22. Biarkan hati yang memilih

1.2K 93 2
                                        

****

Nadia berterimakasih setelah Adi mengantarnya pulang menjelang sholat dzuhur. Pembicaraan mereka berakhir dengan singkat dan tak berlanjut sampai Nadia meminta pulang. Adi menawarkan dirinya mengantar sampai depan rumah. Disetujui Nadia yang hanya mengikutinya duduk di jok sebelah kemudi.

Sepanjang perjalanan, Nadia diam tanpa bicara. Ditambah Adi yang juga terlihat canggung setelah obrolan mereka yang terakhir. Ia sesekali tampak memandang dan memastikan Nadia baik-baik saja.

"Selamat beristirahat, Nad." Adi bicara membuka kaca mobilnya. Tersenyum kaku pada Nadia yang hanya mengangguk di sisi mobil sambil berdiri.

Nadia berterimakasih sekali lagi. Suaranya mulai parau dan kembali mendesir aliran jantungnya. Adi melambai setelahnya lalu menutup kembali kaca mobil. Kemudian melesat lagi dengan mobilnya sampai berbelok di ujung gang.

Nadia masih berdiri di depan gerbang, memandangi arah mobil Adi yang lenyap. Tangan kanannya ngilu akibat debaran jantung yang tak terkendali, Nadia gelisah. Apa tadi artinya, ia dan Adi memutuskan untuk berpisah?

Nadia menggeleng. Mengusir bagian-bagian yang buruk melintas otaknya. Dia dan Adi hanya butuh waktu. Setelah itu, semuanya akan kembali baik-baik saja.

Setelah berdiri lama, ia memutuskan kembali ke rumah. Mungkin pergi sholat dulu kemudian tidur sebentar akan menenangkan hatinya yang sedang kacau.

"Kok sudah pulang?"

Nadia disambut bu Diana di depan teras rumah. Gadis itu hanya menoleh ke arahnya dengan wajah lesu dan senyuman yang kaku.

"Iya bu." Nadia menyalami tangan ibunya lalu meminta izin untuk masuk ke dalam rumah duluan.

"Kunaon? Kok wajahnya lesu?" Bu Diana menerima salam dari Nadia dan menahan bahu anak gadisnya sejenak.

"Nggak bu." jawab Nadia singkat.

"Tadi mangkat panik, sekarang pulang lesu. Kunaon atuh? Lagi berantem sama Adi?"

Nadia tahu ibunya mungkin mulai peka. Perubahan mimik wajahnya yang memang tidak seperti biasa. Apalagi kebanyakan setelah pulang bersama Adi, Nadia lebih banyak tersenyum. Tapi untuk hari ini, Nadia sedang tidak mau membahas apapun. Karena ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

"Nggaklah bu." Nadia menimpalinya.

"Nya terus?"

Nadia menghela nafas panjang. Kemudian mengusap bahu ibunya pelan. Ia menggeleng menandakan bahwa semuanya akan berjalan  baik-baik saja. Ibunya tak usah khawatir.

****
Raka mendengar suara pintu ruangan dibuka. Ia menoleh segera dan memastikan siapa orang yang masuk. Pria itu spontan membetulkan posisi duduknya menghadap pintu, ingin bangkit menyambut namun tubuhnya terlalu lemas dan ngilu akibat bengkak di seluruh badan. Dari balik pintu, ayahnya datang dengan kursi rodanya.

"Pa," Raka menyapanya dengan senyuman ketir.

Ayahnya datang tanpa bicara. Hanya memandangnya khawatir namun tajam. Raka tak berani mendongak apalagi sampai menatap wajah ayahnya yang tiba-tiba berubah sangar. Jantungnya mulai berdebar, ayahnya pasti akan marah karena tahu penyebab dirinya sampai dilarikan ke rumah sakit.

Raka tidak tahu kapan ayahnya mendekat, mengangkat tangan tinggi-tinggi, lalu mendaratkan sebuah pukulan keras di pipinya. Yang jelas, secara spontan tangan ayahnya melayang dan menampar keras pipi sebelah kiri. Perih dan nyeri, sampai Raka terkesiap menahan nafas beberapa detik. Spontan ia menoleh dan menatap ke arah ayahnya dengan perasaan tanya dan nyeri di pipi.

Untuk DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang