Abytra terbangun saat matahari mulai menukik ke barat. Bias cahayanya masuk lewat jendela, lalu membentuk garis lurus di lantai yang dilapisi karpet bunga-bunga sampai ke dinding kamar yang bercat warna kuning gading. Pria itu mengerjapkan mata sesaat, sebelum menghela napas.
Rasa sakit di kepalanya sudah berkurang. Tubuhnya juga tidak lagi menggigil. Hanya tenggorokkannya masih terasa sakit, tapi tak sesakit tadi pagi. Namun secara keseluruhan ia sudah merasa jauh lebih baik.
Lalu Abytra teringat dengan mimpinya semalam, mimpi yang terasa begitu nyata. Ibunya datang, dengan wajah lembut dan senyum yang selalu ia temui setiap hari. Ibu, Abytra menyebut nama itu dalam hati. Menyebut nama itu saja membuat hati Abytra tertusuk.
Tangan Abytra terangkat, merenggut handuk kecil di dahinya. Kemudian pria itu menumpukkan siku dan mengerahkan tenaga untuk duduk. Ah sial! maki pria itu. Salah satu hal yang Abytra benci adalah dirinya yang lemah seperti ini.
Abytra membuka laci pada meja nakas di sampingnya. Mengambil gawai. Ternyata ada puluhan missed calls, juga pesan masuk. Tentu saja semuanya dari Maura, yang menanyakan dimana dirinya. Tidak perlu kemampuan khusus, Abytra bisa merasakan kekhawatiran wanita itu dari pesan-pesan yang ia terima.
Tak ingin membuat Maura khawatir berkepanjangan, Abytra memutuskan untuk menelepon kekasihnya itu. Pada nada sambung pertama, sambungan langsung diterima.
"Apa kamu ingin membuatku mati karena mengkhawatirkanmu, ha?!" Di ujung telepon Maura menjawab dengan nada sengit, tanpa salam sama sekali. "Selamat, kamu berhasil, By. Aku hampir saja mati karea terus mengkhawatirkanmu."
"Maaf." Satu kata itu yang hanya bisa Abytra berikan untuk merespons kemarahan Maura. Sesaat kemudian Abytra terbatuk-batuk.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Ternyata batuk Abytra mampu mentransformasi kemarahan Maura menjadi cemas.
"Aku hanya demam. Tapi sudah mendingan."
Lalu suasana hening. Abytra hanya mampu mendengar deru napas Maura. Tapi sekejap kemudian, deru napas itu berubah menjadi isakan.
"Maura ... kenapa kamu menangis?"
"Aku sedang membenci keadaan. Seharusnya saat ini aku berada di sampingmu. Mengurusmu. Tapi ...," Maura mendesah. Tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Namun, tanpa diucapkan Abutra sudah tahu kemana arah pembicaraan kekasihnya itu.
"Sudahlah. Aku tidak apa-apa."
"Tapi tetap saja."
"Dengarkan aku. Ini tidak akan selamanya. Secepatnya kita pasti akan kembali seperti dulu. Ini hanya masalah waktu. Kamu mau menunggunya?"
"Ya. Aku akan menunggumu."
***
"Dengarkan aku. Ini tidak akan selamanya. Secepatnya kita pasti akan kembali seperti dulu. Ini hanya masalah waktu. Kamu mau menunggunya?"
Azel menahan napas. Tangannya yang memegang kenop pintu masih bertahan di sana, sama sekali tidak bergerak. Ia tidak menyangka akan mendengar pembicaraan seperti ini.
Dengan siapa Abytra berbicara? bisik Azel dalam hati, diliputi rasa penasaran. Azel masih tetap diam. Telinganya siaga, memastikan menangkap semua pembicaraan Abytra di dalam sana. Ia tahu tidak seharusnya mencuri-dengar seperti ini. Tapi, rasa penasaran membuatnya bertahan.
"Ya. Sudah kamu makan dulu. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena tidak makan. Aku mencintaimu, dan akan seperti itu selamanya."
Deg!
Jantung Azel berdetak. Satu kalimat terakhir yang ia tangkap sudah cukup untuk membuatnya tahu dengan siapa Abytra berbicara.
Tak ingin ketahuan oleh Abytra karena menguping, Azel pun berjingkat-jingkat menjauhi kamarnya. Tapi, setelah mengetahui satu hal tentang suaminya, satu pertanyaan memenuhi pikiran Azel. Kalau Abytra mempunyai kekasih, kenapa pria itu menikahinya?
Azel tidak bisa menemukan alasan apa pun selain kemungkinan kalau papa memaksa Abytra untuk menikahinya.
Azel memejamkan mata, dalam hati bertekad harus mencari tahu hal ini. Ia harus tahu alasan kenapa Abytra bersedia menikahinya. Kalau alasan itu kerena paksaan papa, sungguh Azel akan merasa sangat berdosa kepada Abytra dan kekasih pria tersebut.
Azel melihat perutnya, lalu mengusapnya dengan perasaan kalut. Sungguh, sebenarnya ia tidak boleh lagi berpikiran seperti ini. Tapi, apa yang baru saja ia dengar, membawanya kembali untuk berandai-andai.
Ya, seandainya ia tidak hamil, tentu Abytra tidak perlu terpaksa untuk menikahinya
***
"Lo mau gue buatin teh?" tawar Kafka saat melihat Azel menghela napas panjang dan berat entah untuk keberapa kalinya.
Sore hari, sepulang sekolah, Kafka memang lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Membaca majalah, menonton pertandingan sepak bola, atau main gitar. Baginya daripada keluyuran tidak jelas, lebih baik di rumah. Terlebih sejak Azel hamil dan hubungan mereka menjadi lebih baik, Kafka memutuskan untuk segera pulang ke rumah--kalau tidak ada tugas kelompok--agar bisa menemani Azel.
Azel mengerjap lalu menggeleng. "Thanks, tapi gue usah."
Kafka ikut menghela napas. Tak ingin memaksa, akhirnya Kafka kembali memetik senar gitarnya. Menghasilkan nada demi nada yang membentuk irama yang ritmis dan harmoni.
Tapi, saat melihat Azel kembali termenung, membuat Kafka menghentikan permainannya dan bertanya, "Zel, lo ada masalah?"
Azel tersentak. Matanya mengerjap sesaat, sebelum bertanya, "Lo ngomong apa barusan?"
"Lo lagi ada masalah? Gue perhatiin lo dari tadi melamun dan menarik napas terus."
Azel tidak langsung menjawab. Dari kerutan di dahi, juga bola matanya yang bergerak gelisah, Kafka tahu Azel sedang berpikir. Azel membuka mulutnya, tapi sesaat kemudian mengatupkan rahangnya kembali. Lalu cewek itu menggeleng, "Gue nggak apa-apa," kata Azel akhirnya.
Kafka menatap menilai. "Lo yakin?" selidiknya tak percaya.
Azel berdeham pelan, lalu mengangguk. "Gue hanya ... ya lo taulah. Bawaan ibu hamil," Azel terkekeh pelan, tapi Kafka tahu tawa itu dibuat-buat.
Tak bisa memaksa Azel untuk bercerita, Kafka pun menawarkan sesuatu yang lain. Berharap hal ini bisa sedikit mengurangi beban saudaranya itu.
"Mau gue nyanyiin sebuah lagu?"
Azel menatap Kafka, lalu tersenyum lembut. "Boleh."
Kafka mengangguk. Lalu jemarinya mulai memetik senar gitar. Nada-nada mulai berlompatan, menjadi sesuatu yang harmoni.
Life is sometime like a song
You sing the words you are feeling
You fill that sometimes is wrong
Every time I go my soul wants me to stay
Showing me every moment is wrong to go away
You are always in my heart
I couldn't believe is true
Is always, always been you
All of my dreams come true
I have found my home in you
(It's Always Been You by A2 ft Drew Seeley)
Kafka masih terus bernyanyi. Sementara Azel kembali tersesat dalam pikirannya, yang dipenuhi tentang Abytra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
