"NAH! Jadi," timpal Pak Ipul sambil melirik sinis anak bandel di depannya. "Kamu harus kumpulin tugas makalah dan tugas Bu Joan besok Senin! Tidak peduli apa yang terjadi! Mau kucingmu mati-lah, mau anjingmu ketabrak pohon-lah, mau hamstermu dimakan kucingmu yang udah mati-lah, kami gak akan mendengar alasan gak masuk akal itu lagi!" ucap Pak Ipul agak sedikit membentak.
"Sori, Pak, tadi nama anak cewek itu siapa dah?"
Lagi-lagi satu jeweran berhasil mendarat di telinga Rio. Entah dari Bu Joan atau dari Pak Ipul.
"Kamu itu dengerin saya atau nggak, sih? Saya ini lagi bicara sama kamu! Tunjukkan sopan santun, dong!" Pak Ipul berkacak pinggang.
"Dasar cowok! Matanya kemana-mana! Namanya SELI! S-E-L-I! Inget namanya tuh! Biar bisa jadi teladan buat kamu!" seru Bu Joan menjawab.
"Kamu masih punya waktu buat nyelesain tugas-tugas itu. Sore ini dan minggu besok. Kalo tidak kumpul Senin, kami akan kasih NOL di raportmu! Kamu tau kan apa yang terjadi kalau nilai di raportmu ada yang nol?! Kamu gak akan naik kelas meski kamu anak kepala sekolah ini sekalipun!" ancam Pak Ipul yang membuat Rio sukses meneguk ludahnya kasar.
"Kami gak akan berbelaskasih ke kamu lagi. Sudah cukup kamu main-main sama kesabaran saya." Bu Joan berkata sambil membereskan buku-buku di mejanya.
"Ya, Bu, Pak.."
Mendengar jawaban pasrah dari pembuat onar, Bu Joan serta Pak Ipul mengulum senyum menang. "Sudah! Sana keluar sebelum saya makin gila melihat wajahmu itu! Dan jangan lupa cukur janggutmu itu!" perintah Pak Ipul kesal.
"Duh, wajah saya seganteng itu ya, Pak, sampe bikin Bapak gila," ucap Rio sambil berjalan berbalik, ingin meninggalkan Bu Joan dan Pak Ipul.
Cowok itu segera kabur sebelum ada kursi asli yang melayang ke arahnya. Ia akhirnya sukses terbebas dari neraka setelah lima belas menit berdiri terus di dalamnya. Ia lalu segera menemui teman-temannya yang telah menunggunya di kantin. Lebih tepatnya, ia menemui semangkok bakso.
"Woi, lama banget lo! Daritadi di tungguin," seru Lian. "Nih, gue udah mesenin bakso."
Rio memandang sahabat -semati sehidup- nya haru. "Thanks, bro. Barusan masih ada masalah sama badak Jawa en Sumatra."
"Elo sih, udah tau dipelototin masih aja baca komik."
"Bosen, Pip. Omongannya gak ada yang menarik, tau."
"Karepmu lah." Jawab Afif dengan logat jawanya sambil menyeruput es jeruknya.
Rio mengangkat sendoknya lalu memasukkan suapan bakso pertamanya ke dalam mulutnya. "Eh, gue mau tanya. Seli Melani itu siapa sih?"
Semburan es jeruk dan es teh dari Lian dan Afif mendarat sempurna di wajah Rio. Membuat laki-laki itu memejamkan matanya sejenak sambil tersenyum kesal.
"Wah, sumpah lo, Yo, gak tau?" tanya mereka bersamaan. "By the way, correction: namanya Seli Adelia, bukan Seli Melani. Jauh amat sih dari Adelia ke Melani. Sumpah lo gak tau?"
Laki-laki blasteran itu mengusap wajahnya yang sedikit basah dan mengkilap akibat perpaduan antara es jeruk dan es teh bercampur di wajahnya. Sekarang ini, ia berusaha keras menahan amarahnya terhadap dua insan bodoh di depannya itu. Lantas dia hanya mengedikkan bahunya cuek. "Emangnya kenapa?"
"Aduh, lo itu sekolah disini udah berapa tahun sih, Yo? Dia kan terkenal bangett," tanya Afif yang masih mengunyah batagor.
"Parah-parah," celetuk Lian sambil menggelengkan kepalanya.
"Alay lo, baru juga setahun setengah."
"Namanya itu kan udah disebut bolak-balik pas upacara!" seru Afif.
"Dia itu ya, udah pinter, jadi juara disana sini, cantiknya minta ampun lagi," puji Lian dengan semangat. "Tapi..."
Rio menatap kedua laki-laki itu bergantian sambil mengunyah bakso, menunggu temannya melanjutkan kalimat yang membuat Rio penasaran.
"Dia itu cantiknya minta ampun tapi juteknya juga minta ampun, apalagi kalo ke cowok. Hii.. serasa ngomong sama patung kulkas.. mati kutu kalo ngomong sama dia," lanjut Lian.
"Lo sekelas sama dia gak sih?" tanya Afif yang dibalas anggukan dari Lian.
"Terus gimana dia di kelas?" gantian Rio yang bertanya.
"Ya, pinter kayak biasanya. Gak pernah ngelawan guru. Selalu mau kalau disuruh-suruh sama guru. Dan seperti biasa, selalu mengabaikan spesies cowok macam gue ini," Lian menjelaskan seraya memutar matanya. "Emang napa sih kok tiba-tiba nanyain Seli?"
Kepala Rio bergerak ke atas dan ke bawah setelah mendengar penjelasan dari temannya yang menurutnya super-alay. "Nggak, lagi penasaran aja." Ia kemudian mengamati sekelilingnya. Matanya kembali menangkap sosok perempuan yang baru saja dibicarakan, sedang membeli sebungkus roti. Ah,panjang umur.
●▪●▪●
---------------------------------------------------------
P.S :
Terimakasih sudah mampir😊
Nantikan update-annya terus ya♡
Maafkan jika ada kesalahan🙏saya masih baru sih, hehehe
Jangan lupa VOTE, comment, dan follow yah☆
Thankyou
감사합니다
KAMU SEDANG MEMBACA
Arrhenphobia [END]
Fiksi Remaja#1 in phobia Pertemuan dengannya di ruang guru membuat Rio;cowok bandel nan tampan; terus penasaran dengan satu gadis yang selalu menganggap dirinya hama. Gadis yang selalu membawa inhaler dimanapun ia berada. Gadis yang selalu gondok jika bertemu d...
![Arrhenphobia [END]](https://img.wattpad.com/cover/139430355-64-k688708.jpg)