PART SPECIAL - Helena&Narendra

19.2K 717 8
                                        

Helena terdiam di atas kasur nya. Besok, adalah keberangkatan nya menuju England. Tiket, segala keperluan nya pun sudah tertata rapi masing-masing di atas nakas dan di samping ranjang besar nya. Namun hati nya sama sekali belum siap, tidak sekarang, tidak besok, atau tidak sampai kapanpun.

Tok tok tok

"Masuk." gumam Helena pelan.

Begitu pintu terbuka, sosok yang berambut hampir seluruh nya berwarna putih itu masuk. Tersenyum dan kemudian menutup pintu. "Kamu sudah selesai berkemas?"

Helena mengangguk. Menggeser duduk nya dan membiarkan Ayah nya untuk duduk di sebelah nya. Setelah itu, tidak ada satupun suara yang terdengar.

Helaan nafas saling bersahutan di ruangan yang begitu luas itu, membuat Dirga, akhirnya membuka suara. "Suatu saat, kamu akan paham dengan semua ini. Ayah cuma ingin kamu bahagia ... Karena sekarang, Ayah cuma punya kamu."

Helena menundukan kepala nya. "Tapi kenapa? Kenapa aku yang harus mengalah dengan semua uang-uang Ayah?" ucap Helena pelan.

Dirga terdiam. "Semua itu buat kamu. Nanti nya, kamu dan suami kamu yang akan memiliki semua ini. Ayah hanya berupaya sekuat Ayah untukㅡ"

"Yah, please ..."

"Len, di sana Ayah punya kenalan anak teman Ayah. Dia lagi ada fashion show di England. Kamu bisa meminta dia untuk menemani kamu berjalan-jalan atau berkeliling kota." ucap Dirga tanpa membahas kembali ucapan putri nya itu.

"Ayah ..."

Lagi-lagi Dirga memotong. "Nama nya Narendra. Pintar, berwawasan luas dan sangat pekerja keras. Dia sudah punya butik besar di Jakarta, nyeleneh sendiri dari kedua kakak nya yang sukses di bidang batubara."

"Ayah aku nggak peduli dengan Naren, butik atau apapun itu! Aku cuma minta untuk di sini, nggak kemana-mana ..."

"Nggak bisa. Len, tolong ... Ayah nggak mau berdebat dengan kamu. Ayah nggak mau, Len. Cuma dua tahun, setelah itu kamu bisa menentukan pilihan kamu. Lagipula kamu masih bisa kembali ke sini satu atau dua minggu, it's okay ..."

"Yah ..."

Dirga beranjak. Mengusap kepala putri nya pelan dan mencium dahi nya. "Ayah berharap banyak pada kamu. Ayah minta maaf ya Len ..."

____

Helena menghembuskan nafas nya pelan dan kembali menatap jam di pergelangan tangan nya. Sudah satu jam, dan Narendra sama sekali belum sampai di sini.

Mereka sudah bertemu. Di tempat fashion show hari ke-tiga nya di gelar. Tidak ada masalah, tidak ada kecanggungan, benar-benar seperti teman lama. Hingga akhir nya mereka saling bertukar nomor telefon.

"Sudah lama?"

Helena mendongak. "Udah, dari jaman Ayah belum nikah sama Ibu!" ucap Helena ketus seraya mengaduk ice cappuccino milik nya yang sudah tidak dingin lagi.

Narendra tertawa. "Lama-lama kamu itu makin lucu ya, Len." ucap Narendra jahil yang langsung membuat Helena sedikit emosi. "Bilang sekali lagi, coba."

"Oke, oke. Maaf ya, saya tadi masih ada urusan buat penutupan galeri baju. Banyak yang harus di persiapkan, contoh nya undangan. Nggak mungkin kan, saya ngundang orang-orang lewat broadcast? Kan nggak sopan."

Helena mengangguk. "Seenggaknya bilang dong, biar aku bisa molor dikit jam nya." ucap Helena dengan setengah kesal.

"Lho, LINE nya sudah saya balas. Kamu nya aja yang belum baca sama sekali."

Agairana AmandaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang