Abytra menetap lekat wajah Azel yang sedang tertidur. Napas gadis itu begitu teratur. Tangannya berada di atas perut yang terlihat makin membuncit. Dalam benak Abytra bertanya-tanya, sudah memasuki usia berapakah kandungan Azel saat ini?
Pria itu mengulurkan tangannya, menyentuh perut Azel. Di dalam sana, ada satu kehidupan yang sedang terbentuk. Ada satu jantung yang berdenyut. Tanpa sadar, Abytra mengusap perut itu. Ingin merasakan keberadaan si janin. Setidaknya satu gerakan pelan. Namun, yang terjadi Abytra malah tersentak saat sebuah tangan jatuh di atas tangannya. Lalu tangan kecil itu menggenggam tangannya yang besar. Saat Abytra mendongak ia melihat Azel sudah terbangun dan tersenyum kepadanya.
"Sudah lama kamu pulang?" tanyanya dengan suara lirih. Lalu gadis itu berusaha untuk duduk. Abytra membantunya. "Makasih," ucap gadis itu setelah berhasil duduk.
Abytra mengangguk. Lalu pria itu berpindah posisi. Kini mereka duduk bersisian dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Tangan saling menggengam dan diletakkan di atas paha kiri Abytra.
"Maaf aku membangunkanmu," kata Abytra sambil menelusuri punggung tangan Azel dengan tangan kanannya yang bebas. Tangan gadis itu kecil dan kurus.
Azel menggeleng dan tersenyum. "Memang sudah seharusnya aku bangun," jawab Azel. "Jadi ... kamu tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf," tambahkan kemudian dan mengeratkan genggaman.
Abytra menoleh. Tatapan mereka bertemu. Saling mengunci. Untuk sesaat mereka terus begitu. Diam. Hanya mata mereka yang seolah berbicara. Saling menyelami perasaan masing-masing.
Satu detik. Tiga puluh detik. Lima menit. Hingga lima belas menit. Tidak ada yang berbicara. Mereka membiarkan keheningan dan deru napas mereka yang seolah saling bersahutan mengambil alih. Hingga akhirnya, Abytra mengulurkan tangan, dan menyingkirkan rambut yang menempel di pipi Azel. Gadis itu memejamkan mata, merasakan sentuhan tangan Abytra di tangan.
Melihat Azel memejamkan mata membuat Abytra tersenyum. Lalu, pria itu memajukan wajahnya hingga menyempitkan jarak di antara mereka. Abytra bisa merasakan deru hangat napas gadis itu.
Tapi Abytra tida mengecup bibir Azel. Ia malah menempelkan kening mereka dan berbisik, "Mengapa kau memejamkan mata, hm?"
Azel membuka matanya dan mengerjap. Rona merah menyebar di pipi pucat gadis itu. Wajah tersipu Azel mengingatkan Abytra pada lelehan sirop stroberi di atas es krim vanila. Manis.
"Lebih baik aku siapkan handuk dan pakaian bersih untukmu. Kamu pasti lelah dan ingin segera mandi," kata Azel dengan suara bergetar. Gadis itu ingin beranjak tapi tangan besar Abytra menahannya.
"Aku tidak ingin mandi," bisik Abytra. "Aku ingin ini."
Tanpa memberi Azel kesempatan, Abytra mendekatkan wajah dan melabuhkan kecupan di bibir Azel. Mulanya pria itu mengecupnya pelan. Menikmati rasa manis yang menyerang pengecapnya. Merasakan setiap sensasi yang ia dapatkan ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir ranum Azel. Rasanya selalu sama. Hangat, manis, dan menyenangkan.
Abytra menyelipkan jemarinya di sela jari Azel, lalu menggenggamnya erat. Bibir pria itu masih bertahan di bibir Azel. Untuk sesaat Abytra berharap waktu berhenti. Agar momen ini tidak pernah berakhir.
***
Kafka membuka pintu geser terbuat dari kaca yang membatasi kamar dan balkon. Lalu kaki cowok itu melangkah ke arah balkon. Cowok itu lalu duduk di sudut kanan. Punggungnya bersandar ke pagar pembatas dan kaki berselojor. Mata Kafka tertuju ke arah balkon kamar Azel yang hanya berjarak beberapa meter. Di rumah ini, setiap kamar, terdapat balkon kecil.
Kafka teringat pembicaraannya dengan Abytra tadi. Pria itu terlihat terkejut saat Kafka mengatakan bahwa Maura memberitahunya tentang sebuah rahasia. Bahkan Kafka bisa menyadari wajah pria itu memucat. Ada cemas dan takut di dalam matanya. Gelagat pria itu membuat Kafka curiga kalau ada sesuatu yang pria itu sembunyikan. Sayangnya Kafka tidak tahu apa rahasia itu. Maura sama sekali tidak memberitahunya.
Kafka menghela napas panjang. Dalam hati ia bertekad untuk mencari tahu rahasia yang disimpan Abytra. Agar ia bisa bersiap-siap untuk melindungi Azel agar tidak terluka. Karena ia yakin ini pasti berkaitan dengan Azel.
Angin berhembus pelan. Langit mulai dipenuh corak berwarna jingga. Burung-burung terbang melintasi langit, pulang menuju sarang. Dan Kafka memejamkan matanya. Seandainya Bunda ada di sini, Kafka pasti akan menceritakan masalah ini pada Bunda. Setidaknya ia tidak perlu menanggungnya sendiri. Setidaknya ia punya pegangan untuk tahu harus melakukan apa, demi hasil yang terbaik.
Sayangnya ia sendiri. Bunda tidak ada lagi di sini. Dan ... ia harus menerima kenyataan itu.
***
Beberapa jam sebelumnya ....
"Rahasia?" Kafka menatap Maura dengan penasaran. Entah kenapa ucapan wanita itu membuatnya tertarik. "Cepat katakan apa itu," pintanya mendesak.
Tapi, Maura sekali lagi hanya tertawa. Wanita itu berdiri, merapikan rok yang ia kenakan lalu berkata, "Sepertinya aku berubah pikiran." Ternyata Maura hanya ingin mempermainkan Kafka. Ia ingin membuat cowok itu makin geram dan marah. Entah mengapa melihat rahang cowok itu mengeras dan wajahnya merah padam, memberikan hiburan bagi Maura.
"Cepat katakan!" Sekali lagi Kafka mendesak. Gigi cowok itu bergemeretak menahan marah.
"Untuk apa aku memberitahumu? Kau kan tahu kalau kita berada di sisi yang berbeda. Aku tidak bisa mengkhianati orang yang berada dipihakku."
"Lo ..." Kafka membentak, ingin memaki wanita itu denga sejuta kata kasar, tapi tidak ada satu pun yang bisa ia keluarkan. Kemarahan membuatnya sulit untuk berkata-kata.
"Lebih baik aku pergi sekarang." Maura tersenyum lebar, lalu berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah wanita itu berhenti dan menoleh lewat bahunya. "Kuberitahu satu hal, rahasia ini akan menyakiti Azel. Jadi, kuharap kau mulai berhati-hati dan melindungi gadis itu. Bagaimana pun aku ini perempuan, dan tidak ingin ia syok dan kehilangan bayinya karena rahasia kami ini."
Setelah mengatakan itu Maura melenggang pergi dengan tenang. Sementara Kafka menatap punggung wanita itu dengan tatapan tajam.
***
Halo semua. Balik lagi nih. Yang kemarin nunggu sweet momen, aku kasih nih. Semoga pada suka, yaaa ... jadi pada mau voment.
Menurut kalian, apa yang akan dilakukan Abytra untuk menghentikan Maura?
Yang jawabannya benar aku doain enteng jodoh, deh. Hihihi ...
Segini dulu deh.
Sampai jumpa lagi.
Bubay
Kamal Agusta
KAMU SEDANG MEMBACA
Shotgun Wedding
RomanceUPDATE TIAP HARI!!! High Rank #28 (31/03/2018) "Aku ingin membencimu. Tapi, yang terjadi, aku malah semakin jauh jatuh cinta kepadamu." Hanya demi kenikmatan sesaat, Azel kehilangan masa remajanya dan mengorbankan masa depannya. Sekarang Azel harus...
