Suara bel berbunyi nyaring. Maura yang berada di dapur berlari kecil menuju pintu. Saat pintu terbuka, senyum wanita itu merekah indah melihat siapa yang datang. Muara maju beberapa langkah, mengalungkan lengan di leher tamunya, dan mengecup bibirnya sekilas. Tamu itu tertawa, lalu menjewil hidung Maura.
"Ini masih di depan pintu. Kalo diliat tetangga gimana? Bisa-bisa kita dilaporin ke Pak RT dan diarak keliling kompleks karena pornoaksi," tegur si tamu, yang tak lain adalah Abytra. Tapi dilihat dari senyum di bibir Abytra, pria itu merasa tidak keberatan dengan ciuman yang diberikan Maura tadi.
Maura menyandarkan wajahnya di dada Abytra. Menghidu aroma tubuh pria itu. Wangi musk dari parfum bercampur aroma pewangi pakaian.
"Aku kangen," bisik Maura.
Abytra menyentuh bahu Maura, lalu ia mundur selangkah. Kini ia bisa melihat Maura dengan jelas. Abytra menyentuh dagu Muara, mengangkatnya sedikit hingga pandangan mereka kini bertemu.
"Kangen apanya, hm? Baru juga kemarin bertemu."
"Ah kau ini!" Maura memukul bahu Abytra dengan kepala tangannya. "Sama sekali nggak bisa diajak romantis." Maura memasang wajah merajuk. Bibir maju dengan wajah ditekuk.
"Oh mau romantis-romantisan? Bilang dong dari tadi. Yaudah sini. Aku peluk," Abytra merentangkan tangannya.
"Udah ah!" Maura mengibaskan tangannya. "Aku udah enggak kepengin lagi. Udah basi."
Maura melangkah masuk ke dalam rumah, menuju dapur. Abytra mengikutinya.
Rumah Maura berada di sebuah kompleks perumahan di daerah Depok. Bukan perumahan elit. Hanya perumahan biasa yang rumahnya tipe 36. Ukuran yang pas untuknya yang tinggal sendiri.
Seperti rumah tipe 36 pada umumnya, rumah Muara memiliki dua kamar tidur (satu kamarnya dan satu kamar tamu yang sering digunakan Abytra jika menginap), satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu dapur, dan satu kamar mandi. Dinding-dindingnya dicat warna putih tulang. Perabot di dalam rumah juga tidak terlalu banyak. Hanya ada satu kursi tamu, TV beserta bofetnya, lemari hias, dan beberapa pajang lukisan dan foto yang tergantung di dinding. Maura berpendapat, membeli banyak barang hanya akan membuat rumah ini semakin sempit. Lagipula akan repot untuk membersihkannya.
"Kau sedang masak apa?" Tanya Abytra sambil mengambil gelas di kabinet dan mengisinya dengan air di dispenser. Sekali teguk, air dalam gelas itu sudah mengalir membasahi kerongkongannya yang kering.
Bukannya menjawab, Maura malah balik bertanya. "Kau sepertinya sedang senang. Apa rencana kita berhasil lagi?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku," tuntut Abytra yang membuat Muara berbalik menghadap pria itu dan memutar matanya.
"Aku sedang masak makanan kesukaanmu. Kau puas?"
Abytra terkekeh. Ia paling suka menggoda Maura hingga jengkel seperti ini. Melihat wanita itu memutar bola matanya terlihat lucu.
"Waaah ... kau sepertinya benar-benar kangen padaku."
"Aku menyesal mengatakan itu tadi." Maura memutar tubuhnya dan kembali fokus pada masakannya, ayam tepung asam manis.
Abytra maju. Memeluk Maura dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Maura. Rambut Maura yang menjuntai lepas dari ikatannya mengenai pipi Abytra.
"Sepertinya kau yang kangen padaku," kata Maura.
"Aku lebih kangen dengan masakanmu," aku Abytra.
"Baiklah. Kau bisa menghabiskan semuanya nanti. Bahkan kalau kurang kau bisa makan sekalian dengan kualinya," kata Maura ketus. Tapi, meski begitu ada senyum tipis yang mengembang di bibir Maura.
"Kau pikir ak--"
Belum sempat Abytra menyelesaikan kata-katanya, Muara sudah memotong.
"Kalau kau masih terus ngoceh yang tidak penting, aku pastikan kau tidak mendapatkan sedikitpun. Jadi, jawab sekarang pertanyaanku tadi."
"Hmm ...," Abytra bergumam. Lalu, "Omong-omong pertanyaan yang mana, ya?" Abytra pura-pura lupa. Tentu saja itu bermaksud menggoda Maura.
"Baiklah. Kalau begitu nanti kau makan nasi putih saja. Jangan harap kau bisa menyentuh yang lain!"
"Oke-oke. Aku akan jawab. Tadi aku cuma menggodamu."
"Jadi?"
Abytra tersenyum lebar. Lalu berkata, "Kita berhasil. Kontrak kerjasama sudah ditandatangani. Thomas juga setuju aku menempatkan orangku di perusahaannya. Mulai besok, kau bisa bekerja di sana."
Maura bertepuk tangan. "Itu kabar bagus. Kita semakin dekat dengan tujuan kita."
Abytra mengangguk setuju. Sementara Muara mematikan api kompor, lalu memindahkan isi kuali ke piring. Lalu meletakkan peralatan kotor di bak pencuci. Saat Maura berjalan menuju meja makan, Abytra menghalanginya.
Abytra berdiri di hadapan Muara. Lalu disentuhnya pipi Maura. Perlahan Abytra menunduk. Satu kecupan dilabuhkannya di bibir Maura.
"Makasih udah berjuang selama ini bersamaku," bisik Abytra setelah kecupan singkat itu.
Maura tersenyum dan mengangguk. Lalu ditepunya bahu Abytra tiga kali dan berkata, "Kau pasti sudah lapar. Ayo kita makan dan rayakan keberhasilan kita."
Abytra mengangguk. Ia memimpin langkah menuju meja makan. Menarik kursi dan mempersilakan Maura duduk. Maura terkekeh pelan menyaksikan tingkah Abytra. Lalu keduanya menikmati makan malam yang diselingi cerita tentang rencana-rencana yang akan mereka lakukan untuk langkah selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
