Manda terdiam di depan televisi dengan posisi kini tangan nya menggenggam segelas es sirup yang bagian gelas nya kini telah berembun akibat air dingin tanpa es batu yang sedari tadi masih utuh di tangan pembuat nya. Hingga sebuah ketukan di pintu nya, membuat Manda mematikan televisi nya dan meletakan gelas nya di atas meja sebelum beranjak dan membuka pintu nya.
"Rumah nya Mbak Amanda?" suara pria berusia sekitar setengah abad dengan pakaian serba hitam itu membuat Manda mengangguk. Dan priaㅡatau sepantas nya ia panggil Bapak, agar lebih sopanㅡitu tersenyum lega.
"Saya di suruh Mas Leo untuk jemput Mbak, ada yang bisa di bantu untuk di bawakan?" tanya nya ramah.
Manda menggeleng. "Nggak ada, Pak. Maaf sudah bikin repot," ujar Manda pelan setengah menggumam kemudian menyunggingkan senyum kecil di bibir nya.
"Nggak kok, Mbak. Mari," ajak Bapak itu seraya berjalan terlebih dulu untuk menuju mobil, sementara Manda mengambil tas dan mengunci pintu, Bapak itu membukakan pintu untuk diri nya.
Begitu selesai, Manda berjalan ke arah mobil silver itu seraya membenarkan letak tas nya. "Silahkan, Mbak..." ucap Bapak itu kemudian.
Manda langsung terpaku di tempat nya begitu menemukan sosok laki-laki lengkap dengan kemeja putih dan dasi berwarna hitam yang terlihat rapi di tubuh nya. Jangan lupakan rambut setengah basah nya, ditambah lagi senyuman kecil yang kini ada di bibir nya.
"Sampai kapan kamu akan berdiri di sana? Tenang, saya nggak nyakar, kok." seloroh nya pelan yang langsung membuat Bapak yang kini berada di sebelah nya itu tertawa kecil. "Masuk aja, Mbak..." jawab Bapak itu menimpali.
"Tuh," jawab Chilleo yakin. "Kalau saya nyakar, Pak Hamid udah nggak bisa ngetuk pintu rumah kamu tadi."
Semakin malu lah, diri nya saat ini. Akhirnya dengan setengah hati, diri nya masuk dan memposisikan diri nya dengan baik, setelah mengucapkan terimakasih kepada Bapak yang ternyata bernama Hamid itu.
Setengah perjalanan dari Bandung, hanya keheningan yang terasa di antara kedua nya. Sayang nya, diam nya Chilleo beralasan. Diri nya sibuk dengan tablet di tangan nyaㅡsedangkan Manda, diri nya sedari tadi hanya mencoba sekuat tenaga untuk menahan rasa gugup nya.
"Langsung ke kantor, Mas?" tanya Pak Hamid yang langsung membuat fokus Chilleo terhenti sejenak untuk mendongak. "Nggak. Ke Penthouse dulu, Pak." jawab Chilleo dan kembali menatap layar tablet nya, seakan-akan mengatakan itu hanyalah mengatakan saya mau makan.
Sedangkan Manda, wanita itu kini terdiam. Menelaah maksud ChilleoㅡPenthouse? Ya ini memang mobil Chilleo, jadi kemana pun mobil ini melaju, pastilah itu menurut keinginan si pemilik. Tetapi, untuk apa ke Penthouse?
"Saya langsung mau service mobil dulu ya, Mas." ujar Hamid begitu sampai dan memakirkan mobil di depan lobby.
Chilleo mengatakan ya, dan setelah itu keluar dan mau tidak mau di ikuti oleh Manda. Bangunan tinggi di hadapan nya, membuat Manda tertegun. Diri nya bukan anak kampung yang merantau di Ibukota, diri nya bahkan menghabiskan masa kecil nya di sini. Tapi, diri nya merasakan hal yang berbeda.
"Ayo masuk. Barang-barang kamu sudah di dalam kamar kamu," ujar Chilleo pelan kemudian berjalan menuju meja resepsionis dan kembali lagi dengan dua kartu kunci di tangan nya. "Kamar kamu nomor 234." jelas Chilleo pelan, dan kemudian berjalan meninggalkan Manda yang terdiam di tempat nya.
•
Manda terhenyak begitu memasuki kamar apartemen yang begitu mewah ini. Gaji sebulan nya pun, seperti nya tidak akan cukup untuk membayar ini. Tangan nya yang sedari tadi membawa tas nya, ia pijit pelan. Barang-barang yang kemarin ia kardusi dan ia kirim melalui JNE, sudah berada di bagian depan kamar ini.
Mata nya langsung menatap ke arah kaca besar di bagian barat kamar ini, menatap lapisan kaca yang kini sudah mulai terkena tetesan air hujan itu lamat-lamat. Hujan, adalah sekian dari banyak nya hal yang masuk ke dalam daftar hal yang paling ia benci. Bukan nya ingin menjadi manusia yang tidak pandai bersyukur, namun diri nya memang tidak menyukai hujan. Hujan membuat kesendirian nya, semakin terasa jelas.
Sendiri, dingin dan sepi. Adalah tiga hal yang diri nya rasakan begitu air hujan mulai turun dan membasahi bumi.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Agairana Amanda
RomanceAmanda mencintai Daniel, Daniel memilih Maura, dan Amanda menyayangi Maura. Diri nya saat ini hanya sedang berputar di lingkaran cinta yang tidak berujung, diri nya hanya perlu untuk keluar dan membiarkan mereka untuk bahagia. Dan terlebih, kini dir...
