Sore itu langit mendung. Dari jauh sudah terdengar suara guruh. Angin berhembus kencang, membuat suhu udara terasa dingin menggigit kulit. Abytra merapatkan jasnya, mendongak, memastikan hujan belum akan turun dalam waktu dekat.
Ketika memasuki gerbang pemakaman, Abytra mempercapat langkah. Ia tidak punya banyak waktu. Langkah Abytra begitu pasti, pertanda ia sudah hapal sekali tempat ini.
Abytra berhenti di antara dua makam. Tangannya mengepal, lalu mengembuskan napas berat. Setiap kali melihat dua nama itu terukir di batu nisan di hadapannya, dada Abytra terasa sesak.
Abytra memejamkan mata, berusaha mengendalikan diri. Matanya sudah terasa panas, dan sudut matanya perih, seolah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar. Jangan, jeritnya dalam hati. Ia tidak ingin menangis di saat seperti ini. Di saat ia berada di hadapan makam kedua orang tuanya.
Ya, di sinilah kedua orang tua Abytra beristirahat untuk selamanya.
***
Malam itu, seperti biasa, Abytra duduk di sofa berwarna merah ma run di ruang keluarga. Ia membaca majalah otomotif. Tak jauh darinya, Ayah menonton berita di televisi. Sementara Ibu berkutat di dapur, membuatkan kopi untuk ayah.
Saat jeda iklan, ayah menoleh kepada Abytra. Lalu pria itu bertanya, "Bagaimana kuliah kamu, By? Lancar?"
Abytra melepaskan pandangannya dari majalah, lalu mengangguk pelan. "Lancar, Yah."
"Kapan mulai nyusun?"
Abytra tergelak. "Ayah ini gimana, sih? Aby baru juga satu semester kuliahnya. Masa udah nanya nyusun segela?"
Ayah ikut tergelak. "Habisnya Ayah udah nggak sabar lihat kamu pakai toga."
Ibu keluar dari dapur, membawa nampan yang di atasnya ada secangkir kopi panas--yang aromanya sungguh membuat Abytra tergoda, sayangnya ia tidak boleh minum kopi karena malam ini ia harus tidur tepat waktu agar bisa bangun pagi-pagi untuk kuliah--dan stoples berisi keripik pisang buatan Ibu.
"Biarkan Aby nikmati kuliahnya dulu, Yah. Jangan diburu-buru," kata Ibu sambil meletakkan kopi di meja. Lalu Ibu duduk di sebelah Ayah.
"Seharusnya Ayah jangan tanyain skripsi. Tapi, Aby udah punya pacar belum?" Ibu mengerling. Menggoda Abytra.
Seketika wajah Abytra memerah. Lalu, "Apaan, sih, Bu? Kok malah nanya begituan," sungutnya malu-malu.
Ayah tertawa. "Ah, Ibu benar! Pasti di kampus banyak gadis cantik-cantik, ya. Udah ada yang buat kamu tertarik, belum?" Melihat wajah merah Abytra ternyata membuat Ayah semangat untuk menggoda putra semata wayangnya itu.
"Ah, Ayah! Jangan ikut-ikutan, dong." Abytra cemberut.
"Padahal waktu Ayah seumur kamu, udah banyak yang antre buat kencan sama Ayah, lho. Tapi, sayangnya Ayah udah jatuh hati sama ibumu ini." Ayah merangkul bahu Ibu, lalu memeluknya erat.
Sementara Ibu memukul paha Ayah pelan, "Ayahmu ini playboy. Suka godain mahasiswi. Mana godaannya norak lagi. Bikin Ibu malu aja."
Kisah ini sudah tidak asing lagi bagi Abytra. Ibu dan Ayah sudah beberapa kali menceritakan awal pertemuan mereka. Tidak ada yang spesial memang, sama seperti kisah percintaan orang kebanyakan, tapi entah mengapa bagi Abytra kisah cinta kedua orang tuanya selalu saja menarik untuk di dengar. Abytra tidak pernah bosan.
"Tapi akhirnya Ibu mau kan sama Ayah?"
Ibu tersipu malu. Tidak mampu menjawab.
"Omong-omong mengenai kuliah," Ayah kembali mengubah topik pembicaraan, "Kalau ada masalah segera beritahu Ayah dan Ibu. Sekecil apa pun itu."
Abyta mengangguk paham. "Oke," jawabnya.
"Ayah harap, Ayah masih punya waktu untuk melihatmu sarjana dan memakai toga."
***
Sayangnya, harapan tidak berjalan sesuai realita. Ayah tidak pernah sempat melihat Abytra memakai toga, begitu pun dengan ibu. Harapan itu dipaksa pupus oleh kematian.
Tangan Abytra terasa dingin memegang batu nisan ayahnya. Dadanya bergemuruh, dan ia mengigit bibir, mati-matian menahan isak yang terasa mendobrak ingin keluar. Pipinya sudah basah oleh air mata, bercampur gerimis yang mulai turun.
Abyta menyapu air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar. Sial! umpatnya. Seharusnya ia tidak boleh menangis seperti ini. Seharusnga ia tidak boleh menunjukkan betapa lemah dirinya di depan makan kedua orang tuanya. Nyatanya, Abyta tidak bisa menahan perih setiap kali kenangan tentang orang tuanya berkunjung. Kenangan itu indah sekaligus menyakitkan.
Ayah ... Ibu ... sebentar lagi aku pasti akan membalaskan semua sakit yang kalian rasakan. Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia.
Gerimis tipis berganti menjadi hujan. Abytra mengusap batu nisan ayah dan ibunya secara bergantian. Lalu, Abytra berdiri, lalu berjalan melintas pekuburan itu menembus hujan. Ia tidak memedulikan tubuhnya yang basah kuyup. Malah Abytra bersyukur hujan turun di saat yang tepat. Karena dengan begini, ia bisa menangis tanpa diketahui siapa pun. Hujan bisa menyamarkan air mata yang membasahi pipinya.
***
Hujan turun dengan lebat. Kafka bersantai di balkon, memangku gitar kesayangannya. Jari-jari kurus dan panjangnya memetik senar gitar, dan mulutnya bergumam mengikuti nada yang ia mainkan.
Sementara Azel baru keluar dari kamar. Saat ia melintasi balkon, permainan gitar Kafka membuatnya berhenti sejenak, sebelum melanjutkan langkah menuju adik tirinya itu.
"Boleh gabung?" tanya Azel membuat permainan gitar Kafka terhenti.
Kafka menoleh, setelah mengetahui orang yang menginterupsinya, ia tersenyum tipis dan mengangguk.
Setelah mendapat izin, Azel duduk di bangku jati tak jauh dari Kafka. Kafka kembali melanjutkan permainan gitarnya. Sementara Azel meletakkan tangan di perutnya, mengusapnya pelan, lalu memejamkan mata. Permainan gitar Kafka dan suara hujan seolah saling berpadu menjadi satu kesatuan yang indah.
"Sejak kapan kamu main gitar?" tanya Azel tiba-tiba.
Kafka menoleh, sekali lagi permainannya terhenti.
"Umur delapan tahun."
"Les atau ...."
Kafka menggeleng. "Bunda yang ngajarin. Bunda bisa main gitar."
Azel terdiam. Ia mengigit bibir. Menahan rasa sakit yang menyelip di hatinya.
Kafka yang menyadari perubahan sikap Azel, segera meminta maaf. "Maaf. Gue nggak bermaksud ....," Tapi ucapan itu dipotong oleh Azel.
"Nggak usah minta maaf. Lo nggak salah. Gue hanya belum siap setiap kalo lo nyebut nyokap lo."
Kafka mengangguk paham. Bagaimana pun Azel pasti terluka. Bunda ... wanita yang Kafka cintai sepenuh hati adalah orang ketiga yang masuk di antara hubungan Papa dengan ibunya Azel. Orang yang sudah menghancurkan keluarga bahagia yang dimiliki Azel. Kafka tidak bisa menyalahkan Azel yang masih membenci bunda. Sebab, Kafka yakin, ia pun akan melakukan hal yang sama bila hal itu terjadi kepadanya.
"Gue minta maaf untuk Bunda. Gue tahu Bunda salah. Tapi, gue ingin lo tahu kalo bunda menyesal. Bunda nggak pernah berharap jadi orang ketiga di dalam keluarga kalian. Tapi, cinta membuat Bunda lemah."
Azel menatap jauh. Lalu ia mendesah dan tersenyum getir. "Cinta emang sering membuat kita lemah dan nggak berdaya," katanya kemudian.
***
Halo semuanya. Aku balik lagi nih. Semoga masih setia menunggu kelanjutan SHOTGUN WEDDING, ya?
Oh iya, makasih yang udah vote selama ini. Tapi, komennya masih sepi. Please ... komen dong. Biar aku tahu kurangnya cerita ini dimana.
Oke segini aja dulu.
Sampai jumpa hari Jumat.
Bubay
Kamal Agusta
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
