#40: Ciuman (Part 2)

19.7K 1.3K 97
                                        

Hari ini Azel keluar dari rumah sakit. Abytra juga. Sekarang mereka dalam perjalanan pulang ke rumah. Kafka yang mengemudi. Sementara Abytra duduk di samping Kafka, dan Azel di bangku belakang.

Suasana dalam mobil begitu hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Hanya seru pendingin yang terrdengar. Tapi Abytra dari tadi melirik ke kaca spion, melihat Azel. Sayangnya Azel sepanjang perjalanan memilih menatap keluar jendela.

Sebenarnya tadi Kafka tidak ingin mengajak Abytra pulang bersama mereka. Kafka memang sudah meminta maaf kepada Abytra--itu pun karena permintaan Azel--tapi bukan berarti ia bisa berbaikan dengan pria itu. Namun, Azel meminta Kafka untuk mengajak Abytra pulang bersama. Dia kan keluarga kita juga, begitu kata Azel. Meski berat, Kafka pun membiarkan Abytra pulang bersama mereka.

Jadi begilah akhirnya. Mereka terjebak dalam mobil dalam suasana canggung.

Tak tahan dengan keheningan, Kafka mengulurkan tangan ke stereo. Memutuskan mendengarkan radio. Siaran apa saja ia tidak peduli. Asal atmosfer canggung dalam mobil ini lenyap.

Lagipula Kafka sebal setengah mati dengan Abytra yang sejak tadi gelisah melirik Azel dari spion. Kafka mendengkus. Lalu ia teringat pada kejadian tadi pagi yang tanpa sengaja ia lihat.

***

Pukul empat pagi Kafka terbangun. Ia mengusap wajah, merentangkan tangan tinggi-tinggi--sebab tangannya kesemutan--lalu memijit lehernya yang terasa kaku. Ternyata benar, tidur dalam posisi duduk itu tidak bagus untuk kesehatan. Buktinya ini. Kemarin Kafa merasa tubuhnya baik-baik saja. Sekarang malah pegal semua.

Melihat Azel yang masih tertidur pulas, Kafka pun memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Otot-ototnya butuh dilemaskan. Keliling koridor rumah sakit Kafka rasa cukup untuk membuat otot-otot dan persendiannya yang kamu kembali ke semula.

Akhirnya Kafka pun keluar dari kamar Azel. Berkeliling. Suasana sepi. Hanya ada beberapa perawat yang berpapasan dengannya. Juga keluarga pasien yang berjaga. Di meja setengah lingkaran di lobi rumah sakit, seorang resepsionis duduk dengan kepala terkantuk-kantuk. Televisi menayangkan siaran yang tidak terlalu menarik.

Kafka pun melangkahkan kaki menuju taman yang berada di samping kanan. Kemarin sore ia sempat melihat taman itu. Ada phon-pohon rimbun dan beberapa bangku kayu. Pagi hari suasana di sana pasti menyenangkan. Udaranya dijamin segar. Dan saat ini Kafka butuh itu--bagi otak maupun paru-parunya.

Ada sekitar setengah jam Kafka di taman tersebut. Melakukan berbagai gerakan-gerakan ringan untuk pemanasan tubuhnya. Mulai dari menggerakkan kepala ke atas-bawah-kanan-kiri, merentangkan tangan, membungkuk dengan ujung jari tangan menyentuh ujung kaki, melipat tungkai kaki dan berdiri dengan satu pijakan. Terakhir Kafka melakukan beberapa lompatan kecil.

"Uh!" Kafka mengembuskan napas. Ternyata benar, suasana di taman di pagi buta menyenangkan. Udaranya begitu segar dan sejuk. Belum lagi suara air pancur dari kolam di tengah taman, memanjakan pendengaran Kafka.

Setelah puas berkeliling, Kafka memutuskan kembali ke rumah sakit. Saat melintasi koridor suasana sudah tidak lagi sepi, tapi juga tidak bisa dibilang ramai. Setidaknya beberapa kerabat yang menjaga pasien keluar kamar. Ada yang duduk di bangku tunggu, atau berjalan-jalan seperti dirinya, juga ada  yang berkopiah dan bermukena. Adzan memang sudah berkumandang, jadi orang-orang itu pastilah menunaikan salat subuh.

Kafka mau membuka pintu kamar Azel ketika ia mendengar suara bernada berat dari dalam kamar. Itu bukan suara Azel. Itu jelas-jelas suara pria. Kafka mengintip dari kaca pintu, dan melihat punggung seseorang mengenakan pakaian pasien rumah sakit ini. Meski tidak melihat wajahnya, Kafka tahu siapa pria itu.

Shotgun WeddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang