"Lady.. bangun sayang. Kita sudah mau mendarat nih." ucap Bram ditelinga istrinya itu.
Dian mengeliat di atas tubuh suaminya yang kekar. Ia mau merem lagi ketika suaminya itu berkata dengan nada mengancam.
"Apa kita akan bergumul di atas pesawat ini sayang, kamu dari tadi mengesek-gesek pinggulku terus. Apa kamu tidak merasa prince sudah bangun sedari tadi?"
Dian langsung tersentak dan duduk dipinggul suaminya. Bram mengertakkan rahangnya menahan sesuatu.
"Saya..saya.." suara Dian serak karena baru bangun tidur.
Bram mengecup cepat pipi istrinya itu dan mengangkat Dian supaya duduk di kursinya sendiri. Ia membantu memasangkan seat belt pada pinggang istrinya itu.
Pesawat mendarat sangat mulus dan mereka tiba di Bandung dengan selamat.
Tiga hari setelah sampai di rumah Bram kembali bekerja, ia sangat keki ketika Syarif langsung menelpon dirinya.
"Alohaaaaa... hula..hula..ukelele.." sapa Syarif penuh canda lewat telepon kantor. Suara tertawa seseorang yang dari belakang Syarif membuat Bram tambah keki. Ia tahu bahwa yang tertawa itu Rendy.
"Kalia berdua awas saja ya.. aku akan membalas perbuatan ini nanti." ujar Bram mengancam.
"Uuuuhhh takutt..." olok Syarif sambil tertawa.
Rendy berkata dari belakang Syarif, "Sudahlah Rif, jangan di ejek terus. Kemarikan gagang telepon itu biar aku yang bicara pada bro Bram." perintah Rendy pada Syarif tegas.
"Iya..iya bos, btw, jangan lupa ya bos, saya mah minta cuti untuk ke Bogor. Saya janji akan mencarikan penggantiku nanti untuk bos." suara Syarif terdengar sedih.
Rendy menganggukkan kepalanya pelan. Lalu, berbicara bisnis pada Bram tanpa melihat wajah Syarif yang agak tertekan sedang menatap sang bos baik hatinya itu.
Syarif sudah berbicara bahwa ada urusan keluarga yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Jadi, ia mengambil cuti selama satu minggu. Ia sih belum bercerita dengan detail perihal kakeknya itu. Nanti, setelah pulang dari Bogor baru ia bicara lebih lanjut biar enak.
Bram sangat suka berbicara bisnis dengan Rendy. Temannya itu sangat cerdas dan berwawasan luas. Mereka akan bekerja sama dalam hal pengadaan security untuk hotel Bram yang baru. Sehingga mereka sama-sama maju dan untung dalam menjalankan bisnis.
Dengan kesibukan masing-masing. Seluruh hari-hari Bram tersita pada pekerjaan. Istrinya sih baik-baik saja dirumah.
Dian sibuk sekarang dengan urusan menyulam serta menjahit untuk mengisi hari-harinya yang kosong. Ia juga banyak bercengkrama dengan teman-temannya serta ibu atau adik perempuannya lewat video call. Seperti hari ini Dian mau ke mall bersama Sari.
Dian yang usia kandungannya sekarang memasuki 4 bulan, ia sudah mau mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan jabang baby. Dian dan Bram belum periksa jenis kelamin untuk si anak. Mereka hanya memeriksakan kesehatan anak tersebut. Tapi, mereka tahu bahwa anak mereka hanya satu. Mereka belum beruntung untuk mempunyai anak kembar. Bram harus extra kerja untuk mendapatkan anak lagi nanti kata suami Dian sewaktu mereka sedang berbaring santai di malam hari.
"Akang.. saya boleh kan pergi sama jeng Sari?"
Dian menelpon suaminya di waktu jam makan siang. Ia tahu tidak mau menggangu suaminya bekerja.
"Iya.. apa Sari juga ada pengawasan?" tanya Bram agak trauma dengan kejadian pada istri juga keponakan iparnya itu. Bram sih masih tetap mempekerjakaan pengawal untuk Dian jika istrinya itu mau keluar seperti ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
MENCINTAI CEWEK MATRE? {Geng Rempong : 3}
RomansaDian, wanita sederhana yang pernah dihina oleh seorang lelaki bernama Kenpi karena tidak mau diajak untuk kegiatan asyik. Ia jadi sedikit trauma untuk mendekati lelaki lagi yang melibatkan perasaan. Bram, lelaki kaya dan mampan. Ia belum pernah dek...