Chapter 46

1.7K 77 0
                                    


"HANY!! HANY HILANG!!"

Apa?

Sambil meraba aku mencari kacamataku dan mencari hape. Jam 4 pagi? Sepagi ini sudah terjadi huru hara? Oh. I love my old time.

Dengan masih meraba aku membuka pintu kamar. Belum sepenuhnya terbuka aku sudah ditarik keluar dari kamar dan seseorang mencengkram lenganku dengan sangat erat.

"kamu lihat Hany Jade? Dia tidur sama kamu?!" lalu sebelum aku sempat melihat dengan jelas, aku sudah terlempar ke sudut lorong.

Ada apa ini?!

"pa? Kenapa?" aku mecegat papa yang bertempel telpon rumah.

"sayang. Hany hilang."

What?

Kemudian aku mendengar jeritan histeris Karen memenuhi rumah. Gilang keluar dari kamarku dan berlari ke lantai bawah untuk menyusulnya.

"si kucing salah nama juga hilang."

Aku tak mendengar kucing itu ikut panik.

***

"kamu mikirin apa?"

Aku menoleh dan mendapati Daniel yang memandangku. Berusaha tersenyum tapi kemudian gagal.

"kenapa hari ini mesti hujan deras?" aku menunjuk keluar pos kamling yang sedang kami pakai untuk berteduh. Kenapa harus hujan begini deras?

Tak ada yang tahu jam berapa tepatnya Hany keluar rumah. Yang pasti dia membawa tas sekolahnya yang berisi beberapa potong pakaian dan si kucing salah nama. Karen yang terbangun dan mengecek Hany, melihat tempat tidur itu kosong di jam 4 dini hari.

Setelah melapor ke kantor polisi, tanpa menunggu terang kami berpencar mencari. Papa bersama supir setianya. Gilang tentunya bersama Karen. Bahkan anak kantor juga ikut berpencar mencari. Entah kenapa aku bersama Daniel.

Yang menyebalkan, begitu kami keluar, hujan turun dengan deras.

Apa anak hiperaktif itu bakal baik-baik aja? Dia seharusnya baik-baik aja. Aku tahu betapa bajanya tekad Hany. Sekarang aku juga tahu betapa dramatisirnya dia. Kabur dari rumah? Aku saja yang ditinggal ibu yang menikah lagi, tak sampai kabur dari rumah. Dia malah bukan ibu yang kabur. Ibunya kembali dengan niat baik dan mungkin keluarganya akan kembali utuh dan dia kabur?

"kamu tahu... Hany pasti benar-benar bingung." Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang masih gelap, aku hanya lanjut bicara.

Dia bingung. Aku tahu apa yang dialami Hany. Dia sangat bingung. Sungguh. Korban terberat perceraian adalah anak. Saat suami atau istri bisa move on dan menikah lagi, anak hanya akan mengingat bagaimana orang tuanya bertengkar dan berakhir dengan perceraian.

Bingung kehilangan sosok yang begitu penting dan kemudian, tiba-tiba sosok itu kembali. Tak heran Hany tak mau bicara. Sejak kedatangan Karen, aku tak mendengar Hany bicara satu patahpun. Seluruh rumah menjadi suram karena diamnya Hany.

"kamu nangis." Tersentak. Aku merasakan tangan yang mengusap pipiku.

"Daniel. Aku takut Hany kenapa-kenapa."

"ssst... jangan nangis. Semua orang udah bantu nyari. Sebentar lagi. Sebentar lagi juga bakal ketemu. Kamu jangan nangis."

Aku tak menyangka aku akan merasa kehilangan si anak kecil hiperaktif dengan kucing salah namanya. Bagaimana aku menghabis hari dengan berharap dia menghilang begitu saja? Sekarang aku menarik semua perkataanku tuhan. Lindungi Hany.

Daniel menegakkan badanku dan menyuruhku fokus.

"kita gak bisa disini terus. Ayo. Kita mesti cari Hany lagi."

Melupakan mobil dan payung. Kami berjalan kaki mencari Hany.

Hany, kamu dimana?

***

The Journey of Miss What (completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang