Setibanya di sekolah, wajah Lita kembali muram. Saat menginjakkan kaki di koridor kelas 8, entah mengapa pikirannya selalu mengulang kejadian pahit itu. Mata sembap Lita menjadi bukti, betapa lamanya ia menangisi lelaki brengsek seperti Evan.
Saat tiba di kelas, suasana nya tidak seperti dulu, aman, tentram, dan damai. Denotasi kelas ini sudah jelek dimata Lita, karena kelas ini adalah tempat kehancuran Lita.
Lita berusaha tegar, ia memasuki ruangan ini dengan pelan namun pasti. Ia juga merapalkan doa agar tidak menangis. Sesampainya di bangku, ia melepaskan tali ranselnya, dan menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Ia tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya yang mendadak diam. Lita juga tidak penasaran dengan apa yang membuat mereka tak berkutik.
Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang mengelus pundaknya. Tangan itu tidak familier di kulit Lita. Namun gadis itu membiarkan saja, ia terlalu malas untuk mengangkat kepalanya.
"Dek.." panggil sesorang
Spontan, Lita langsung mengangkat kepalanya, membuat si empunya tangan kaget.
"Astaga, ya Tuhan." ucap Zevan sambil mengelus dadanya.
Lita menatap Zevan tanpa kedip. Mukanya juga seperti orang kebingungan. Lama-kelamaan ia tersadar dari lamunannya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Lita
"Ok, saya balik ke kelas ya,"
"Hah?" Lita benar-benar seperti orang bodoh. Tengak-tengok ke kanan kiri, berharap ada seseorang yang menjelaskan.
"LITA, KAKAK KELASNYA PERGI! DI CEGAH, NAPA?!" ucap Michelle tergopoh sambil mengguncangkan lengan Lita.
"Oohh. Okay, sekarang aku butuh hp. Iya handphone. Aduh, aku taruh mana ya tadi," Lita seperti orang stress, merogoh loker, saku kemeja, dan saku rok sambil merancau tak jelas.
Setelah dengan sepenuh hati mencari smartphone nya, yang akhirnya ketemu di tas, ia membuka aplikasi line dan mengirimkan pesan untuk Zevan
Lita:
Kak Zevan, maaf tadi aku ndak konsen. Kamu ada perlu apa ke kelas ku?
GeraldoZevanza:
Keluar sekarang, saya ada di depan kelasmu
Lita langsung beranjak dari tempatnya, menghampiri Zevan yang ternyata sedari tadi berada di depan kelasnya.
*****
"Kamu dari tadi di sini, kak?" Tanya Lita membuka pembicaraan.
"Ya,"
"Katanya balik ke kelas?"
"FINE DEK!" Zevan langsung berdiri dan berjalan gontai ke arah koridor kelas 9.
Setelah berjalan sekitar tiga meter, ia berbalik arah dan membuang nafas kasar, "Kamu nggak ada niatan buat cegah saya, dek?"
"Kamu ini maunya apa sih, kak? Aku nggak paham maksudmu." keluh Lita yang merasa kesal.
'Ini orang atau tumbuhan sih, pake perasaan dikit kek! Dasar nggak peka' -batin Zevan menjerit.
"Kak? Halooo?" Lita menyadarkan Zevan dari lamunannya.
"..."
"Yaudah, aku masuk dulu ya. PR ku masih ada 5 nomor yang belum," pamit Lita
Zevan yang sudah sadar dari lamunannya, segera menahan tangan Lita.
"PR nya dikumpulin kapan? Nanti?" Tanya Zevan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brutal in Love
JugendliteraturBagaimana jika tiba-tiba dua orang menyeretmu masuk dalam kehidupan mereka secara bersamaan? Lalu, peran konyol apa yang sedang dimainkan oleh keduanya? Adakah unsur kesengajaan di sini? Lita secara tak sengaja melakukan eyes contact dengan Darren...
