NP: You - Ben [Healer OST]
____
"Kamu nggak niat bercanda kan Le?" tanya Manda pelan begitu mendengar bahwa Chilleo akan membawa nya ke Bandung malam ini.
Tidak, bukan karena rencana tiba-tiba nya atau apapun itu. Tapi yang benar saja, mereka ke Bandung dengan setelan kerja masing-masing dan badan yang penuh dengan keringat akibat bekerja satu hari. Andai Chilleo mengajak nya di hari weekend mungkin ia akan mengangguk pasrah. Tapi iniㅡah, tidak ada guna nya juga jika ia terus mengeluh sementara mobil Chilleo terus melaju membelah malam Jakarta menuju kota Kembang.
"Nggak, serius kok. Kalau nggak serius, aku udah turunin kamu di jalan." jawab Chilleo seraya menatap jalanan yang mulai melengang akibat waktu yang terus mendekati waktu istirahat.
"Nggak lucu tahu nggak." jawab Manda seraya menurunkan jok mobil milik Chilleo sedikit. "Kita mau ngapain di Bandung pake baju penuh keringet gini? Pakai buru-buru segala ... Kita nggak bawa baju juga kan. Ada apa sih?" tanya Manda sedikit kesal.
Chilleo terkekeh pelan tanpa menoleh ke arah Manda, yang di yakini nya sudah menunjukan wajah muram nya. "Kamu tuh yang nggak lucu." timpal Chilleo pelan. "Kita lihat nanti aja. Surprise nggak akan jadi surprise kalau kamu tahu duluan."
Manda menggerutu pelan. Sungguh, saat ini yang di ingin kan oleh diri nya adalah mandi di bawah shower, dan kemudian bergelung di bawah selimut. Terlebih setelah membalas pesan Chilleo sebelum ia keluar dari butik, ia melihat bahwa baterai handphone nya sudah tinggal dua persen.
"Aku nggak bawa charger juga." ucap Manda mengutarakan pemikiran nya barusan.
Chilleo menarik dashboard di depan Manda tanpa menanggalkan pemandangan nya pada jalanan di depan. "Disitu ada charger kan? Di copot dulu aja kepala charger nya, terus tancepin di sini." ucap Chilleo seraya menunjuk asal salah satu colokan, karena memang ia tidak menoleh sama sekali.
Akhirnya, Manda mengambil handphone nya dan melepas kabel USB dari kepala charger nya dan menancapkan kabel itu untuk mengisi kembali baterai handphone nya. Dan setelah itu ia memilih untuk diam, membiarkan Chilleo fokus pada jalan dan memejamkan mata nya.
____
"Yang kosong hanya di lantai lima dan lantai dua belas, Pak." ucap salah satu petugas hotel itu kepada Chilleo. Aku yang sudah begitu mengantuk hanya menyedekapkan lengan ku di atas perut dan memandang sepatu ku yang sangat ingin aku lepaskan saat ini juga.
Chilleo mendecak pelan. Tangan nya menggaruk belakang kepala nya yang tidak gatal. "Nggak ada yang satu lantai?"
Petugas itu menggeleng lemah. Membuat Chilleo akhirnya mengeluarkan kartu ATM nya. "Yaudah, saya ambil yang lantai dua belas aja Mbak. Buat satu malam ya," ucap Chilleo seraya melirik Manda yang seperti nya sudah mengantuk karena sedari tadi kepala nya terus menunduk.
Manda yang tidak terlalu fokus itu hanya menurut ketika tangan nya di tarik halus oleh Chilleo untuk masuk ke dalam lift.
Begitu sampai di depan kamar bernomor 911, Chilleo menempelkan kartu kamar nya dan membuka pintu di hadapan nya perlahan. Mendorong halus punggung Manda agar wanita itu masuk terlebih dahulu.
Namun setelah Chilleo selesai menutup kembali pintu itu dan melepas sepatu nya, Manda menoleh. "Kamu kok di sini?" tanya nya bingung.
"Aku cuma ambil satu kamar, Man. Ya aku kemana lagi emang?"
Mata nya membulat sempurna. "Nggak bisa!" jawab Manda. "Emang nggak ada kamar kosong lagi?"
Chilleo menggaruk pangkal hidung nya. "Ada sih, tapi di lantai lima ..."
"Yaudah, terus masalah nya?" desak Manda lagi. "Kalau kamu nggak mau di sana, biar aku aja yang di sana." ucap Manda seraya berjalan kembali ke arah pintu.
"Nggak-nggak, jauh banget Man dari lantai dua belas ke lantai lima ... Lagian aku nggak bakal ngapa-ngapain kok. Aku tidur di sofa juga nggak masalah," ucap Chilleo cepat.
"Sakit tidur di sofa," ucap Manda tidak setuju. "Nggakpapa, daripada aku kepikiran terus kamu di bawah sana, mending aku tidur di sofa." timpal Chilleo pelan.
"Emang aku bakal kenapa sih? Lagian di sini pake kartu kamar, ada security juga. Apalagi? Aneh banget kamu tuh, di Jakarta juga kita jarak rumah jauh banget kan?"
Chilleo mendesah pelan. Mengeratkan pegangan nya. "Beda." jawab Chilleo pelan. "Udah ya, nggak perlu debat lagi kan? Udah malam ..." bujuk Chilleo seraya melepas pegangan nya. "Aku nggak akan ngapa-ngapain, janji!" ucap Chilleo yakin.
Manda akhirnya mengangguk pasrah. Membiarkan segala keinginan Chilleo. Toh, pria itu sendiri yang mengatakan bahwa mereka tidak akan tidur di satu kasur yang sama.
"Hmm ..." gumam Manda pelan.
____
"Ya sarapan dulu lah, kalau kamu pingsan di jalan gimana? Emang ada yang mau gendong?" ucap Chilleo begitu Manda keukeuh mengatakan bahwa ia tidak perlu sarapan pagi ini.
Manda mendecak. "Le, mending kita selesain urusan kamuㅡatau apapun yang sebenarnya lagi mau kamu lakuin, terus kita balik ke Jakarta."
"Makan dulu." ucap Chilleo mengacuhkan ucapan Manda dan memilih untuk menarik halus tangan nya ke arah salah satu warung makan ayam bakar di sudut kota Bandung. Karena kini percaya atau tidak, mereka berdebat di antara parkiran mobil yang penuh sesak di halaman salah satu warung makan ayam bakar paling ramai di kota Bandung.
"Kamu mau kemana aja hari ini?" tanya Chilleo begitu mereka duduk di atas kursi dan selesai memesan sarapan masing-masing untuk kedua nya.
Manda menaikan alis nya bingung. "Kamu nggak ada planning?" tanya Manda bingung. Jadi, setelah menghabiskan satu malam di kota ini, Chilleo tidak memiliki planning apapun? Astaga, sebenarnya apa yang salah di pikiran Chilleo?
Chilleo mengendikan bahu nya. "Nggak ada." jawab Chilleo lugas.
Manda menghela nafas nya. Sedikit kesal pada Chilleo namun tak urung membuatnya meluapkan itu semua di satu waktu. "Le, beneran ya kamu tuh ... Kalau kamu nggak ada planning apa-apa ya terus kenapa kita harus ke Bandung, nginep segala di hotel ... Ya sekarang kita mau ngapain coba di Bandung? Numpang tidur sama makan? Di Jakarta juga bisa kali, Le." ucap Manda pelan.
"Pertama kita ketemu di mana?" tanya Chilleo pelan. Manda semakin bingung disini, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran pria di hadapan nya? Apa sebelum datang menjemput nya di butik ia terbentur sesuatu?
Semoga saja tidak.
"Bandung."
"Ini first time kan?" tanya Chilleo lagi yang membuat Manda semakin bingung. Sepertinya memang ada yang salah di sini.
"Le, kamu bikin bingung tahu nggak. To the point," ucap Manda tak sabar.
Chilleo tersenyum kecil. Mengambil tangan kanan Manda dan menggenggam nya erat. "Kencan. Kita pertama kali ketemu di Bandung, dan aku mau kita kencan ... untuk yang pertama kali nya, juga di Bandung. Gimana?"
Oh Tuhan ...
Tbc.
Nggak tahu mau ngomong apalagi di author's note ini, kecuali ucapan terimakasihhhh ((bgt,bgt,bgt)) buat yg udah baca, vote dan comment. Ada yg mau baca setelah di php (((nggak nentu update nya))) aja aku udh seneng banget😂😂 thanks a lot!💕💕💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Agairana Amanda
RomanceAmanda mencintai Daniel, Daniel memilih Maura, dan Amanda menyayangi Maura. Diri nya saat ini hanya sedang berputar di lingkaran cinta yang tidak berujung, diri nya hanya perlu untuk keluar dan membiarkan mereka untuk bahagia. Dan terlebih, kini dir...
