SETELAH lima hari menjalani Ujian Kenaikan Kelas, semua murid SMA Bersana School melepaskan nafas lega karena bisa bebas melakukan apa saja tinggal menunggu hasilnya saja.
"Aduh gue dag-dig-dug nih, kalo emak gue tau nilai gue anjlok semua abis dah. Uang jajan melayang," ucap Raka sambil mutar-mutar tidak jelas.
"Berdoa aja semoga nilai kita semua bagus, rangking mah gampang bisa diatur nanti dikelas duabelas." kata Arfan.
Raka mengangguk setuju. "Gak kerasa udah jadi abang kelas kita,"
"Yoii, semoga gue bisa pisah dari lu Ka."
"Enak aja! Kita tidak bisa dipisahkan oleh apapun kecuali maut, oke." sambil memberikan jari kelingkingnya pada Arfan.
"Najis! Gue ke rooftop dulu mau ketemu Nazel." sambil berlalu pergi.
Raka segera menyusul Arfan karena ingin menanyakan kejadian saat Arfan memukul Gio. "Weh tunggu kek, lo kapan mau minta maaf sama Gio?"
"Oh, gue udah minta maaf sama Gio."
•••••
"Sorry, udah nunggu lama. Lo ngapain ngajakin gue disini?" tanya Arfan.
Nazelya mengedarkan pandangannya. "Soal penyakit gue, tapi gue minta sama lo jangan maksain diri lo kalo gak bisa bertahan sama hubungan ini."
"Maksudnya? Lo minta gue kesini cuma mau bilang kalo lo mau minta putus gitu?!" dengan suara yang lantang.
"Bukan itu! Besok gue bakal berangkat ke Paris untuk pengobatan gue, karena orangtua gue yang mau. Jadi setelah itu gue bakal sekolah disana lebih tepatnya home schooling." ucapnya sambil menyelipkan anak rambutnya.
"Jadi lo gak bakal pulang ke Indonesia lagi? Tapi apa penyakit lo? Sedangkan gue sendiri aja gak tau, semua orang nutupin ini dari gue."
"Bipolar dan Glioma Batang Otak. Itu penyakit gue," ucap Nazelya.
Arfan memejamkan matanya beberapa kali setelah ia mendengar ucapan Nazelya barusan dari mulutnya. Apakah ini mimpi? Jika bukan tolong bangunkan dirinya dari mimpi ini.
Arfan menampar pipinya dan rasanya sakit. "Karena itu lo pergi?"
Nazelya menganggukkan kepalanya. "Andai waktu bisa berhenti sejenak gue gak mau kaya gini Fan, tapi Tuhan punya rencananya sendiri yang bisa kapan saja datang ke kita entah itu penyakit, rezeki dan semacamnya."
"SEMBUH!!! LO HARUS SEMBUH!! HARUS!! Gue gak mau kehilangan orang yang sudah gue cintai untuk kedua kalinya. Waktu emang gak bisa berhenti walau sedetik, tapi kalau cinta tidak bisa berhenti sampai kapanpun kecuali Takdir yang sudah ditentukan." sambil memegang pundak Nazelya, ia yakin akan ucapannya itu kalau Nazel harus sembuh!
"Lo mau nerima kondisi gue dalam keadaan seperti ini?" tanya Nazelya, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya.
"Gue nerima lo apa adanya! Kalo mau nangis keluari jangan ditahan nanti mata lo jadi gede." sambil menepuk pundaknya.
Seketika air mata Nazelya tumpah membasahi pipinya tanpa henti bisa dibilang ia sangat beruntung bisa memiliki Arfan yang bisa menerimanya dengan kondisi seperti ini Arfan menghapus jejak air mata Nazelya.
"Menangislah kamu disaat bahagia bukan karena kesedihan namun air mata bahagia lebih deras, kecuali air mata itu bersedih karena orang yang kita cintai pergi untuk selamanya." kata Arfan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARFANAZ (COMPLETED✓)
Teen FictionNazelya Arvalynz. Perempuan yang mempunyai senyum yang begitu manis bisa membuat kaum Adam terpesona dengan senyumannya itu. Ketua Osis SMA Bersana School yaitu Arfano Haudan yang dulunya memiliki sifat yang begitu dingin dengan semua orang kecuali...
