Separate
Chapter 28 : Tidak Bisa Kembali bag. 1
Disclamier : Masashi Kishimoto--untuk karakternya. Dan untuk ceritanya original dari Dian sendiri
Rated : T semi M
Genre : Crime, Romance, Action, Mistery & Komedi (maybe?), etc.
Pairing : SasuFemNaru
Warn! Gender Switch! Typo(s)! OC! OOC! EYD/EBI tidak rapih! Millitary! Soldier!
.
.
.
Fuu menggerutu sebal. Pemilik kode Nanabi itu terus saja berkelit dari serangan tiga orang berbadan besar. Wanita itu merunduk ketika sebuah kepalan tangan dilayangkan ke wajahnya dan menjatuhkan dirinya lalu berguling ke sisi lain ketika melihat sebuah peluru ditujukan padanya.
Dengan gerakan cepat, Fuu menarik pistol berjenis Mark 23 nya lalu menembaki ketika orang berbadan besar itu bergantian. Tidak untuk mematikannya, hanya untuk melumpuhkan saja. Maka dari itu Fuu menembak di bahu dan paha ketiganya.
Informasi adalah segalanya. Dan Fuu membutuhkan informasi dari mereka. Maka dari itu ia membiarkan ketiganya hidup, setidaknya sampai dimana ia tidak membutuhkan ketiganya, dengan senang hati Fuu akan membunuh mereka tanpa ampun.
"Sialan!" Maki Fuu kasar saat tangannya yang memegang pistol itu di pelintir ke belakang, membuat pistol yang berada di dalam genggaman terjatuh ke lantai. Setelah itu, sosok penyerang membekap mulut dan mendorong tubuhnya hingga menabrak belakang pilar terdekat yang cukup untuk menyembunyikan tubuh keduanya.
Fuu memberontak berusaha untuk melarikan diri, tetapi sayangnya tenaga penyerang yang lebih besar membuat dirinya melakukan perlawanan yang sia-sia, terlebih sebelah tangannya yang terpelintir dan ditempatkan di balik punggungnya kini berdenyut mulai sakit.
"Berhentilah memberontak, Fuu!" bisik penyerangnya dengan nada rendah. Merasa mengenali suara itu, Fuu yang sedari tadi menundukkan kini menengadahkan kepalanya, membuat wanita itu dapat melihat wajah penyerangnya yang hampir seluruhnya tertutupi oleh bandana hitam.
Melepas bekapan, sosok itu segera membuka bandana yang menutupi wajah bagian bawahnya sehingga terpampang lah wajah yang sangat Fuu kenali. Mata Fuu membelalak, dengan telunjuk menunjuk wajah sosok itu lalu berbicara sedikit tergagap, "K-kau?! Kupikir, kau-"
"Ssstt," sosok menaruh jari telunjuknya guna menghentikan perkataan Fuu, sosok itu juga melepaskan sebelah tangan Fuu yang terpelintir itu menjadi bebas. "Jangan bersuara keras, maaf atas perbuatanku tadi," pintanya yang langsung diangguki Fuu cepat. "Tapi kumohon, tolong ikut denganku," bisiknya pelan, seperti permohonan.
Dan tanpa orang-orang sadari, keduanya berjalan keluar ruangan meninggalkan mereka yang saling berbalas pukulan antar satu dengan yang lain.
.
.
Itachi menghela napas yang sedari tadi ditahannya. Ia tahu situasi seperti ini akan dihadapinya. Situasi dimana ia berhadapan dengan Kurama langsung dan ia tidak akan bisa mengelak lagi.
"Aku sudah menduga kau bagian dari Akatsuki, Itachi," Kurama membuka suara disela-sela pertarungan mereka. "Bagaimana bisa? Sejak kapan kau menyadarinya?" tanya Itachi penasaran. Sebuah pertanyaan besar kini terlintas di pikirannya; jika Kurama mengetahui kebenarannya, mengapa ia tidak mengungkapkannya dan menyimpannya seorang diri? Apa motif dibalik itu semua? Bukan karena ia sahabatnya, kan?
Wajah Kurama seketika menggelap, "Hanya itu yang perlu kau tahu," katanya dingin. Sedetik kemudian, Kurama mulai menyerang Itachi dengan membabi-buta sementara Itachi hanya bisa mengelak dan menangkis serangan. Ia tidak mampu mengangkat senjata pada sahabatnya itu, sungguh.
.
.
"Sudah selesai?"
Konan bertanya dingin, wanita itu sedang bersandar pada dinding dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Kedua matanya menatap tajam seorang pria berambut kuning yang hanya berbeda beberapa jarak dengannya.
"Bisa kau lihat sendiri," balas Deidara tanpa ekspresi lalu melirik Sasori beserta Kakuzu yang berada di belakangnya. "Ayo kita pergi."
Namun usaha Deidara digagalkan oleh Konan yang kini berdiri di hadapannya guna menghalangi jalannya. "Ingin pergi kemana kau?" tanya Konan to the point, masih dengan nada dan tatapan yang sama.
Deidara menatap datar Konan, "Minggir," perintahnya tegas seperti tak mau dibantah. "Kau menghalangi jalan," lanjutnya masih tanpa ekspresi.
"Jangan bertindak sembrono, Deidara! Ikuti apa yang telah kita rencanakan sebelumnya atau ketua akan murka," Konan memperingati Deidara yang sama sekali tidak menampilkan ekspresi apa pun di wajahnya yang terbilang cukup tampan itu.
Deidara melirik Kakuzu dan Sasori yang berada di belakangnya, dengan isyarat mata akhirnya keduanya berjalan mendahului Deidara. Saat sejajar dengan Deidara, Kakuzu angkat bicara, "Aku dan Sasori akan menunggu di depan. Selesaikan urusanmu dengan cepat."
Deidara diam saja, tidak menjawab. Namun kedua bola matanya mengikuti langkah Kakuzu dan Sasori yang semakin menjauhinya dan akhirnya tubuh keduanya tertelan belokan. "Mereka sudah pergi." Tanpa mengalihkan pandangannya dari belokan, Deidara kembali bertanya, "Apa maumu sekarang? Berterus teranglah padaku!"
"Berhenti," kata Konan singkat namun cukup jelas. "Ayahmu sudah menyesalinya, hapus dendam dalam hatimu, lepaskan segala kesakitanmu, biarkan itu semua berlalu menjadi masa lalu, terima kenyataan itu dan bukalah lembaran baru," ucap wanita itu bijak namun tak digubris oleh Deidara.
Deidara berjalan ke samping, menghindari Konan yang menghalangi jalannya. Namun dengan disengaja, Konan bergerak ke samping guna menutupi akses satu-satunya Deidara untuk pergi dari sana. Deidara menatap datar Konan, tanpa berkata apa-apa pria itu bergerak ke samping lainnya yang tidak terhalangi namun lagi-lagi Konan menghalangi menggunakan tubuhnya.
Deidara mengetatkan rahang, sebuah pistol berjenis glock 19 yang sedari tadi sudah digenggamnya erat-erat pun ia todongkan ke arah pelipis kanan Konan. "Kau pikir aku tidak akan berani membunuhmu?!" Deidara membentak keras namun seolah tak takut pada todongan pistol itu, wanita itu tersenyum miring membuaterlihat misterius namun berbahaya di saat yang bersamaan.
"Bunuh aku jika itu dapat menghapus dendammu," katanya mempertahankan ketenangannya. Deidara mengokang pistolnya lalu ditodongkan kembali ke pelipis kanan Konan sembari menarik pelatuk itu secara perlahan hingga akhirnya suara tembakan pun berbunyi menggema seisi koridor.
"Ada apa denganmu? Bukankah tadi kau ingin sekali membunuhku? Tidak tahan melihatku terbunuh, hmm?" Konan mengejek dengan dagu terangkat. Wanita itu sudah bisa menebak jika sisi kemanusiaan Deidara lah yang menjadi penghambatnya, itu adalah kelemahan Deidara, dan Konan mengetahuinya.
Ya. Konan masih hidup. Deidara menembakkan pelurunya ke atas, bukan ke kepala Konan.
"Tidak ada gunanya jika aku membunuhmu, bukankah begitu?"
Tanpa berbicara lebih lanjut lagi, Deidara berjalan lurus dan dengan sengaja menyenggol bahu Konan keras lalu pergi begitu saja meninggalkan wanita itu sendirian disana, di koridor nan sepi.
Senyum Konan perlahan memudar hingga tak ada ekspresi di wajahnya. "Anak itu," Konan berkata pelan, otaknya memutar menit-menit sebelumnya saat ia dan Deidara berbicara. Wanita itu menutup kedua matanya dan berkata, "Apa dia ingin menghancurkan dirinya sendiri?"
.
.
TBC
Sampai jumpa di chapter-chapter selanjutnya!^^
Diandra Nashira,
Selasa, 30 Januari 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Separate (END)✔
Fiksi PenggemarPROLOG - CHAP 20 -> ADA CHAP 21 - TAMAT -> UNPUBLISH . Namikaze Naruto; seorang wanita berprofesi sebagai Tentara namun hilang karena misi pengejarannya, lalu terdampar dan merangkap sebagai bodyguard-misinya yang lain-di apartemen Uchiha Sasuke; se...
