Malam sudah sangat larut saat Abytra pulang ke rumah kediaman Danuwijaya. Rumah terlihat sepi. Hanya ada Bi Surti, ART yang bekerja mengurus masalah dapur, yang masih membereskan sesuatu di ruang makan. Saat melihat kehadiran Abytra, wanita paruh baya itu menawarkan makan malam. Abytra menolaknya dengan alasan ia sudah makan di luar bersama rekan kerjanya. Abytra hanya mengambil gelas di kabinet dan mengisinya dengan air dari dispenser, lalu meneguk isinya hingga tandas.
"Biar sini saya yang cuci, Tuan," kata Bu Surti saat melihat Abytra berjalan ke bak cuci perkakas.
Abytra tersenyum dan berkata, "Saya sudah biasa melakukan ini," katanya. Lagipula Abytra tidak tega menambah kerjaan Bi Surti. ART itu sudah kelihatan sangat lelah. Malam sudah larut, tapi Bi Surti belum juga istirahat. Besok pagi-pagi sekali Bi Surti juga sudah harus terjaga sebelum anggota Danuwijaya yang lain bangun.
Memandang Bi Surti, Abytra jadi teringat Ibunya. Waktu dulu ibunya juga suka tidur larut malam. Membereskan masalah apapun yang ada di rumah. Ibu tidak akan tidur sebelum memastikan keadaan rumah bersih dan tidak ada piring dan gelas kotor di dapur. Semuanya Ibu lakukan seorang diri. Tidak ada ART yang membantunya. Bukan karena mereka tidak mampu menggaji ART, tapi ini memang tugas yang sudah disepakati oleh kedua orangtuanya.
"Sebelum menikah Ayah dan Ibu sudah sepakat mengenai hal ini. Ayah bekerja untuk mencari nafkah. Sementara Ibu memastikan rumah selalu baik dan menjaga anak-anak," kata Ibu saat Abytra bertanya kenapa mereka tidak menggaji ART untuk membantunya.
"Tuan!"
Panggilan itu menyentak kesadaran Abytra dari lamunan. Di depannya, Bi Surti menatapnya dengan raut khawatir.
"Tuan baik-baik saja?"
Abytra menarik sudut-sudut bibirnya, lalu mengangguk. "Saya hanya sedikit melamun tadi," aku Abytra.
Bi Surti balas tersenyum. Terlihat lega. Lalu ia mengambil alih gelas di tangan Abytra dan mencucinya.
"Lebih baik Tuan istirahat sekarang," kata Bi Surti sambil mengelap gelap yang habis dicuci lalu meletakkannya kembali ke kabinet.
Abytra mengangguk. Lalu ia pamit untuk naik ke atas, ke kamarnya.
Sebelum keluar dari ruang makan, Abytra menoleh ke belakang. Di sana, Bu Surti masih bekerja. Mengelap meja makan. Punggung wanita itu mengingatkan Abytra pada punggung ibunya yang selalu ia lihat setiap malam sebelum pergi tidur. Abytra menarik napas panjang. Kerinduan itu membuat dadanya penuh dan sesak.
Kemudian Abytra memanggil Bi Surti. Wanita itu menoleh dan bertanya apakah Abytra membutuhkan bantuannya. Abytra menggeleng, lalu berkata, "Bi Surti harus segera istirahat. Ini sudah larut."
Bi Surti mengangguk. "Ini tinggal sedikit lagi. Setelah ini selesai, pasti istirahat," katanya.
Abytra membeku di tempatnya. Kata-kata itu terasa tidak asing. Kata-kata yang selalu ia dengan setiap malam sebelum tidur. Kata-kata yang diucapkan oleh ibunya.
Mengingat ibu, membuat Abytra teringat lagi dengan janji-janjinya di hari pemakaman Ibu. Janji yang ia buat dengan kemarahan karena Ibu harus pergi membawa luka dan kesedihan.
Janji itu kembali bergema di kepala Abytra. Seperti kaset yang diputar. Berulang-ulang.
Abytra mengepalkan tangannya. Ia tidak boleh ragu seperti ini. Ia harus berpegang teguh pada rencana-rencananya untuk menghancurkan Thomas Danuwijaya dan seluruh anggota keluarga pria itu.
Sama seperti bagaimana Thomas Danuwijaya menghancurkan keluarga Abytra.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
