Maaf banget ini, beneran deh. Semalem Shab ketiduran, padahal chapter nya udah ada di draft, tinggal dipublish. Maaf, banget yaa..
Hope u enjoy and don't forget to leave your v o t e
🎹 🎹 🎹
Acara pertandingan basket kini sudah usai. Saat Arin dan Tasya keluar dari ruang ganti perempuan, seperti biasanya Rizky dan Dika sudah menunggu di depan. Lalu Dika datang menghampiri Tasya sambil mengambil salah satu tas Tasya yang berisi buku sekolahnya, "Sini aku bawain," ucap Dika.
"Uluuh, sok romantis lo," ucap Rizky mendecih yang meledek.
"Biarin sih, namanya juga pasangan masih anget-anget, Ky," ucap Arin sambil terkekeh.
"Ye elah, bilang aja kalian iri sama kita," kata Dika sambil tersenyum licik.
"Iri? Pfft, buat apa?" Arin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Makanya kalian buruan jadian," celetuk Tasya yang keceplosan.
Arin langsung membelalakkan matanya pada Tasya karena panik.
"Gue sama Arin jadian?" tanya Rizky sambil menaikkan alisnya sebelah. "Mana mungkin! Bentar lagi lo pasti jadian sama Elvan. Ya kan, Rin?" tanya Rizky dengan sinis.
Amarah Arin kini sudah berada di puncaknya. Apa Rizky belum puas saat tadi telah berterngkar dengan Elvan? Arin melipat kedua tangannya. "Emang kenapa kalau gue jadian sama Elvan?" tanya Arin menantang.
"Ya sana jadian, peduli amet gue," ucap Rizky sambil membuang muka.
"Eits-eits," kata Dika yang sudah berada ditengah keduanya. Ribut kecil Arin dan Rizky mulai kambuh kembali dan sudah menjadi tugas Dika dan Tasya menenangkan keduanya.
"Udah ah, kalian ribut melulu, deh," gerutu Tasya, "ayo keluar, gue udah di jemput, nih." Lalu mereka berempat keluar dari hall basket menuju gerbang sekolah.
🎹
Kini mereka berempat tiba di gerbang sekolah. Tanpa pamit, Rizky tiba-tiba saja meninggalkan Arin, Dika, dan Tasya. "Rizky kenapa sih?!" tanya Tasya dengan kesal.
"Udah ah, biarin aja. Tahu sendiri kan kalau Rizky kadang-kadang emosinya suka meledak kayak gitu," ucap Dika.
Arin dan Tasya berbarengan mendengus keras.
"Anyway, Rin," Tasya kini mengahadap Arin, "gue nggak apa-apa, kan, pulang duluan?" tanya Tasya dengan wajah terlihat lemas.
"Iya, nggak apa-apa kok. Kasian lo capek habis cheerlading tadi," ucap Arin karena tahu betapa lelahnya menjadi cheerleader itu apalagi setelah pertandingan tadi.
"Gue tungguin Arin, deh. Nggak apa-apa, Sya?" tanya Dika yang meminta izin pada Tasya yang kini telah menjadi pacarnya.
Tasya tertawa pelan. "Ya nggak apa-apa, Dika. Baru aja aku mau minta ke kamu buat nungguin Arin." Arin tersenyum tipis mendengar kedua sahabatnya sudah tidak lagi menggunakan kata gue-elo dan sekarang telah menggunakan kata aku-kamu.
"Oke, deh kalau kamu nggak apa-apa," ucap Dika sambil tersenyum.
"Nggak usah ah Dik, lebay deh. Gue nggak apa-apa kok sendiri," ucap Arin yang merasa sungkan dengan Tasya.
"Santai aja kali sama gue, Rin," ujar Tasya. "Ya udah deh, gue balik duluan, ya."
Dika mengantar Tasya dan membukakan pintu mobil untuknya. Setelah Tasya pergi, Dika kembali menghampiri Arin. "Rin, lo nggak serius soal Elvan, kan?" tanya Dika dengan tiba-tiba.
"Soal Elvan yang mana?" tanya Arin sambil mengernyit tidak paham.
"Soal lo mau jadian sama Elvan," ucap Dika yang mengungkit pertengkaran tadi dengan Rizky.
"Kenapa enggak," kata Arin dengan enteng sambil tersenyum licik.
"Arin!" bentak Dika. "Lo nggak boleh ngulang kejadian dulu sama gue," tegur Dika.
Lalu Arin tertunduk, tidak berani untuk menatap Dika. Meski mereka berdua telah berbaikkan, tetap saja Arin masihmerasa tidak enak dengan Dika yang bisa dibilang telah mempermainkan perasaan Dika saat dulu berpacaran. "Dik, gue nggak bermaksud buat ngulang kejadian-"
Belum selesai berbicara, Dika memotong. "Cukup! Gue tahu kalian tadi sempat berantem pas pertandingan karena Elvan. Tapi please Rin, gue minta jangan jadian sama Elvan kalau dihati lo masih ada Rizky."
Arin membisu. Kemudian Dika kembali berbicara. "Rin lihat gue," pinta Dika karena kepala Arin masih tertunduk. Dengan berat, Arin mengangkat kepalanya dan menatap Dika. "Gue minta sama lo jangan jadian sama Elvan. Kecuali lo memang benar sayang dengan Elvan," ucap Dika sambil memegang kedua bahu Arin.
Arin mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Btw, makasih banyak, ya, Rin buat bantu gue hari ini," ucap Dika yang mengganti topik agar Arin tidak lagi canggung.
"Bantu lo? Gue kan nggak bantu lo gotong badan lo kayak temen-temen basket lo," ucap Arin sambil terkekeh pelan.
"Iya, tapi lo yang bantu gue pas tadi gue panik gara-gara bunga hilang. Lo udah bantu semangatin gue. So thanks," jelas Dika sambil menyunggingkan bibir.
"Santai aja lah, Dik." Kemudian Arin teringat sesuatu, "Tapi, meskipun lo udah jadian sama Tasya, lo nggak akan kasih tahu dia kan kalo gue pernah jadi mantan lo?"
"Of course, nggak lah, Rin."
"Oke, kita harus simpan ini rapat-rapat."
"Eh," tiba-tiba Dika teringat bahwa ia masih menyimpan foto dirinya bersama Arin di dalam buku binder sekolahnya. Lalu ia membuka tasnya.
Arin melotot saat Dika mengeluarkan fotonya, "Hah? Lo masih simpan?!"
"Gue mau buang ini, ya," izin Dika.
"Ya iyalah ini harus dibuang," panik Arin yang langsung mengambil foto dari tangan Dika lalu meremasnya. "Kalau ketahuan Tasya, mati deh kita!"
"Yeah, we should throw that," saran Dika.
Lalu Arin mencari tong sampah di sekitarnya dan membuang foto itu. "Oke, ini adalah yang terakhir kita membahas masa lalu," ucap Arin dengan perasaan gelisah.
Dika mengangguk pelan. Kini tatapan Dika tertuju pada Keisha dan teman-temannya yang sedang berjalan keluar gerbang.
"Hah? Kenapa?" tanya Dika terkesiap.
"Gue nggak salah lihat, kan?" tunjuk Dika yang melihat plastik yang Keisha jinjing berisi bekas bekal makannya juga beberapa tangkai bunga mawar.
"Sial!" ucap Arin, "Dik, I'm sorry."
Dengan rahang mengeras Dika berjalan menghampiri Keisha. Namun tangan Arin menarik siku Dika untuk menahannya. "Jangan, Dik," kata Arin menahan Dika.
"Tapi gara-gara dia, gue nggak bisa nembak Tasya pakai bunga," gerutu Dika.
"Udah Dik," Arin masih menahan Dika. "Lagian Tasya kan udah nerima lo. Oke?" Tiba-tiba bunyi klakson menghentikan percakapan mereka. "Ya udah gue pulang, ya."
"Oke, hati-hati," ucap Dika yang kemudian pergi ke parkiran motor.
Setelah mereka berdua pergi, Keisha dan teman-temannya datang mendekati tong sampah. Teryata Keisha diam-diam telah memperhatikan Arin dan Dika. Ia juga melihat Arin membuang sesuatu di tong sampah. "Apa yang Kak Arin buang?" tanya Keisha pada teman-temannya sambil melihat isi tong sampah.
🎹 🎹 🎹
To be continued...
Jangan lupa tinggalin v o t e kalian
F o l l o w juga yaa Wattpad shabrinafhuzna
Luff yaa,
Shabrina Huzna😘
Instagram: shabrinafhuzna
KAMU SEDANG MEMBACA
Arina Ella
Ficção AdolescenteCOMPLETED✅ 🎥Yuk, tonton Trailernya di Chapter pertama sebelum baca ((: --- Arina Ella gadis SMA yang merupakan anak dari seorang pianis dan penyanyi terkenal, Steffie Ella. Bakat musik bundanya menurun pada Arina dan membuatnya juga ingin menjadi p...
