"Sahabat bukan hanya dia yang selalu ada saat suka maupun duka. Tapi dia yang selalu bisa memahami dan mengerti saat sahabatnya berusaha menutupi semua kesedihannya."
Adhwi Alfahwi.
***
Siswa-siswi kelas 12 bisa bernapas lega sekarang. Karena empat hari yang akan nenentukan lulus atau tidaknya mereka telah terlewati. Mereka tinggal menunggu hasilnya dan selalu berharap jika hasilnya nanti akan memuaskan.
Berbeda dengan Adhwi, ia merasa jika semakin berjalannya waktu maka semakin sesak untuknya. Cowok yang kini tengah menderrible bola orange di tengah lapang itu melempar bola itu ke arah ring, dan sudah di pastikan bola itu masuk tepat sasaran.
Adhwi mendongkak menatap langit cerah di atasnya. Ia menarik napas sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya begitu saja. Jika dilihat dari luar Adhwi terlihat seperti orang yang baik-baik saja tapi perlu kalian ketahui di balik tegapnya tubuh itu tersimpan luka di dalamnya.
"Adhwi!" pangil salah satu dari kelima cowok yang kini tengah berjalan menghampirinya.
Adhwi berbalik dan menemukan para sahabatnya yang sedang menatapnya dengan serius.
Adhwi menaikan sebelah alisnya. "Kalian kenapa?"
"Lo yang kenapa?" sewot Dave sambil mendorong bahu Adhwi.
Adhwi yang tak siap dengan dorongan Dave terhuyun dan mundur beberapa langkah. Ia menatap Dave dengan bingung.
"Dave lo kenapa sih?"
"Lo yang kenapa bego?" tanya Dave dengan menekan kata 'bego'. "Kenapa lo gak bilang kalau lo mau ke Jerman?"
Adhwi sangat terkejut dengan penuturan Dave, "lo tau dari mana?"
"Bodoh!" sahut Rega. "Bukan itu yang seharusnya lo bilang. Jelasin kanapa lo mau pergi tanpa bilang kekita-kita?"
"Gue ngerasa gak dianggap lagi sahabat sama lo," lirih Deki.
Ucapan Deki sungguh menyudutkan Adhwi. Bukan maksudnya untuk tidak memberi tahu mereka. Sebenarnya Adhwi akan memberi tahu mereka nanti saat mereka berkumpul.
"Kalian salah paham. Gue sebenernya mau kasih tau kalian nanti saat kita ngumpul."
"Kenapa gak kemaren-maren? Apa segitu susahnya lo bilang lo mau pergi?" sewot Diga tak terima.
"Kalau kita tau dari kemaren kita kan bisa ngabising waktu bareng-bareng sebelum lo pergi." decak Rega.
Adhwi menggeleng kecil, "itu yang bikin gue gak ngasih tau kalian dari kemaren karena gue tau kalau kalian tau gue mau pergi kalian bakalan terus ngajak kumpul. Sedangkan kita bentar lagi ujian, gue takut waktu belajar kalian ke ganggu karena kalian mau kumpul-kempul terus makanya gue gak ngasih tau kalian dari kemaren."
Kelima cowok yang mendengar alasan Adhwi hanya bisa diam. Benar yang di katakan Adhwi, jika mereka tau Adhwi akan pergi. Mereka yakin akan mengesampingkan urusan belajarnya.
"Sorry!" lirih Adhwi.
Dave menghela napas, "kapan lo pergi?
KAMU SEDANG MEMBACA
SHELYNA [End]
Teen FictionKita pernah saling mencintai begitu dalam. Sampai aku lupa bagaimana untuk berhenti. Kita pernah saling mendekap dalam pelukan. Sampai aku tak ingin untuk melepaskan. Aku dan kamu begitu menikmati rasa itu. Namun, kita melupakan satu hal. Dia yang b...
![SHELYNA [End]](https://img.wattpad.com/cover/118373065-64-k348474.jpg)