Kehidupan Delora Angustias Wyanet yang menyedihkan membuat dirinya berusaha untuk hidup lebih baik sebagai sosok yang baru.
Sayangnya, masa lalu sang ibu seolah terus menjadi sumber utama dalam setiap kesedihan yang ia alami. Bahkan, dalam perjalana...
Kedua mata Tiffany melihat dengan teliti setiap detil dari tulisan yang tertulis ditiap lembaran majalah yang khusus ditujukan untuk calon ibu.
Untuk mempersiapkan segala kebutuhannya nanti ataupun guna menjaga kesehatan sang jabang bayi, Tiffany pun membeli banyak majalah kehamilan untuk dapat menambah referensinya.
Tangannya membuka tiap lembar majalah itu. Dan semakin banyak lembaran yang ia baca, maka semakin bertambah pula ilmu baru yang ia dapatkan.
Senyuman seketika menghiasi wajahnya saat melihat foto bayi disalah satu lembaran itu. Lucu. Pikirnya.
"Nona, ada yang mengirim ini untuk anda" ucap pelayan yang baru saja datangvdan menginterupsi kegiatannya.
Tiffany menoleh kearah pelayan itu lalu berikutnya melihat apa yang pelayan itu bawa.
Sebuket bunga.
Tiffany mengambil bunga itu namun tak berniat menghirupnya. Bukan karena apa, hanya saja kehamilan membuat indera penciumannya menjadi jauh lebih sensitif.
"Kami tidak tahu siapa pengirimnya nona, tapi saat kami periksa tadi, ada sebuah surat diantara tangkai bunga ini" jelas sang pelayan seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Tiffany.
"Baik, kau bisa pergi"
Pelayan itu membungkukkan tubuhnya 90 derajat sebagai tanda hormat sebelum kembali melakukan pekerjaannya.
Setelah pelayan itu pergi barulah Tiffany mencari secarik surat yang dikatakan oleh si pelayan tadi. Dan benar, tak lama kemudian ia pun mendapatkan surat yang dimaksud itu. Surat yang berselimutkan amplop berwarna putih, menandakan si pengirim adalah orang yang tulus, penyayang, dan idealis.
Tak membuang waktu lagi hingga Tiffany membuka dan membaca isi dari surat itu.
Bagaimana kabarmu, Stephanya?
Sedikit canggung bagiku menulis ini mengingat diriku yang selama ini terkesan dingin dimata mu. Tapi apa kau tahu, itu semua ku lakukan untuk menutupi kegugupanku saat bersamamu.
Bersama gadis kecil yang membuatku jatuh cinta saat pertamakali melihatnya.
Saat itu adalah malam natal pertama yang kulalui sendiri. Ku putuskan pergi dari rumah untuk mencari suasana baru. Hingga tanpa sadar kakiku telah berdiri tepat di halaman sebuah rumah yang didominasi oleh kaca.
Awalnya, yang kurasakan hanyalah takjub dengan dekorasi rumah itu yang sangat sepadan dengan putihnya salju. Namun perasaanku mulai berubah saat melihat ibu yang sudah enam tahun ku rindukan.
Aku ingin berlari kedalam rumah itu dan memeluknya, namun kurungkan niatku ketika melihat sesuatu yang tak ku mengerti.
Ibuku justru memeluk seorang gadis kecil yang kutebak usianya sekitar enam tahun lebih muda dariku.
Ya, enam tahun. Seketika hal itu membuatku tersadar jika bukan tidak mungkin bahwa gadis kecil itu adalah penyebab perceraian kedua orang tuaku.
Karena itu kuputuskan, akan kembali ketempat itu esok hari dan memberi pelajaran untuk gadis kecil itu.
Itulah pemikiranku yang kala itu berusia dua belas tahun.
Dan seperti tekadku, ku langkahkan kakiku kembali ketempat itu. Disaat itu pun kusadari bahwa aku telah melakukan kesalahan.
Meskipun mencoba menyangkalnya, tetap saja jantungku terus berdetak setiap melihat gadis kecil itu bermain dihalaman rumahnya.
Aku pun mengakui, menyukai gadis kecil itu dan tekad ku berubah menjadi ingin memilikinya.
Niat itu kusampaikan kepada ayahku, dan tentu saja ayahku marah karena mengetahui jika kita memiliki ikatan darah dari ibu yang sama. Namun dengan keras kepala aku tetap pada tujuanku. Berbagai cara kulakukan, mencari tahu seluk belukmu hingga menjadi orang kepercayaan ayahmu. Beruntung bagiku karena saat itu diutus oleh ayahmu untuk mengawasi mu.
Semakin lama rasa suka ku berubah menjadi obsesi. Dan ayahku sepertinya menyadari itu. Lalu ayahku meminta Jean mendekatimu dan menjauhkanmu dariku. Bahkan Jean mengancam akan memberitahumu semuanya apabila aku tak pergi saat itu. Karena itulah, tiga tahun lalu aku pergi.
Namun aku tak tinggal diam, dalam tiga tahun itu ku putuskan untuk mempersiapkan segalanya. Aku berencana membawamu pergi ke tempat yang jauh dan bahkan membangun rumah disana. Karena ku fikir, kau tak akan menerima pernikahan itu terlebih dengan pengakuanmu tiga tahun lalu.
Tapi melihat matamu terakhir kali, aku tahu bahwa caramu menatapku sudah berbeda dari tiga tahun lalu.
Aku tak tahu bagaimana Jean dimata mu, tapi dari yang kulihat, cara Jean menatapmu sejak di rumah sakit tiga tahun lalu, sama dengan cara mu menatap ku dulu. Kau tahu, itulah mengapa aku tak suka saat pertamakali bertemu dengannya.
Namun karena itu, kusimpulkan satu hal, motifnya mendekatimu tidak hanya karena permintaan ayahku saja, tetapi karena Jean memang sudah menyukaimu sejak lama.
Ah iya, Mungkin sulit bagiku untuk menemui mu selama perasaanku masih mengaggapmu sebagai wanita yang kucintai.
Tetapi terlepas dari semua itu, ku harap kau dan janin mu selalu sehat.
Kurasa sudah cukup apa yang ingin ku sampaikan dalam tulisan ini. Dan karena aku sudah mengungkapkan semuanya, bahkan jika siapapun mengatakan apapun kepadamu, jangan membenciku Stephanya.
Dari kakak yang mencintaimu,
Ryan.
Hatinya sedikit tergores tatkala membaca deretan kalimat terakhir, 'dari kakak yang mencintaimu'.
Entah mengapa takdir begitu lucu baginya. Kenapa mereka harus dipertemukan sebagai dua insan yang saling menyukai sejak awal jika pada akhirnya akan berakhir dengan ketidakmungkinan untuk bersama?
Namun apabila melihat sisi lain dari semua yang terjadi, mungkin memang sudah jalannya seperti itu. Tiffany berusaha untuk lega sebelumnya, dan setelah membaca deretan paragraf dalam surat itu, tak disangkanya semakin membuat dirinya jauh lebih lega.
Dan tentang perasaannya terhadap Jean,
Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. "Haruskah aku memastikannya?"
***Tbc***
Mungkin bisa dibilang chapter ini khusus sesi pembacaan surat dari Ryan. Jadi bagi kalian yang belum pernah baca surat sebelumnya, ini aku kasih pengalaman membaca surat cinta. Surat cintanya dari Ryan lagi😄 Tapi kata cinta itu punya banyak makna yaa.. Surat cinta dari Ryan ini lebih ke cinta kakak ke adiknya *mungkin*😅
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.