#45: Menemukan Kebenaran (Part 2)

16.8K 1K 37
                                        

Abytra masih duduk di dalam mobil. Padahal sudah hampir sepuluh menit mobilnya terparkir di basment gedung perkantoran milik Thomas. Telunjuk pria itu mengetuk-ngetuk setir dengan gelisah. Seketika gamang melanda hatinya. Sanggupkah ia mendengar kisah yang sebenarnya? Atau lebih baik ia membenarkan saja kisah yang selama ini ia ketahui?

Abytra mengusap wajah. Memikirkan masalah ini saja sudah membuat lelah luar biasa. Tapi, ia sudah sampai di sini. Waktunya juga tidak banyak lagi. Ia tidak bisa mundur.

Setelah menarik napas berkali-kali dan menyakinkan diri bahwa inilah yang seharusnya ia lakukan, Abytra pun keluar dari mobil.

Di depan ruang Thomas, Abytra menghampiri meja Nita, sekertaris Thomas. Abytra mengatakan ingin bertemu dengan Thomas.

"Apa sudah membuat janji?" tanya Nita ramah.

Abytra menggeleng. Ini semua dadakan. Bagaimana mungkin ia sempat membuat janji?

"Kalau begitu tunggu sebentar, saya tanya Pak Thomas dulu apakah bisa ditemui atau tidak."

Abytra menggangguk. Nita meraih gagang telepon. Lalu wanita itu terlibat pembicaraan dengan Thomas. Kurang lebih satu menit kemudian, pembicaraan itu berakhir. Nita meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya, dan berbicara dengan Abytra.

"Pak Thomas bilang, Bapak bisa menemuinya setengah jam lagi."

Abytra berpikir sesaat. Lalu berkata, "Baiklah. Terimakasih." Nita membalasnya dengan anggukan pelan dan tersenyum.

Setelah mengatakan itu Abytra berbalik pergi. Setengah jam waktu yang lumayan untuk menunggu. Akhirnya Abytra memutuskan ke kafe yang terletak di lobi gedung perkantoran ini. Abytra merasa ia butuh sedikit kafein untuk menenangkan diri.

Abytra masuk ke lift. Ia menekan tombol menuju lantai dasar. Beberapa waktu kemudian lift sudah meluncur ke bawah, membawanya ke lantai dasar tanpa hambatan. Saat ini jam kerja, para karyawan pasti sibuk di ruangan atau kubikel masing-masing. Makanya aktivitas lift sangat sepi.

Ting!

Suara berdenting itu menandakan lift sudah sampai di lantai dasar. Pintu lift terbuka. Abytra hendak mengayunkan langkah, tapi terhenti seketika.

Di hadapannya sekarang, berdiri seseorang yang sangat ia kenal. Sosok itu tersenyum dan bertanya dengan nada manis tapi menusuk, "Ada keperluan apa kau datang ke sini?"

***

Sepuluh menit sudah mereka duduk berhadapan di salah satu meja dekat jendela. Cangkir kopi mereka masih penuh, uapnya pun masih mengepul sedikit. Tapi, mereka hanya duduk dengan mata saling menatap. Tidak ada basa-basi. Seakan mereka sedang saling membaca pikiran.

Satu menit lagi terlewati dengan cepat. Akhirnya Maura menghela napas. Wanita itu meraih cangkir kopi lalu menyeruputnya pelan.

"Terlalu manis," komentarnya sambil mendecakkan lidah. Lalu wanita itu meletakkan kembali cangkir, setelah itu melipat tangan di atas.

"Berapa lama lagi kau mau diam-diaman seperti ini?"

Abytra mengedik bahu. Saat ini tidak ada hal yang ingin ia bicarakan dengan Maura. Ada saatnya nanti, tapi bukan sekarang, dan bukan di tempat terbuka seperti ini.

Mauta tertawa masam. "Lihat, sekarang kau sudah enggak berbicara denganku. Apa kau begitu membenciku karena tidak mengikuti keinginanmu?"

Abytra menghela napas. "Bukan begitu," sanggah Abytra.

"Lalu ini apa?!"

Abytra memijit pelipisnya. "Pelankan suaramu," tegur Abytra. "Kita bisa didengar orang lain."

"Mereka tidak akan mendengarkan kita."

Maura benar. Kafe tidak terlalu ramai. Hanya ada satu meja terisi yang ditempati seorang pria sedang membaca koran. Sementara pelayan kafe terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi tidak akan sempat mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Maura mendorong kursi dengan kasar hingga menimbulkan gesekan yang keras. Ia berdiri lalu berkata, "Sebaiknya kau segera hilangkan rasa itu. Sebab sebentar lagi kita akan pergi jauh dari sini dan hidup bersama. Seperti kesepakatan kita."

Setelah mengatakan itu Maura melenggang pergi. Sementara Abytra mengusap wajah.

Kesepakatan kita. Kata-kata itu terngiang di telinga Abytra. Dan mendadak ia merasa gusar. Bagaimana ia harus mengakhir semua ini?

Abytra melihat jam di pergelangan tangan. Masih ada waktu sepuluh menit lagi sebelum Thomas bisa ditemui. Abytra mendesah. Lalu tatapannya jatuh pada sesuatu di bawah kursi yang tadi ditempati Maura.

Abyrta bangkit dan berjalan menuju benda itu, lalu memungutinya. Dompet Maura. Sepertinya benda ini terjatuh karena Maura menyentak tasnya dengan kasar tadi.

Abytra membuka dompet itu, lalu menemukan sesuatu yang membuat nyeri merambati hatinya. Di depan matanya kini, terpampang selembar foto. Dirinya dan Maura. Mereka  berangkulan dan tertawa. Terlihat bahagia.

Abytra memejamkan mata. Rasa bersalah menghantam dirinya dengan keras.

Masa depan dan cinta itu ternyata serupa. Sama-sama tak terduga, dan tidak terprediksi.

Abytra tidak pernah menyangka bahwa di masa depan rasa cintanya akan berubah seperti ini.

Dan sialnya ... cinta itu mungkin tidak akan mudah ia miliki.

Apa ini hukuman dari Tuhan atas dendam dan niat buruk yang ia miliki?

***

Shotgun WeddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang