Mama akhirnya tertidur setelah lelah menangis. Azel hati-hati turun dari tempat tidur, tidak ingin gerakannya membangunkan Mama. Setelah menutup pintu kamar tanpa menimbulkan suara, Azel mengusap wajahnya letih.
Sudah lama Mama dan Papa tidak bertengkar sehebat ini. Terakhir adalah saat Papa membawa Kafka tinggal sama mereka. Setelah itu Mama dan Papa lebih sering bersikap seperti dua orang asing. Kalau pun berbicara hanya saling menyindir. Dan Azel tidak tahu apa yang memicu pertengkaran kali ini. Tapi, kalau dikait-kaitkan dengan Kafka, pasti ada hubungannya dengan perselingkuhan Papa dulu.
Azel mendesah. Padahal hari ini ia ingin istirahat dengan tenang. Tapi malah ada keributan seperti ini.
Azel memutuskan ke kamarnya. Saat ia melewati pintu kamar Kafka, ia berhenti sejenak. Menatap pintu kamar itu dengan sedih. Selama ini ia tidak pernah peduli saat Mama menatap benci kepada Kafka. Tapi, tadi Azel tidak bisa berbohong, bahwa hatinya sakit saat melihat kepala Kafka tertunduk saat Mama memakinya. Azel tidak bisa melupakan ekpresi terluka di wajah Kafka tadi.
Azel mengangkat tangan, ingin mengetuk pintu kamar Kafka. Tapi, tangannya menggantung di udara. Pada akhirnya, Azel malah berbalik dan melangkahkan kaki ke kamarnya lagi. Ia merasa saat ini Kafka pasti ingin sendirian.
Sesampainya di kamar Azel malah terkejut saat menemukan seseorang duduk di tepi ranjang. Bagaimana tidak terkejut kalau yang ia lihat adalah Abytra?
"Kamu udah pulang?" tanya Azel setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya. Azel melihat jam di dinding. Masih jam tujuh malam. Terlalu dini dari jam pulang Abytra biasanya.
Abytra melonggarkan simpulan dasi di lehernya, lalu mengangguk.
"Kamu mau mandi sekarang? Kalau iya aku siapin handuk dan baju gantinya."
Abytra tidak langsung menjawab. Ia malah menatap Azel dengan lekat. Tatapan Abytra itu ternyata membuat Azel jengah.
"Kenapa?" tanya Abytra.
Kening Azel berkerut. "Kenapa apanya?
"Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini. Kau mengerjakan sesuatu yang bukan seperti kebiasaannya."
"Aku hanya ingin menjalankan tugas seperti istri."
Abytra berdiri. Lalu mendekati Azel. Kini mereka berdiri berhadapan.
"Tapi ini terlalu tiba-tiba."
Azel menunduk. "Menurutku ini malah terlambat dan terlalu lama. Seharusnya aku sudah memperhatikan dan menyiapkan semua kebutuhanmu sejak dulu."
Abytra mendengkus. Lalu terkekeh pelan. Hal itu tentu saja membuat Azel mendongak. Bertanya-tanya apa yang lucu dari ucapannya barusan sampai Abytra tertawa.
"Apa kamu jatuh cinta kepadaku?"
***
Apa kamu jatuh cinta kepadaku?
Abytra mengusap wajahnya. Saat ini ia berada dalam kamar mandi. Air mengalir dari shower membasahi seluruh tubuhnya. Abytra mengepalkan tangan, lalu menarik rambutnya dengan gusar.
Entah setan apa yang merasukinya sampai berani mengajukan pertanyaan tidak waras seperti itu. Dan yang paling gila, ada sepercik harapan dalam hati Abytra agar Azel mengatakan 'ya'. Sayangnya yang dilakukan gadis itu malah mengerjapkan mata dengan kebingungan, seakan-akan Abytra mengatakan kata asing yang sama sekali tidak ia mengerti.
Malu dengan pertanyaannya sendiri, Abytra langsung berbalik dan membanting pintu kamar mandi. Lalu menyalakan shower dan membiarkan air membasahi kepala hingga kakinya. Berharap air tersebut dapat menjernihkan otaknya yang kacau.
Abytra tertunduk. Ada kekecewaan di matanya. Entah mengapa, reaksi yang ditumjukkan Azel tadi malah membuatnya sakit.
Sial! maki Abytra sambil meninju dinding marmer kamar mandi. Seharusnya ia tidak boleh seperti ini. Ia harus mengingatkan diri bahwa tujuannya ke sini adalah untuk balas dendam. Dan gadis itu adalah salah satu objek yang akan ia lukai demi membalaskan dendam itu.
Tapi, sekarang kenapa ia mulai memikirkan gadis itu dan tidak mau berhenti memikirkannya?
***
Setelah Abytra menghilang ke dalam kamar mandi, Azel tertatih berjalan ke ranjang. Entah kenapa mendadak tulang kakinya terasa lembek, seperti kerupuk yang disiram air. Azel memejamkan mata, kedua tangannya diletakkan di dada kiri. Jantungnya berdegup sangat kencang.
Apa kamu jatuh cinta kepadaku?
Pertanyaan itu bergema kembali di dalam kepala Azel. Azel geleng-geleng kepala. Berusaha mengenyahkan itu dari kepalanya.
Setelah degup jantungnya mulai menemukan ritmenya, Azel mengembuskan napas panjang. Sungguh ia tidak pernah menduga pria itu akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Untunglah tadi Azel bisa menggendalikan diri di depan pria itu, meski detak jantungnya meningkat. Ia mengerjapkan mata dan berpura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Azel mengigit bibir bawahnya. Ternyata pertanyaan Abytra tidak mudah untuk dienyahkan. Sekarang Azel malah memikirkan pertanyaan itu.
Apakah dirinya memang mulai menyukai pria itu maka bersikap seperti ini? Atau semua tindakannya ini adalah wujud dari rasa bersalahnya kepada Abytra.
Azel mengembuskan napas panjang. Ia sendiri pun bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Yang ia tahu, saat ini ia hanya ingin menjalani kehidupan sebagai seorang istri yang sebenarnya. Dan cara untuk mewujudkan itu adalah memperhatikan dan menyiapkan segala kebutuhan Abytra.
Lalu tiba-tiba Azel tersentak saat satu gagasan melintas di benaknya. Apa Abytra tidak suka kalau ia bersikap seperti seorang istri?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
