26.After Playdate

3K 370 37
                                        

Sekarang aku, dia, Feni, Zara dan kedua orang tuanya. Ya, maksudku ka Melody dan Lidya. Sedang menikmati makan siang kita direstoran cepat saji.

Setelah mencoba berbagai permainan, Feni dan Zara akhirnya mengeluh lelah, memang yang sedari tadi lebih banyak main hanya Lidya, Kinal, Zara dan Feni sedang kan aku dan ka Melody hanya duduk menunggu mereka sesekali juga ikut bermain.

"Ve, Nal, kita abis makan langsung cabut ya, kita ada teater" Ucap ka Melody mengelap bibirnya dengan tisu, membersihkan sisa makanan tadi.

"Oh yaudah, lagian udah sore juga ka" Jawab Kinal.
"Kamu jadi dijemput Yona, Fen?"

"Heem, mamah bentar lagi juga nyampe, umi mau ikut?"

"Eh hehe"

Feni memberikan cengiran canggung nya saat Kinal mengkode akan kehadiranku.

"Gak deh, gw di sini aja, salam aja buat mamah nya Yona"

"Coba gak ada ka Ve disini pasti lo ikut"

Kinal melempar sedotan yang sedari tadi dia pegang tepat diwajah Lidya.

Aku hanya pura-pura tidak melihat mereka berdua, yang sedari tadi menyinggung mengenai perasaanku.

"Siap" Ucap Feni lagi mengacungkan jempolnya, membalas ucapan kinal tadi. 

"Mamah" Teriakan Feni membuat kita semua mengikuti arah pandang Feni, Feni melambaikan tangannya, menyapa Yona yang kini berdiri di luar restoran tersenyum sangat tipis.

"Umi, ka Ve, mami, Ka Lids, Feni pulang dulu ya, Zara titip ka Lids ya dadah"

Feni sedikit berlari, melangkahkan kakinya keluar, aku masih bisa melihat Feni yang kini memeluk Yona begitu erat. Kemudian Yona merangkul Feni, mereka berjalan pergi.

"Dih si nenek sombong banget, kaga masuk sama sekali, nyapa gw kek" Grutu Lidya menatap sebal ke arah perginya Yona.

Memang terlihat aneh, ku yakin Yona tau kalau ada Lidya disini, kenapa dia tidak masuk dan menyapa teman nya? Apa karna ada aku? Atau karna enggan bertemu dengan Kinal? Ntahlah.

"Emang lo siapa?" Tanya Kinal pada Lidya.

"Sembarangan lo, gw gini-gini juga tau semua rahasia lo sama Yona ya"

"Ngomong sekali lagi, gw gaplok lo Lid"

"Tuh kan langsung panik hahaha"

"Gak usah diambil hati ya Ve, Lidya sama Kinal kan emang 11 12, harus banyak sabar"

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan ka Melody, aku bisa melihat dari ujung mataku, dia yang kini memperhatikanku begitu khawatir.

Mungkin dia takut kalau aku akan marah lagi.





Semua pikiran bercampur menjadi satu, sepeninggalan ka Melody lidya dan juga Zara, kini hanya ada sepi diantara aku dan dia.

Saat aku merasakan cinta yang kadang tak menentu.
Merangkai kisah dalam kesedihan.
Melewati hari-hari dengan kesunyian.
Meracik kesedihan dan kebahagian dalam satu tumpukan.


Hatiku yang dibuat bimbang, hati yang dibuat percaya kemudian dijatuhkan lagi.
Kini kosong tanpa arah dan tujuan


Harus berbuat apa aku sekarang?


Nyatanya dia memang mempunyai hal spesial dengan Yona. Nyatanya kini aku mulai memikirkan secarik celetukan Lidya.


Suaranya yang memanggilku seakan terlewat begitu saja menembus lorong dalam telingaku, pikiranku jauh menatap pada jalanan jakarta yang padat.


VERANDA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang