyang serta adonan-adonan yang berserakan.
"Oke," jawab Carlotte pelan.
•
Ashley mendorong pintu gedung tinggi itu pelan, namun tetap menimbulkan bunyi yang sedikit keras hingga beberapa karyawati menghampiri ia dan Carlotte yang tampak menawan dengan gaun selutut yang masih satu model dengan nya. "Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" sapa salah satu karyawati kepada mereka.
Ashley tersenyum lembut, "Aku sudah mempunyai janji dengan Adam, bisa aku menemui nya?"
Karyawati tersebut langsung menatap teman nya untuk segera menghubungi Adam, pemilik sekaligus teman dekat Joan selama di bangku perkuliahan di Negeri Paman Sam. "Silahkan bisa menunggu di sini, Pak Adam sedang di hubungi karena kebetulan beliau tidak ada di tempat saat ini." ujar karyawati itu pelan seraya membawa Ashley dan Carlotte untuk duduk di bangku berwarna putih gading itu.
"Astaga, Nyonya Guerra," ujar seseorang dari arah pintu masuk.
Ashley kemudian bangkit dan tersenyum ke arah Adam yang tampak fashionable di usia nya yang sudah melewati angka lima itu. "Hai, Adam. Apa kamu benar-benar sibuk?" tanya Ashley seraya menjabat tangan Adam.
Adam tersenyum lebar. "Oh aku hampir saja melupakan janji kita hari ini jika saja karyawan ku tidak menghubungi ku. Bagaimana jika kita langsung melihat baju untuk mu dan Joan?" tanya Adam seraya memberi jalan untuk mereka berdua.
"Oke," ujar Ashley seraya menarik halus tangan putri bungsu nya.
"Maaf Pak, ada yang mencari Bapak di meja depan. Ada sedikit masalah," ujar salah satu karyawati nya.
"Suruh saja kemari, An." ujar Adam seraya menatap Ashley meminta maaf. "Oke, aku tidak terburu-buru juga. Iya kan sayang?" tanya Ashley yang di balas anggukan oleh Carlotte.
"Maaf Pak Adam, saya ingin mengambil baju pesanan teman saya namun saya lupa untuk meminta struk pembayaran." ucap seorang wanita cantik dengan balutan dress biru laut yang tampak manis dengan kulit putih susu nya.
"Sebenarnya bisa saja, asal saya bisa menghubungi teman Anda Nona, siapa nama teman Anda?" tanya Adam seraya meminta buku catatan di Anna, karyawati nya.
"Arini, Arini Subantoro." ujar wanita itu pelan.
Adam terlihat meneliti buku nya lamat-lamat hingga kepala nya kembali mendongak, "Nama itu ada di salah satu daftar pemesanan. Oke, anda bisa mengambil nya. Siapa nama Anda? Untuk di tuliskan di nota yang akan Anda bawa bersama dengan pesanan baju itu. Tentu nya ketika saya sudah menghubungi teman Anda."
Ashley dan Carlotte masih mengamati bagaimana Adam memperlakukan pelanggan nya dengan bijaksana. Hingga Carlotte mengubah raut muka nya begitu satu nama itu terucap dari wanita cantik di hadapan nya. Ini jauh dari ekspetasi nya, benar-benar jauh.
"Nama saya Agairana Amanda."
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agairana Amanda
RomanceAmanda mencintai Daniel, Daniel memilih Maura, dan Amanda menyayangi Maura. Diri nya saat ini hanya sedang berputar di lingkaran cinta yang tidak berujung, diri nya hanya perlu untuk keluar dan membiarkan mereka untuk bahagia. Dan terlebih, kini dir...
