5. Bismillahirrahmanirrahiim

2.3K 131 23
                                        

****
Semalam pulang nyaris dini hari. Dengan perut keroncongan karena terlambat makan malam, ditambah mobil manajernya mogok di perjalanan. Mau tidak mau, Raka harus merelakan 2 jamnya tidur dalam mobil yang pastinya tidak nyaman. Menjelang shubuh ia baru benar-benar tiba di kamar hotelnya yang nyaman. Sebelum merebah, ia tak sempat melepas kaos kaki dan hanya melepas kardigan hitam yang menempel di tubuhnya.

Raka merebah sejenak. Lalu melirik Dodi yang membawakan beberapa handuk hangat ke dalam kamar.

"Ada waktu 3 jam untuk tidur. Kamu tidur saja dulu. Biar keperluanmu saya siapkan." Dodi sudah seperti kakaknya. Raka mengangguk berterimakasih. Pria yang usianya nyaris kepala 3 itu membalasnya dengan deheman sambil melipat beberapa baju Raka yang tergeletak sembarangan.

Raka memejamkan mata sejenak. Tapi matanya menolak tidur. Walau sebenarnya ia ngantuk berat. Nyatanya Raka memilih bangkit dan membantu Dodi membereskan keperluannya.

"Hari ini ada pertemuan dengan klien baru kan? Sana siapkan keperluan yang lain. Biar ini kusiapkan sendiri." Raka menunjuk kopor lain di sudit ruangan. Ia mengambil alih pakaian yang dipeluk Dodi dalam dekapannya.

"Oke. Jadwalmu selesai sampai jam 1 siang. Kunjungi ibumu. Dia sepertinya cemas, anak kesayangannya belum berkunjung." Dodi meraih salah satu kopor dan membukanya. Mengambil beberapa potong baju dan berkas.

"Terimakasih." Raka bicara pada dirinya sendiri. Nyaris terdengar seperti bisikan.

Raka kembali merebah di ranjang seukuran tubuhnya. Meraih ponsel dan berencana menelpon ibunya. Tapi terlalu takut mengganggu tidur karena belum masuk waktu shubuh. Ia beralih membolak-balik layar ponselnya. Mengecek perkiraan cuaca dan suhu udara.

Sudah lama ia tidak pulang ke kota kelahirannya. Sejak lepas SMA sampai hari ini. Sebenarnya banyak tempat yang ingin Raka kunjungi. Termasuk rumah neneknya-rumah yang ditempati ibunya setelah neneknya meninggal 2 tahun lalu-. Beberapa kenangan sempat tertinggal dan muncul kembali saat ia kembali setelah bertahun-tahun pergi.

Dalam proyeksi matanya, ada bayangan menari-nari di dalam sana. Sebagian indah dan sebagian lagi salah. Terlalu banyak rasa yang ia hindari sampai tak tahu mau mengungkitnya dari bagian mana. Yang jelas, ada perasaan was was saat kembali setelah meninggalkan banyak kenangannya.

Bagaimana kabar masalalunya?

Haruskah besok ia sempatkan berkunjung sebentar? Syukur-syukur kalau sampai bertemu.

Raka menggeleng kepala ke kanan kiri. Mengusir ide gila yang melintasi otaknya. Itu bukan ide yang baik. Raka terlalu takut untuk muncul lagi di hadapan semua orang yang dikenalnya di kota ini. Semua orang pasti akan menyalahkan kepergiannya di masalalu.

****
Sewadah besar nasi goreng sudah tersaji di meja makan. Di tambah tiga buah piring yang masih basah menumpuk di atas meja dekat dengan teko air hangat. Dania sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Duduk di depan meja sambil memainkan smartphone yang baru dibelikan ibunya bulan lalu.

"Dek, panggil tetehmu! Suruh sarapan dulu." Ibunya bergerak di sekitar meja makan sambil mengelap piringnya.

Dania mengangguk meletakan ponselnya. Beranjak menuju kamar kakaknya di ruangan paling depan. Tanpa mengetuk pintu, Dania membuka pintu. Takut jika kakaknya belum bangun mengingat dia tidur larut malam akibat mengerjakan laporan untuk hari ini, katanya.

"Teh sarapan dulu yuk" Dania membuka pintu. Melesakkan kepala dan sebagian tubuhnya ke dalam sana.

Dilihatnya Nadia sudah berdiri di depan cermin sambil tersenyum kaku. Ekspresi terkejut Nadia yang berlebihan membuat Dania melesakkan seluruh tubuhnya ke dalam kamar.

Untuk DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang