Bel tanda jam sekolah sudah usai berbunyi nyaring. Kelas X.3 SMA Harapan yang awalnya hening karena ada ulangan Fisika, mendadak heboh. Ada yang mengucap syukur karena akhirnya terbebas dari soal-soal ulangan yang membuat kepala ingin meledak. Ada juga yang panik karena belum selesai mengerjakannya. Kafka termasuk di golongan pertama. Jujur, Fisika dan dirinya itu seperti doraemon dan tikus alias bermusuhan.
Setelah mengumpulkan jawaban ulangan pada Pak Boni, guru Fisika yang mirip Hitler, Kafka segera mengemasi alat tulisnya. Di sebelahnya, Yusuf, teman sebangkunya yang keturunan Arab, masih sibuk menyalin contekan.
"Yusuf, kumpulkan jawaban kamu sekarang!"
Yusuf meletakkan pena dan mengerang ketika suara Pak Boni menggelegar memintanya mengumpulkan kertas jawaban. Kafka sempat melihat temannya itu mengumpat, fisika sialan! Sama seperti Kafka, Yusuf juga bermusuhan dengan fisika. Bedanya, Yusuf selalu mencoba mencari contekan untuk mendongkrak nilainya. Sementara Kafka pasrah dengan kemampuan otaknya. Lebih baik remedial daripada mencontek, begitu alasannya ketika Yusuf merayunya untuk melakukan perbuatan curang tersebut.
"Kelar hidup lo, Suf!" Yusuf menempelkan wajah di atas meja. Kemudian cowok itu mengacak rambutnya frustasi dan mengerang.
Kafka tertawa, lalu menepuk pundah sahabatnya itu dua kali. "Palingan lo nggak dikasih uang saku selama seminggu."
Yusuf mengangkat kepalanya, lalu berdiri dan mengalungkan lengannya di leher Kafka dan menguncinya. "Sialan lo! Teman lagi susah malah disumpahi."
"Tadi itu gue ngehibur lo, tau!" Kafka berusaha melepaskan lehernya. Tapi postur tubuh Yusuf yang lebih tinggi dan kekar, tentu bukan tandingan Kafka.
"Hiburan lo sama sekali nggak membantu." Yusuf mulai menjitaki kepala Kafka.
"Gini aja, elama seminggu gue yang traktir lo," janji Kafka.
"Yang benar?"
"Iya-iya. Makanya lepasin. Pegal nih leher gue!"
"Oh," Yusuf melepaskan kunciannya dan kini merangkul bahu Kafka. "Ini baru namanya teman!" Yusuf menepuk-nepuk bahu Kafka dan tertawa. Lalu, "Sekarang gue nggak perlu mengkhawatirkan nilai fisik yang pasti jeblok," lanjutnya.
"Udah tahu bokap lo kejam masalah nilai, lo masih aja nggak belajar setiap kali ulangan."
Yusuf menyengir lebar. "Belajar itu membosankan. Bikin capek!"
"Kalo belajar itu enak, semua orang nggak bakal ada yang bodoh."
"Iya-iya. Lain kali gue belajar. Lo lama-lama jadi mirip bokap gue."
Kemudian keduanya keluar kelas. Lorong sudah sepi. Murid-murid yang lain sudah pada pada pulang. Di ujung koridor yang membatasi kelas X dan XI jurusan sosial, langkah keduanya terhenti. Seorang gadis menghalangi mereka.
Gadis itu bernama Audrey Pemela. Siswi kelas XI Sosial 1. Pacarnya Kafka.
"Gue duluan," kata Yusuf seraya melepaskan rangkulannya, lalu pergi meninggalkan Kafka bersama Audrey.
Kafka menatap gadis yang berjarak dua langkah di hadapannya itu. Gadis itu masih sama seperti seminggu lalu sejak terakhir mereka bertemu. Rambut ikal sepunggungnya menjutai cantik. Tapi, yang paling Kafka suka dari Audrey adalah matanya. Gadis itu memiliki mata bulat berwarna madu yang dinaungi alis lentik.
"Kamu masih marah?" tanya Audrey dengan suara lembut dan mendayu.
Kafka memasukkan tangan ke dalam saku, lalu menarik napas panjang.
"Menurutmu aku pantas untuk marah?" Kafka malah balik bertanya.
Audrey menunduk. Dari nada bicara Kafka, Audrey tahu cowok itu masih memendam amarah.
"Saat itu aku hanya sedang emosi," aku Audrey. Lalu, "Aku sedang membutuhkanmu, tapi kamu malah memilih pergi karena suatu hal yang sama sekali nggak ingin kamu kasih tahu."
Seminggu lalu, sepulang sekolah Audrey menunggu Kafka di tempat ini. Gadis itu ingin mengajak Kafka jalan. Juga nonton ke bioskop. Kebetulan ada film yang Audrey tunggu-tunggu sudah rilis. Mereka pun sudah lama tidak jalan berdua karena Audrey yang merupakan anggota OSIS sibuk dengan pekan seni sekolah. Makanya ketika acara itu selesai dengan sukses, Audrey ingin merayakannya dengan Kafka. Tapi, sore itu Kafka menolak. Aku nggak bisa, lain kali aja, begitu kata Kafka saat itu. Saat ditanya alasannya kenapa, Kafka tidak mau bilang. Tentu saja hal itu membuat Audrey kesal. Hingga ia mengatakan kata-kata menyakitkan itu.
"Karena kamu kesal, lalu kamu punya hak untuk menghakimiku selingkuh?"
"Itu karena kamu nggak mau jujur. Aku kira kamu punya cewek lain."
Kafka mengesah lalu menggeleng-geleng. "Seperti yang kamu bilang, lebih baik kita udahan aja. Hubungan ini nggak akan berhasil kalo kamu nggak pernah sedikit pun memberikan kepercayaan padaku."
Audrey maju dan meraih tangan Kafka. "Nggak!" tolak Audrey dengan suara bergetar. "Aku nggak mau putus. Aku nggak mau."
Kafka memejamkan mata. Menarik napas panjang-panjang. Dan saat ia membuka mata, ia melihat genangan air di sudut mata Audrey. Mata yang sangat ia sukai itu, memancarkan kesedihan.
Tapi, semuanya sudah terlambat. Kafka tidak bisa lagi bertahan. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari genggaman Audrey.
"Kumohon jangan lakukan ini. Aku tahu aku salah. Kasih aku satu kesempatan lagi."
"Aku nggak bisa," aku Kafka. Karena kenyatannya memang begitu. Sudah sering kali Audrey melakukan hal yang sama. Sering menuduh Kafka berselingkuh dan meminta putus ketika marah. Saat emosinya sudah stabil, gadis itu akan memohon untuk kembali dan selama itu Kafka mau memaafkannya. Kafka masih berharap Audrey bisa berubah dan memberinya kepercayaan.
Tapi nyatanya tidak. Audrey tidak pernah berubah. Gadis itu selalu dikuasai oleh prasangka-prasangkanya di saat Kafka tidak bisa memenuhi keinginan Audrey. Tidak hanya tuduhan dan kata-kata putus saja yang diucapkan Audrey, gadis itu terkadang juga melakukan kekerasan fisik dengan menampar dan mencakar Kafka.
Sekarang Kafka tidak bisa lagi bertahan. Memang, sampai saat ini Kafka masih menyayangi Audrey, tapi ia lebih sayang dirinya sendiri. Oleh karena itu ia memilih untuk mengakhiri.
"Maaf aku menyerah. Sepertinya aku bukan cowok yang bisa mengikuti semua keinginanmu."
Setelah mengatakan itu, Kafka melewati Audrey dan melangkah pergi. Kafka memejamkan mata saat tangisan Audrey pecah. Namun ia tidak berhenti. Jika ia berhenti, hati Kafka pasti luluh dan ia akan menoleh dan kembali pada Audrey.
Cinta itu seharusnya membahagiakan, bukannya menyakiti. Kata-kata itu diucapkan mediang ibunya sebelum meninggal dunia. Akhir-akhir ini kata-kata itu sering bergema di kepala Kafka. Kata-kata ibunya itulah yang membuat Kafka mengambil keputusan ini. Melepaskan Audrey, cinta pertamanya. Kafka selalu memercayai kata-kata ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
