Chapter 45

1.8K 90 0
                                    


Lupakan Jadica. Pura-pura tak melihatnya dan langsung saja lewat. Kamu berhak untuk memilih tak melihatnya. Semua orang boleh memilih siapa yang ingin dilihatnya dan siapa yang tidak kan? Aku juga punya hak itu.

Ya. Aku berhak.

Maka dari itu dengan pede yang begitu berlebihan, aku langsung melintas sambil menggengam kopiku dengan erat.

"Jade." Dia memanggilku bahkan sebelum aku benar-benar melintasinya. Membuatku tepat berhadapan mata dengan yang memanggilku.

"bisa temenin aku makan?" Gilang mengangkat bungkusan yang ditentengnya. Dia terlihat begitu capek. Lingkaran mata dan kemejanya kusut. Jam berapa sekarang? 9. Dia baru mau makan malam?

"aku belum makan dari siang." Apa begitu jelas aku tak ingin menemaninya makan? Kenapa aku harus menemaninya makan? Dia bisa pulang dan ditemani istrinya. Dia juga tak menghabiskan sarapan. What?

Oke. Aku melihatnya. Tak heran istrinya memplototiku. Baik. Aku kuakui.

Sebagai jawaban aku mengambil bungkusan makanan yang dibawanya. Tapi saat aku baru akan kembali melangkah, dia menahanku.

"aku gak mau makan di kantor."

Kemudian dia menyeretku ke lift.

***

Melihat pemandangan malam kota dari lantai kantorku saja sudah menakjubkan. Apalagi melihatnya dari lantai tertinggi. Meski anginnya sedikit kencang untuk seleraku. Kurasa ini tak buruk.

Gilang menyeretku ke roof top gedung. Duduk di pinggiran salah satu dinding dan membiarkan kaki kami bergantung bebas tanpa sepatu. Beberapa saat, kami hanya diam. Dia tak menyentuh makanannya dan aku jelas tak lapar.

Jadi, aku juga hanya diam. Menolak perintah pikiran bodohku yang ngotot ingin melihat wajah Gilang. apa aku sudah gila? Bagaimana kalau aku cukup fokus pada Daniel saja. Ingat istrinya ada di rumahku kan? Ini sudah cukup buruk tanpa harus mendapat plototan mata istrinya itu.

Atau mantan istrinya. Sudahlah. Sama saja.

"menurut kamu, apa kita harus maafin orang yang minta maaf begitu saja?"

Tersentak. Aku tak menyangka Gilang bicara. Aku memandangnya dan ternyata dia sedang memandangiku. Aku menunggunya berpaling tapi dia tetap memandangiku. Wajahnya terlihat sangat lelah. Begitu berbeda dengan Gilang yang selalu ceria dan dipuja Diana and the geng. Atau olehku juga. Well. Tak ada gunanya berbohong. Aku dengan bodohnya, menyukai cowok ini. Iya kan?

Aku tak pernah menggangap diriku bodoh hingga saat ini. Benar sekali. otak berhenti bekerja saat kamu jatuh cinta. Atau karena aku kebanyakan minum kopi? Berhenti. Aku tak akan menyalahkan kopi.

"maafin selalu lebih baik." Aku mengatakan itu? ya. Aku mengatakannya.

Dia menghela nafas. "aku maafin dia."

Aku maafin dia.

Baik. Aku tak akan bertanya siapa aku dan siapa dia. Sungguh jelas. Gilang mengacak rambutnya beberapa saat sebelum kemudian melempar pandangan ke depan kami.

"aku mungkin emang gak pernah nyalahin dia." Sambungnya. Bagus. aku akan mendengar Gilang menceritakan istrinya disaat yang paling kuinginkan adalah mendorong Gilang ke bawah gedung agar dia tak pernah menyebut nama istrinya sama sekali.

"kamu tahu kenapa aku cerai Jade? Bukan karena dia selingkuh. Awalnya aku kira juga begitu. Dia selingkuh dengan pemain band. Tapi yang semakin lama aku sadari, aku yang bikin semunya jadi begitu."

"sebagian besar waktuku adalah untuk kerja. Bagiku, kerja adalah segalanya. Mengabaikan Hany. Mengabaikan Karen. Gak heran aku dicampakkan. Iya kan?"

Menarik nafas panjang aku hanya mengangkat bahu.

Gilang berbalik memandangku. "apa seharusnya aku yang minta maaf?"

Apa? Jangan tanya aku dengan tatapan seperti itu.

"gimana kalau kamu makan dulu?" hal terpintar yang terpikir olehku. Menarik keluar kotak makanan yang ada di bungkusan dan menaruhnya di pangkuan Gilang.

Dia memindahkan bungkusan itu dan kemudian menarikku kedalam pelukannya.

"maafin aku." Dia menangis.

Somewhere over the rooftop....

Tangisannya adalah hal paling random yang menurutku bisa terjadi di tempat ini.

***

The Journey of Miss What (completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang