Rasanya badan sudah terasa capek, mungkin kalau tidak alasan karna rindu, aku akan mengiyakan ucapan mamah untuk menginap lagi, tapi semua itu tidak aku lakukan. Aku sudah terlalu lama meninggalkan nya berlibur.
Liburan imlek memang aku habiskan untuk berkumpul dengan keluarga, bertemu saudara jauh juga, imlek memang sama spesial nya dengan natal untuk ku, ya momen bertemu keluraga itu yang mungkin di tunggu semua orang yang merayakannya.
Waktu sudah hampir tengah malam pantas saja, lorong aparteman terasa sepi, dan syukurnya aku sudah sampai didepan pintu kamarku tanpa harus menelpon dia untuk menjemputku di bawah. Kalau sudah malam aku hanya takut saja akan ada hal yang tidak-tidak, biasanya aku meminta dia untuk menjemputku tapi kali ini, tidak aku lakukan karna aku tau dia sibuk.
Dia sibuk belajar untuk mempersiapkan sidang skripsi nya, aku bangga, walau dia terkadang malas-malasan dalam belajar pada akhirnya dia sampai juga di waktu rasanya ingin mundur saja, skripsi memang hal paling berat untuk siapa saja yang berkuliah.
Tunggu, kamar di depanku lampu nya menyala, dia dan Feni jika tidur pasti lampu nya akan dimatikan, apa mungkin belum tidur? Ah tapi ini sudah hampir jam 12 malam, pesanku saja terakhir dia balas jam 10 malam tadi.
Aku memutuskan untuk membuka pintu kamarku, lampu nya mati namun di sudut meja belajar menyala,
Ku tarik nafasku, aku hanya bisa menggeleng, lagi-lagi aku mendapati dia yang tertidur di meja belajar dengan kertas-kertas bertuliskan kanji Jepang.
Aku berjalan mendekati nya, menaruh tasku, harus dari mana aku melakukannya? Membangunkan nya terlebih dahulu atau membereskan kertas-kertas yang berserakan.
Tapi rasanya risih aku tidak suka melihat kamarku berantakan, lagian dia terlihat lelah, sampai suara kemasanku pun tak mengusik tidurnya. Kasian sekali pasti tidak nyaman tidur seperti ini.
Setelah selesai merapikan semuanya, aku menarik kursi duduk disebelahnya. Dia mulai terusik mengerjapkan matanya saat aku beberpa kali menyentuh kepalanya. Aku tidak bermaksud mengganggu tidurnya, aku hanya ingin dia tidur lebih nyaman.
"Ve"
Aku tersenyum menerima panggilanya, dia masih mengerjapkan matanya mulai meregangkan ototnya yang kaku, pencahayaan yang hanya di hasilkan dari lampu belajar membuat Kinal berkali-kali mengerjapkan matanya.
"Aku ketiduran, udah lama?" Kata nya menyandarkan tubuhnya pada kursi, lingkaran hitam pada matanya masih bisa aku lihat walau keadaan gelap, apa dia belajar begitu keras?
Aku ingat saat dulu aku sedang proses skripsi juga dia selalu ada untukku, memberi semangat secara langsung ataupun tidak, aku merasa bersalah saat seperti ini aku sibuk akan kegiatanku sendiri. Hm.
Aku mengangguk menjawab ucapanya. "Ngantuk banget ya?." Kataku akhirnya memecah semua pikiran rasa bersalahku, aku menyentuh pipi nya, dia yang mungkin masih mengantuk malah menaruh wajahnya,memejamkan matanya lagi, seakan tanganku adalah tempat tidur ternyaman nya.
"Heem"
Aku menegakan kepalanya, kini pipinya aku tangkup dengan kedua tanganku, matanya masih terpejam, si pemalas ini benar-benar mengantuk.
"Aku gak tau kalau kamu tidur disini."
"Aku kangen, jadi aku kesini, lagian disebelah ada angel, berisik."
Pantas saja kamarnya masih menyala, rupa nya bala-bala Feni sedang menginap, Feni saja sudah berisik di tambah Angel. Orkes dangdut juga kalah berisiknya.
"Maaf ya, mamah gak ijinin aku balik cepet-cepet, dirumah juga masih banyak saudara."
Dia membuka matanya, tanganya berbalik menyentuh pipiku. "Gemes." Katanya mencium pipiku.
"Kamu gak salah kenapa harus minta maaf." Lanjutnya menatapku.
Aku mengembungkan pipiku, ya bukan begitu, aku hanya merasa bersalah tidak menemani nya, aku tau saat seperti ini dia pasti membutuhkan ku.
Melihat aku yang hanya diam, dia malah tertawa.
"Aku gapapa Veranda."Dia menggeser kursinya lebih mendekat lagi ke arahku, menyentuh pipiku lagi.
"Denger ya, waktu kamu itu bukan hanya tentang aku, tapi keluarga. Keluarga juga harus kamu pikirin bukan cuman aku, biarpun aku kangen kamu tapi aku gak mau egois, kalau kamu ninggalin aku buat urusan keluarga aku gapapa Veranda."Aku sedikit tersenyum akan penuturannya. "Nal."
"Makasih ya." Kataku dia mengangguk.
Aku mengecup pipi sebelah kirinya, dia tersenyum menolehkan kepalanya ke arah kanan, aku mengerti dan mencium pipi nya lagi.
Dia menatapku begitu dalam, manik mata nya seakan memancarkan cahaya di dalam kamar yang gelap, aku memejamkan mataku saat bibir tebal nya menyentuh keningku.
"Happy CNY Ve, semoga ini menjadi tahun baik untuk kamu, aku dan kita."
#TeamVeNalID
