Hari sabtu kebetulan Dian pulang nanti setengah hari. Yes.. ia bisa mejeng ke toko buku dekat kantornya dulu.
Jam 2 siang ia sudah bisa keluar dari kantor batinnya sangat senang karena mau pulang cepat. Ia tidak peduli besok sudah minggu
dan harus menjawab perihal lamaran dari lelaki super duper arogan serta kaya yang bernama Bram itu. Toh, walaupun ia tidak
menjawab pasti lelaki itu juga langsung mendatangi ibunya. Dia kan lelaki keras kepala dan mau dituruti semua permintaannya.
Jam makan siang dimanfaatkan Dian untuk makan siang dan istirahat sejenak di tempat istirahat khusus karyawan. Handphonenya bergetar tapi tidak ia angkat. Ia lagi menguyah nasi bekal makan siangnya itu. Hari ini ia bawa bekal lauk sambal kerang dan sayur cap cay campur telur puyuh.
Hmm.. yummy pikir Dian sambil menyuap nasi lagi. Ia tidak peduli dengan handphonenya. Apa tidak bisa liat ini jam lagi makan siang.
Telephone kantor bos Dian berdering. Kebetulan ruangan kantor bos Dian itu lebih dekat dengan tempat istirahat karyawan. Tak lama kemudian, kepala si bos muncul di ruang makan tempat Dian itu.
"Hmm.. ibu Dian. Tolong handphone anda itu diangkat. Karena bapak Bram Saputra Wijaya pengusaha muda yang sukses itu menelphone ke meja saya karena anda tidak peduli dengan beliau. Dan perlu anda ketahui, beliau itu konsumen paling banyak menggunakan jasa listrik kita di kota ini." ujar si bos dengan suara tegas membuat Dian susah menelan nasinya.
Brengsek akang Bram ini, sampai pakai acara menelphone ke kantor bos segala pikir Dian geram.
"Halooo.. ibu Dian, anda mendengarkan ucapan saya bukan?" tanya si bos keki karena Dian diam saja.
"Oohh.. iya pak.. maaf lagi menelan makanan." jawab Dian dengan nada pelan dan hormat.
Awas saja akang Bram itu ya! batin Dian geram. Akan saya jitak kepalanya nanti! UUghghh.
"Baiklah, lanjutkan makan siangnya dan jangan tidak mengangkat handphone." tegas si bos sekali lagi.
"Siap pak. Laksanakan." jawab Dian tegas membuat si bos tersenyum masam.
Si bos berlalu dari hadapan Dian. Handphonenya langsung berbunyi. Ia dengan geram mengangkat.
"APA-APAAN SI AKANG INI?! SAYA MAH LAGI MAKAN ATUH!" ujar Dian dengan suara ngos-ngosan karena marah.
Bram juga langsung menjawab marah, "AKU PALING TIDAK SUKA DIACUHKAN,LADY. JAM 3 SORE AKU AKAN MENJEMPUT KAMU DAN SUDAH ADA DI DEPAN KANTOR KAMU!".
Dian terdiam sejenak. Loh, ia kan mau nongkrong di toko buku. Kalau akang Bram menjemput bagaimana ia bisa keluar.
"Ta..Tapi kang.. saya..itu. Hmm.." Dian jadi terbata-bata mau mengomong.
"Aapa kamu ada janji kencan dengan orang lain?" suara Bram terdengar sangat dingin sampai-sampai bulu kuduk Dian meremang.
"Kencan.. kalau ia kenapa? Toh, saya juga belum menjawab akang." ujar Dian mau cari masalah.
Bram mengeram seram.
"Be carefull lady.. kamu akan tahu akibatnya jika melakukan itu. Teman kencan kamu itu akan babak belur karena aku pukuli." ancam Bram.
Dian terkekeh membayangkan Bram memukuli buku.
Dian yang terkekeh-kekeh malah membuat Bram berasap. Lelaki itu membanting sesuatu. Dian terdiam karena suara bantingan tersebut.
"Eeehh.. akang, apa itu yang di banting?" tanya Dian dengan suara tawa.
"Bukan urusan kamu..!" balas Bram ketus.
"Cie..cie.. marah ya.. atauuuuu.. cemburuu..?" tanya Dian sambil tertawa senang karena bisa membuat lelaki itu kebakaran jengot. Rasain loe karena sudah menelpone ke kantor bos saya batin Dian puas.

KAMU SEDANG MEMBACA
MENCINTAI CEWEK MATRE? {Geng Rempong : 3}
RomanceDian, wanita sederhana yang pernah dihina oleh seorang lelaki bernama Kenpi karena tidak mau diajak untuk kegiatan asyik. Ia jadi sedikit trauma untuk mendekati lelaki lagi yang melibatkan perasaan. Bram, lelaki kaya dan mampan. Ia belum pernah dek...