8. Tamu di tengah hujan

1.8K 116 21
                                        

****

Adi memilihkan ruang tengah dan memboyong kakaknya untuk duduk mengobrol di sana. Setelah sampai di rumahnya, ia seperti kesetanan berlari menuju rumah tanpa memerdulikan posisi motornya. Kedatangan kakaknya mendadak dan tanpa kabar berita. Apalagi sampai mengajak suami dan anaknya. Adi khawatir ada sesuatu yang tidak beres di kampung halamannya, karena itu ia memilih bergegas lari menemui sang kakak.

"Datang kok nggak bilang-bilang sih, Mbak." Adi membantu membawakan beberapa cangkir kopi dan teh, ditemani Budenya yang membawa kaleng cemilan.

"Ya kamu ndak pulang-pulang. Katamu bulan ini pulang, tapi ndak ada juga. Ya wis mbak sing nyusul." Wanita cantik berjilbab panjang dan lebar itu tersenyum ramah sambil berterimakasih pada budenya. Meminta adik laki-lakinya duduk menemani.

"Adi kan bilang akhir bulan ini Mbak. Sedang urus-urus cuti. Kerjaan ndak bisa ditinggal sembarangan." Adi menghela nafas kemudian menyeruput kopi yang masih mengepul.

"Ibu sudah ngamuk-ngamuk di Semarang minta kamu pulang, Di." Adena, sebut saja wanita itu. Kakak Adi satu-satunya.

"Sabar toh Mbak. Adi pasti pulang. Oh iya, gimana ibu di Semarang?" Adi beralih menatap wajah kakak perempuannya yang hanya terpaut 3 tahun usia.

"Alhamdulillah, Ibu sehat. Walaupun darah tingginya kadang kambuh." Adena menggeser duduknya untuk diduduki budenya yang hanya diam menyimak.

Adi menghela nafas dalam-dalam. Menyadari dirinya yang terbilang jarang kembali ke Semarang saking sibuknya bekerja.

"Mas Khalid sama Aisyah mana? Nggak ikut?" Adi mengalihkan pembicaraannya. Menoleh kanan-kiri menyadari ipar dan keponakannya tidak bersama Adena.

"Isyah diajak masmu keliling." jawabnya sambil menunjuk kopor besar milik kakak iparnya.

"Bude siapkan makan malam dulu ya." kata budenya sambil berdiri dan hanya diangguki Adena.

Suasana menjadi hening sesaat setelah wanita berusia awal 60-an itu meninggalkan ruang tamu yang di tempati Adi dan Adena. Hanya tersisa Adi yang tersenyum canggung menggenggam gelas kopinya dan Adena yang sibuk memerhatikan punggung budenya sampai lenyap di balik pintu penyekat.

"Adi."

"Iya mbak?"

"Gimana soal perempuan itu? Kamu masih ada hubungan?" Adena sedikit memelankan suaranya. Menjaga jarak agar tidak terlalu terdengar keluar.

Adi mengeryit alisnya sempat tidak menangkap maksud kakaknya, tapi ia kemudian mengangguk pelan.

"Alhamdulillah berjalan baik, mbak." Adi tau pipinya memerah disaat yang sama, merambat ke telinga walau hanya sekedar menyebutnya saja. Pria itu menggosok telinganya saking malu.

"Sudah tiga bulan dari waktu yang ibu kasih, ada baiknya cepat hubungi ibu dan kenalkan dia kalau memang sudah serius." Adena meraih gelas tehnya. Menyeruput pelan-pelan sesekali melirik perubahan wajah adi yang makin merah.

"InshaAllah secepatnya Adi kenalkan sama keluarga. Mbak tahan ibu saja, jangan sampai melakukan yang aneh-aneh, ya."

"Mbak sudah ndak bisa bohong-bohong lagi kalau masih lama. Ibu sudah bilang sana-sini mau menjodohkan kamu sama anaknya ustadz Maulana."

"Mbak tahan ibu dulu. Adi janji bawa perempuan pilihan Adi secepatnya. Sampai akhir bulan saja." Adi menggosok tangannya yang mulai dingin. Tiba-tiba muncul perasaan khawatir yang tak terbendung. Takut dan cemas jika ibunya sudah bergerak macam-macam.

"Mbak bantu sebisanya. Tapi ndak jamin aman kalau kamu ndak segera bilang sama ibu. Tau sendiri, permintaan ibu ya mutlak." Adena mencairkan suasana. Wanita itu tersenyum halus dan ramah. Membuat Adi tersenyum senang tapi tetap gelisah.

Untuk DiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang