Chapter 1. Mother

392 15 1
                                        

Manhattan, New York.
2013.

PRANG

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

PRANG

Suara kaleng kosong yang baru saja menjadi bola dadakan gadis itu masih terdengar jelas meskipun tidak menimbulkan suara yang cukup keras.

'siapa juga orang bodoh yang membuang kaleng kosong dijalan umum seperti ini?' pikirnya.

Tak ada niat sedikitpun untuk memungut lalu memasukkan kaleng itu kedalam tong sampah yang letaknya tak jauh dari posisinya berdiri.

Dengan satu tangan dimasukkan kedalam saku jaket miliknya, gadis itu tetap melanjutkan langkahnya dengan malas menyusuri trotoar yang cukup ramai akan pejalan kaki. Wajar saja, hari ini adalah hari senin. Hari dimana hampir dari seluruh penduduk melakukan kegiatan rutinnya, bersekolah ataupun bekerja.

Seharusnya iapun begitu. Melaksanakan kegiatan rutin, bersekolah. Bahkan iapun masih mengenakan seragam sekolah dibalik jeketnya.

Namun rasa malas terlalu mendominasinya saat ini. Membuat gadis itu lebih memilih menghabiskan waktunya dengan berjalan kaki tanpa tahu tujuan akhirnya akan kemana. Tidak masalah, ia sudah biasa. Melakukan sesuatu tanpa tahu akhirnya akan seperti apa.

Matanya terus tertuju kedepan, sama sekali tak ada niat untuk menoleh bahkan melirik kearah lain. Seperti biasa, ia hanya senang melihat kedepan. Karena untuk menoleh kebelakang hanya akan menimbulkan luka yang lebih besar lagi bagi siapapun yang melakukannya. Begitu menurutnya.

Toh, tanpa menoleh pun ia masih bisa melihat apa yang ada disekitarnya. Seperti saat ini, ia bisa mengetahui gambar siapakah yang terpampang jelas di Billboard New York Times Square itu.

Pertamakalinya ia menoleh, demi untuk melihat objek itu. Satu-satunya objek yang mampu menghentikan langkahnya bahkan membuatnya mengabaikan motonya,

'hanya perlu melihat kedepan'.

Oh tidak, anggap saja objek itu adalah 'arah depan' untuknya saat ini. Lagipula badannya sudah sepenuhnya menghadap kearah Billboard New York Time Square itu.

Sungguh ajaib, bahkan objek itu mampu menerbitkan senyum pertamanya hari ini. Senyum yang sangat jarang ia tunjukan kepada sembarang orang.

Matanya terus menatap kearah itu, dan senyumnya pun tak luntur sedikitpun. Hanya dengan melihatnya, disana..

Seorang wanita berambut pirang dan memiliki mata abu-abu yang indah. Memakai gaun berwarna merah yang sangat serasi dengan warna kulit putih sehalus porselen. Dengan kedua tangan memegang piala, wanita itu tersenyum sangat manis menghadap kearah kamera yang setia membidik wajah awet mudanya.

Senyum itu, senyum yang hanya dapat ia lihat secara langsung dalam setahun sekali. Tepatnya hanya disaat hari ulang tahunnya. Hanya saat itu saja. Jika bisa, ia ingin merayakan ulang tahunnya setiap hari agar sosok itu terus bersamanya setiap hari, bukan lagi sekali dalam setahun seperti biasa. Dan sialnya, ulang tahunnya masih dua bulan lagi. Huh.

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang