"Halo," wanita itu berdiri dan tersenyum sangat lebar saat melihat kehadiran sepasang remaja. Yang cowok bertubuh tinggi, ramping dan atletis. Sementara yang cewek bertubuh mungil, kulit putih pucat dan wajahnya manis. Lalu matanya turun ke perut si cewek yang terlihat besar. Si cewek yang sadar akan arah pandangan wanita itu segera menutupi perutnya dengan cardigan longgar yang ia kenakan.
Wanita itu, yang tak lain adalah Maura, menyampirkan rambut ikalnya ke telinga, lalu maju selangkah. Senyum manis menghiasi bibirnya yang dipulas lipstik berwarna merah cherry. Ia mengulurkan tangan kepada Azel, tapi Kafka malah berpindah ke samping, memisahkan gadis itu dengan Maura.
"Azel, bisa tinggalkan kami sekarang?" pinta Kafka dengan tatapan menatap tajam kepada Maura.
Azel tidak bergerak. Ia masih tetap di posisinya. Menatap Maura.
"Tolong tinggalkan kami," kali ini Kafka berkata lebih tegas.
Azel tersentak dengan nada mendesak dalam permintaan Kafka. Terlihat sekali ada hal urgensi yang tidak ingin Azel ketahui. Saat Azel menunduk, ia melihat tangan Kafka terkepal. Akhirnya Azel menghela napas, lalu melangkah mundur dan pergi dari sana. Tapi sebelum itu, Azel sempat menatap Maura dan wanita itu tersenyum kepadanya.
"Kau pasti sudah tahu siapa aku, kan? Kalau begitu kita bicaranya sambil duduk saja," kata Maura seraya berjalan kembali ke sofa dan duduk di sana. Ia menyilangkan kaki dan mengerlingkan mata, mengisyaratkan Kafka untuk duduk.
Tapi Kafka bergeming. Tatapan tajamnya masih menghujan Maura. Namun wanita itu mengabaikan tatapan membunuh Kafka. Ia malah tersenyum, seolah menegaskan tidak peduli sama sekali pada sikap tidak suka cowok tersebut.
Saat ini ada banyak pertanyaan yang dibenak Kafka. Dan yang paling mendesak adalah darimana kekasih simpanan Abytra itu mengetahui tentangnya. Apa Abytra memberitahu wanita itu tentang dirinya yang melihat mereka jalan bareng di bioskop?
"Antara aku dan Abytra tidak pernah ada rahasia," kata Maura. Kafka tersentak, tidak menyangka wanita itu tahu apa yang ia pikirkan.
"Abytra membagi semuanya denganku. Tentangmu. Juga gadis kecil yang menjadi istrinya saat ini."
"Apa tujuanmu?" tanya Kafka kemudian.
Maura mengibaskan rambutnya ke belakang. Seolah ingin mengulur waktu. Dan itu membuat Kafka menggeram marah.
"Cepat katakan apa tujuanmu menemuiku!"
Maura mengedikan bahunya. "Berkenalan denganmu dan Azel. Tidak adil kan kalau aku tahu tentang kalian, sementara kalian tidak tahu apa pun tentangku?"
"Aku tidak sudi mengetahui apa pun tentang perempuan yang menjadi simpanan suami orang."
Maura tertawa. Tawa yang seakan dibuat-buat. Mendengarnya saja bikin hati Kafka meradang.
"Oh ya? Tapi kurasa Azel akan tertarik untuk tahu siapa aku."
Kafka mengepalkan tangannya. Maura makin senang melihat remaja di hadapannya itu makin meradang.
"Dan kurasa kau juga akan tertarik kalau aku memberitahumu sebuah rahasia yang berkaitan dengan suami saudarimu itu."
"Apa maksudmu?!"
Maura menutup mulutnya, menahan tawa. "Nah, sekarang apa kau masih tidak ingin tahu tentangku?"
***
Kafka sampai di anak tangga teratas ketika berpapasan dengan Azel. Gadis itu menatap Kafka cemas, juga penasaran. Tapi belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, Kafka lebih dahulu berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
