#39: Before The Night Ends

18.1K 1.2K 39
                                        

Abytra tertatih-tatih menuju kamar inap Azel. Tulang-tulangnya terasa ngilu, tapi pria itu tetap memaksakan diri. Meski setiap beberapa langkah ia akan berhenti untuk beristirahat; memejamkan mata, mengatur napas dan menghilangkan nyeri yang menyerang persendiannya.

Tadi Abytra terbangun ketika suster datang untuk melakukan pemeriksaan. Suster mengatakan  besok Abytra sudah bisa pulang karena tidak ada luka yang serius, selain wajahnya yang penuh luka dan memar. Meski saat ini tubuh Abytra terasa remuk, tetap saja ia senang mendengar kabar itu. Rumah sakit bukan hal yang ia sukai--terlebih dulu di tempat inilah ia mengalami kehilangan. Setelah memastikan Abytra meminum obatnya, suster menyuruh Abytra untuk segera istirahat. Abytra mengangguk, dan suster pun pergi.

Namun, sepeninggal suster Abytra malah bangun dari posisi tidurnya, lalu turun dari ranjang. Ia ingin melihat Azel. Memastikan dengan matanya sendiri bahwa gadis itu baik-baik saja.

Setelah merasa berjalan ribuan kilometer--tentu saja ini hanya perasaan Abytra saja--Abytra mengembuskan napas lega saat melihat pintu kamar Azel. Tapi, mendadak langkahnya terhenti. Sebuah ketakutan menghantam dadanya.

Bagaimana kalau Azel tidak ingin bertemu dengannya? Bagaimana kalau Azel benci melihat dirinya? Bagaimana kalau Azel histeris dan mengusir dirinya?

Begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba menyerang Abytra. Pertanyaan yang membuat dadanya terpilin, dan hatinya gentar. Mungkin lebih baik ia mengurungkan niatnya saja. Daripada perasaannya menjadi buruk dengan penolakan Azel.

Namun Abytra mengeleng-geleng. Mengusir pergi semua gagasan buruk yang membebaninya itu. Apa pun yang terjadi seharusnya harus dihadapi. Ia seorang pria. Tidak boleh kabur dan bersikap pengecut setelah kesalahan yang ia buat. Lagipula ia tidak bisa selamanya menghindari ini. Cepat atau lambat ia akan bertemu dengan Azel, dan menghadapi gadis itu. Bukankah ia juga ingin meminta maaf kepada gadis itu? Maaf yang diucapkan secara langsung?

Abytra mengepalkan tangan, memejamkan mata, dan menarik napas panjang. Ia meraup udara sebanyak mungkin untuk menendang jauh gentar yang tadi hinggap di hatinya. Setelah merasa lebih yakin, Abytra membuka mata dan kembali melangkahkan kaki dengan susah payah.

Tapi belum sempat Abytra membuka pintu kamar Azel, tangannya terhenti di handle. Percakapan yang terjadi di dalam membuatnya bergeming. Lalu, Abytra merasa sekarang adalah waktu yang salah untuk menemui Azel. Terlebih dengan adanya Kafka di dalam sana.

Abytra membalikkan tubuh. Memutuskan untuk kembali ke ranjangnya saja dan membiarkan Kafka berbicara dengan Azel di dalam. Tapi, saat ia hendak pergi, percakapan saudara di dalam sana menghentikan langkahnya.

Abytra mendengar namanya disebut. Dan, itu menimbukan rasa penasaran baginya.

Abytra menahan napas, pertarungan hebat terjadi dalam dirinya. Mengenai apakah ia tetap hengkang dari sana atau memilih tinggal dan mendengar semua pembicaraan yang melibatkan dirinya.

Pada akhirnya, rasa penasaran itu yang menang. Abytra menyandarkan tubuhnya dan memasang telinga sebaik mungkin. Tidak ingin melewatkan sedikit pun pembicaraan Azel dan Kafka.

***

"Lo apain?!" tanya Azel dengan suara melengking lirih. Sungguh ia berharap apa yang baru saja ia dengar itu sebuah kesalahan. Tapi melihat reaksi Kafka, Azel merasa tidak ada yang salah dengan pendengarannya tadi.

"Gue hajar. Gue gebukin. Karena dia nyakitin lo."

Azel memejamkan mata. Lalu menghela napas panjang beberapa kali. Sungguh Azel tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Senangkah? Atau ia harus marah? Kepalanya berdenyut sakit, dan tanpa sadar erangan lirih melompat dari mulutnya.

Shotgun WeddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang