Playlist: Carrie Underwood - Just A Dream
.
Separate
Chapter 19 : Hitam dan Putih bag. 3
Disclamier : Masashi Kishimoto--untuk karakternya. Dan untuk ceritanya original dari Dian sendiri
Rated : M
Genre : Crime, Mistery, Action, Romance & Komedi (maybe?), etc.
Pairing : SasuFemNaru
Warn! Gender Switch! Typo(s)! OC! OOC! EYD/EBI tidak rapih! Millitary! Soldier!
.
Obito memindai seluruh penjuru ruangan, pria berusia 28th itu mengamati sekelilingnya dengan teliti tanpa ada satu pun yang terlewat dari pandangannya.
"Apa sudah diamankan semua barang buktinya?" Tanya Obito pada salah satu bawahannya. Bawahannya mengangguk singkat lalu menjawab, "Sudah, Komisaris."
Obito memfokuskan pandangannya pada sebuah meja dengan penuh darah di atasnya, berharap menemukan petunjuk lain yang terlewat oleh para bawahannya. Namun setelah mencari dan terus mencari, pria itu akhirnya lelah juga dan memutuskan untuk pergi.
Sebelum benar-benar membalikkan badannya, gerakan Obito terhenti kala onyxnya menangkap sesuatu yang tersembunyi di sela-sela kursi yang berada tak jauh dari meja penuh darah itu.
Obito mengambil sesuatu itu lalu di masukkannya pada sebuah plastik bening. Untuk sepersekian detik, Obito menatapi sesuatu itu, namun segera dia tersadar karena teriakan bawahannya yang memanggil dirinya dari belakang.
Sebelum para bawahannya melihat barang bukti yang ditemukannya tadi, Obito buru-buru memasukkan plastik tersebut ke dalam saku seragamnya.
Maaf, untuk yang satu ini aku harus menyelidikinya sendiri, batin Obito ketika kembali teringat sesuatu yang ditemukannya tadi, ia sama sekali tidak memiliki niatan untuk memberikan sesuatu itu ke bagian forensik di kesatuannya.
Sepertinya aku harus meminta bantuan dia untuk kali ini, batinnya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi menemui bawahannya.
.
Fuu baru saja datang langsung menyambar sebotol air mineral yang ada di atas meja kerjanya. Diminumnya hingga isi tandas, meremas lalu membuangnya ke tong sampah.
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Fuu mengulum senyum tipis kala irisnya menangkap sosok Yugito duduk di kursi sambil bertopang dagu dengan kedua tangan, sementara itu pandangannya terlihat kosong. Sepertinya sedang melamun, pikir Fuu.
Fuu menghampiri Yugito yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Dengan jail Fuu mencubit keras ujung hidung mancung Yugito, membuat wanita itu mengaduh kesakitan.
"Maaf!" Kata Fuu saat diberi tatapan mematikan dari Yugito yang kini sedang mengusap ujung hidungnya yang memerah. "Ada apa?" Fuu bertanya saat melihat Yugito mendengus keras ke arahnya lalu memalingkan wajahnya yang terlihat sangat frustasi.
"Mana Gobi? Lalu Yonbi?" tanya Fuu ketika tidak mendapati Han dan Roushi di ruangan yang sama dengannya. Yugito tidak menjawab, wanita itu malah bergumam. "Aku tidak tahu kenapa dia memutuskan untuk pergi tanpa mendiskusikannya dengan kami."
"Hah?"
Yugito menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya yang dilipat di atas meja, "Aku tidak sempat menanyakan apa alasannya. Aku partner yang buruk, Fuu, partner yang buruk."
"He-hei, he-hei! Apa yang terjadi?" Fuu gelagapan saat mendengar suara isakan pelan Yugito.
"Pak Tua itu pasti marah padaku sekarang, ak-aku ak-aku," Yugito berhenti berujar, lalu tangisnya terdengar semakin keras.
Fuu semakin gelagapan saat mendengar suara tangisan Yugito yang semakin keras. "Berhenti menangis! Katakan sesuatu, mungkin saja aku bisa membantumu, Yugito!" pinta Fuu gemas. Siapa yang tidak khawatir jika kau baru saja datang dan menemukan salah satu sahabatmu terlihat begitu sedih dan putus asa?
Yugito akhirnya mengangkat wajahnya. Terlihat jejak-jejak airmata yang masih basah di pipi mulus wanita itu, kedua matanya juga memerah, pun sama dengan hidungnya. "Dia pergi, Fuu, dia pergi. Dan dia memintaku untuk menunggunya," jelas Yugito lirih.
"Siapa dia? Siapa yang kau maksud?" tanya Fuu yang kini menatapi Yugito dalam, tepat di bola mata gelap milik wanita itu yang seakan telah meredupkan cahayanya.
"Sudahlah," Yugito akhirnya menyerah. "Biar kuselesaikan sendiri saja," lanjutnya lagi seraya menghapus kasar sisa-sisa air mata di pipinya. Wanita itu belum siap jika kembali dipersalahkan setelah menceritakannya. Seperti Pak Tua itu, pikir Yugito miris.
Fuu mengangga melihat perubahan mood Yugito yang terbilang cepat. Mood swing?
"Hei, setidaknya ceritakan padaku apa yang terjadi, aku tidak mengerti mengapa kau tiba-tiba menangis dan--dan--"
"Dan apa?" sambar Yugito cepat.
"Dan--lupakan sajalah! Ceritakan jika kau sudah siap menceritakannya!" Kata Fuu yang lebih seperti sebuah perintah daripada permintaan.
"Aku pergi, ada yang perlu aku laporkan pada Bee-san. Kau di sini dulu, tenangkan pikiranmu dan jangan membantah!" Fuu melotot tajam saat melihat Yugito yang hendak melayangkan protes.
Yugito mendengus keras, wanita itu mau tidak mau harus menuruti Fuu yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Lagi pula, seorang saudara pasti memikirkan perasaan saudaranya yang lain 'kan? Karena itu dia percaya jika apa yang dikatakan Fuu itu demi kebaikannya sendiri.
Setelah Fuu pergi, Yugito kembali termenung. Wanita beriris gelap itu memejamkan matanya, pikirannya melayang bebas ke kejadian beberapa jam yang lalu.
Tentang pengkhianatan yang dilakukan Han, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gobi.
Han, apa yang kau rencanakan? Batin Yugito bertanya-tanya. Kau tidak benar-benar mengkhianati kami, kan? tanyanya lagi di dalam hati. Kau pasti kembali, maka dari itu kau memintaku untuk menunggu, iya kan?
Jika itu benar, tetaplah hidup, karena aku selalu menunggu dirimu disini, Hangobi. Kau tahu kemana kau harus berpulang, kan?
.
TBC
Sampai jumpa di chapter-chapter selanjutnya!
Diandra Nashira
Senin, 18 September 2017
Publish ulang:
Rabu, 05 Desember 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Separate (END)✔
FanfictionPROLOG - CHAP 20 -> ADA CHAP 21 - TAMAT -> UNPUBLISH . Namikaze Naruto; seorang wanita berprofesi sebagai Tentara namun hilang karena misi pengejarannya, lalu terdampar dan merangkap sebagai bodyguard-misinya yang lain-di apartemen Uchiha Sasuke; se...
