2. Ucapan terima kasih

3.3K 170 43
                                        

****

Sudah menjadi kebiasaan, datang paling pagi dan pulang nyaris akhir. Adiari Susanto termasuk karyawan teladan di perusahaan. Itulah alasannya, di dua tahun karirnya dia sudah merangkak naik menjadi manajer Marketing. Bukan hanya itu, sosok Adi menjadi idola diawal kedatanganya. Pria manis dengan senyum lembutnya, ditambah ia nyaris tidak pernah terlihat marah dihadapan karyawan lain.

Sebenarnya urusannya sudah selesai sejak jam pulang kerja jam 5 sore tadi. Tapi sebagian karyawannya belum menyelesaikan pekerjaan hingga ia menunda kepulangannya sampai memastikan semua karyawan kebanggannya sudah pulang. Setelah salat isya, ia memastikan tak ada lagi karyawannya yang tersisa. Hanya ada beberapa karyawan lembur yang masih berkutat dengan senjata kesayangan mereka, smartphone.

Adi memutuskan untuk pulang. Ia masih ingat motornya di parkir di basement belakang. Sambil merogoh tas kerjanya, ia sempat mengirim pesan pada budik-nya bahwa ia pulang terlambat lagi. Setelah menemukan kunci motor, giliran motornya yang ia cari.

Tiba di basement belakang, Adi melihat suasana cukup sepi. Nyaris tertinggal beberapa motor saja. Dan lagi, seorang gadis tengah berjongkok di depan motornya. Adi nyaris melompat karena kaget. Ia pikir tak ada siapapun di sana.

"Nadia?"

Adi mengenalinya setelah berjalan mendekat. Nadia yang semula tak sadar kedatangannya spontan berdiri dan hampir berteriak sama kagetnya.

"Mas Adi." Nadia mengusap-usap dadanya. Tersenyum lega setelah memastikan yang menegurnya bukan hantu.

"Kok belum pulang? Perasaan kamu pamit dari habis magrib." Adi menghampirinya. Melirik motor matic yang disandari Nadia di belakangnya.

"Ehh, iya Mas. Ini motor saya mogok lagi. Nggak mau nyala mesinnya." Nadia tersenyum malu. Ia menunjuk motornya yang tak berdaya.

"Lagi?"

Adi mendekat. Meminta Nadia sedikit menjauh dari motornya. Sungguh, Adi bukan orang yang mengerti soal motor apalagi sampai bisa memperbaikinya. Dia tidak mengenal dengan baik bagian-bagian motor. Jadi semuanya tidak akan membantu.

Tapi Adi hanya ingin berbasa-basi. Memastikan motor Nadia benar-benar mogok.

"Aduh, saya nggak ngerti masalah motor." Adi mengakuinya. Ia membenarkan motor Nadia memang tidak mau menyala. Tapi demi Allah, dia tidak tau apa penyebabnya.

"Gini aja, kamu pulang bawa motor saya. Biar saya bawa motor kamu ke bengkel." Adi memberikan kunci motornya pada Nadia. Tapi gadis itu menggeleng tanda menolak.

"Nggak usah, Mas. Saya pulang naik ojek aja. Biar motornya saya tinggal."

"Ini sudah malam. Ojek sekitar sini kan jarang. Bawa saja motor saya!" Adi memberikannya langsung. Nadia sempat kembali menolak tapi tak bisa bicara apapun lagi setelah kunci itu ada di tangannya.

"Terus Mas Adi gimana?"

"Saya mah gampang bisa ikut teman saya nanti."

Nadia menggaruk lehernya cemas. Ia sempat ragu menerima bantuan Adi. Walau bagaimanapun, Adi tidak perlu bertingkah sejauh ini padanya. Namun ia merasa, Adi akan tersinggung jika Nadia menolaknya.

"Sudah sana pulang. Sudah malam!" Adi mengibas-ngibas tangannya di udara. Memerintahkan segera pergi sebelum hari semakin malam.

"Makasih ya, Mas." Nadia kembali berterima kasih. Ia mengambil helmnya lalu pamit menggunakan motor Adi yang terparkir tak jauh dari sana.

Adi hanya mengangguk. Membiarkan Nadia menggunakan motornya untuk tunggangan pulang. Ia tersenyum mengangguk dan membalas salam Nadia saat gadis itu berteriak dari motornya.

Untuk DiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang