36.Bertemu.

2.3K 345 39
                                    

Sabtu siang yang begitu tidak produktif, aku dan dia hanya tiduran dikamar, berdua namun seperti sendiri. Kita sibuk dengan aktifitas masing-masing. Lebih tepatnya sibuk dengan dunianya sendiri. Aku dengan dunia fiksiku dan dia dengan dunia permainan nya.

Tidak ada hal yang lebih penting dari menaikan rank di game kata Kinal! Kuliahnya memang sudah tinggal menunggu kapan waktunya sidang, jadi kerjaanya akhir-akhir ini hanya tidur, makan dan main game. Bagaimana badan nya tidak semakin lebar kalau kerjaanya hanya seperti itu, dia melakukannya sepanjang hari sepanjang bulan dan tahun. Heuh! Aku saja yang melihatnya bosan, tapi dia bilang walaupun aktifitasnya itu cukup monoton selama ada aku disampinya dia tidak akan keberatan melakukannya sepanjang hari.


Itu bohong!



Padahal kalau sudah bosan dia akan uring-uringan, teriak-teriak sendiri. Terkadang kalau dia sedang kambuh agak serem.



Kambuh gilanya.


Aku tiduran disebelahnya, mata kita sama-sama fokus akan hal yang kita pegang, walau aku tau terkadang dia melirikku, aku biarkan saja dia seperti itu, aku tidak akan tanggung jawab kalau tiba-tiba matanya jadi jereng.

Aku tau aku cantik.


"Jadi hari ini gak bisa banget malem mingguan?" Kata dia dengan tangan yang terus memencet layar hapenya.

Aku menoleh, malas sekali matanya sama sekali tidak menoleh kearahku."Iya, gapapa kan? Aku terlanjur janji sama mamah."

Dia terlihat mematikan layar hapenya setelah dia berteriak.


Ah, kalah kan gw! Gak bener nih mainnya si Adul!



Dalam hati, aku mengucap kata syukur yang sedalam-dalamnya dan berterimakasih pada,




Sisil.



Aku menatapnya tersenyum tipis walau dalam hati aku tertawa melihat dia yang masih kesal akan kekalahan gamenya, setelah dia sadar aku menatapnya dia menoleh ke arahku.

"Sisil Ve."

"Iya tau, gak mungkin ka Melody kamu panggil Adul".

Dia terkekeh. Kemudian dia bangkit dari posisi tidur nya, duduk bersilah kearahku.

"Padahal tadinya mau ngajak kamu ketemu sama mami."

"Mami keteater?" Tanyaku menutup buku yang sedari tadi aku baca.

"Bilangnya sih gitu, aku fikir mamahmu juga dateng, soalnya kata mami mau ngumpul."

"Emm mamah sih gak ngomong apa-apa ke aku, malah ngajak aku bikin kue."

"Oh gitu. Tapi nanti anter aku ke fx kan?"

"Iya, sekalian aku pulang."

Dia menampakan wajah sedihnya, mendengar aku akan pulang.

"Kenapa?"

"Pulang terus, tidur sendiri lagi."

"Feni kamu anggep apa?"

"Ya orang Ve, masa setan."

Iya juga.

"Ya berarti gak sendiri, berdua sama Feni."

"Feni gak bisa aku peluk, kalau pun paksa aku peluk pasti rasanya beda."

"Heh! Jangan maksa-maksa Feni hal yang enggak-enggak deh."

Dia terkekeh lagi mengangkat dua jari nya ke atas tanda damai.

Ngomong-ngomong Feni, anak itu sejak tadi pagi kerjaanya tidak jauh berbeda dengan Kinal, kalau Kinal dengan gamenya, Feni dengan film dramanya.

Ya ini semacam like a umi like a anak.

.
.


Sudah pukul 3 sore aku dan dia bersiap pergi ke tempat teater, Feni sudah duluan, dia memilih naik ojek online, itu lebih baik dari pada jadi lotion anti nyamuk begitu katanya.

Jakarta macet. Tapi beruntung aku dan dia sudah sampai dengan selamat.

"Turun dulu yuk." Kata dia melepaskan seat belt nya.

"Kemana? Aku langsung pulang aja deh."

"Sebentar aja." kata nya kekeuh langsung melepaskan seat beltku.

Kini aku dan dia sudah berada di lantai 2 dimall ini, dia terus menggandeng tanganku, aku tau banyak mata yang memperhatikan genggamannya tapi dia seakan tidak perduli.

"Sudah biasa kan? Kalau aku gandengan sama Saktia trus diliatin baru gak biasa." Kata dia tanpa melihatku.

Aku sedikit tertawa, mengangguk membenarkan ucapannya.

Saat mataku menatap lurus dan disana terlihat ada ibu dan kaka nya, aku menghentikan langkahnya

"Kenapa?"

Aku hanya menatapnya ragu, perjanjiannya tidak seperti ini, kalau pada akhirnya aku akan bertemu juga dengan ibu nya aku tidak akan mengenakan pakaian sebiasa ini, ditambah lagi ada kaka nya disana.

Aku malu, Kinal.

"Mami gak akan tiba-tiba nanyain kamu pacar Kinal ya Ve?" Ucapnya dengan suara yang dia miripkan dengan suara ibu-ibu.

"Gak akan Ve."

Hih! Paus! Gak gitu!

Tapi iya juga sih.

"Tenang Ve, baru ketemu doang, lagian aku belum bawa seperangkat alat solatnya."

"Kinal!"


Dia tertawa dan dia mendahluiku sebelum aku memukulnya.











Ehehe

#TeamVeNalID

VERANDA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang