Chapter 9. Seduction

158 9 2
                                        

Vote nya mana?😘
.
.
.
.
. . .

***A***

Delora tidak deg degan sama sekali.

Ia hanya bingung. Ya, bingung harus mengatakan apa ketika suara bass itu bertanya kepadanya. Tapi bukankah ia kemari dengan tujuan yang jelas? Ia hanya mencari pria itu, itu saja.

Dengan gerakan pelan namun pasti, Delora membalikkan badan hingga tubuhnya menghadap sempurna kearah dua manusia yang tampak sedikit salah tingkah. Tidak, lebih tepatnya adalah hanya si wanita bergaun rendah yang salah tingkah sedangkan pria itu tetap konsisten dengan raut wajah yang tak terbaca.

"Apa perlu mengulang pertanyaanku?" tanya pria itu dengan nada dinginnya. Ralat, sangat dingin.

"Aku mencarimu."

Tak ada respon dari pria itu. Hanya saja ekspresinya yang nampak mengerutkan alis, membuat Delora mau tak mau harus menambahkan penjelasannya secara lebih rinci.

"dan juga yang kau katakan semalam, aku ingin berterimakasih untuk itu."

Dari ekspresi pria itu, sepertinya apa yang ingin disampaikan oleh Delora telah dimengerti olehnya. Terbukti dengan anggukan kepala pria itu beberapa detik setelahnya.

"Hanya itu?"

"Hanya itu?" tanya Delora balik memastikan ucapan pria didepannya.

"Jika memang hanya itu yang ingin kau sampaikan tidak ada alasan untuk tetap disini, bukan?"

Delora tentu tahu maksud pria itu. Apalagi kalau bukan bermaksud mengusirnya. Entah mengapa ego Delora rasanya terlalu tinggi jika mengikuti alur yang dibuat oleh pria yang berdiri dengan angkuh dihadapannya saat ini.

"Tidak hanya itu. Aku juga ingin meminta bantuanmu." 'Shit, bantuan? Aku bahkan bingung bantuan apa memangnya?' rutuk Delora dalam hati.

"Katakan dengan jelas dan cepat."

"Aku ingin menghabiskan waktu denganmu". 'Oh no. Apa yang kau katakan delora!?' ujar Delora dalam hati yang lagi lagi merutuki kebodohannya.

"mak..maksudku, aku ingin kau membantuku menjelaskan seluruh isi gedung ini dan juga.. Dan juga menemaniku mencari udara segar. Ya, itu saja." ralat Delora dengan cepat.

"Sepertinya Delora memang membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Karena kau baru akan kembali bertugas minggu depan, tidak ada salahnya bukan menemani Delora untuk sementara waktu?" Kali ini suara anggun wanita yang masih berdiri dibalik bahu pria itu lah yang terdengar. Dan Delora cukup terkejut, bagaimana mungkin ia lupa jika wanita yang ia ketahui sebagai kekasih ayahnya itu masih ditempat ini sejak tadi.

Ah, abaikan dulu perihal wanita itu dan apa yang ia lihat tadi. Saat ini Delora masih mengamati ekspresi sosok pria dihadapannya. Tak ada yang berubah, masih saja datar.

Tapi beberapa saat kemudian pria itu menunjukkam sedikit gerakan berupa anggukan kepala. Itu berarti,

"Baiklah. Aku akan menemanimu berkeliling gedung ini, dan 'mencari udara segar' ".

Meskipun tak begitu jelas, namun Delora masih mampu melihat adanya kilatan tak biasa yang terpancar dimata pria itu ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.

Delora harap, 'udara segar' yang dimaksud pria itu sejalan dengan 'udara segar' yang diinginkan oleh Delora.

****A****

At Brooklyn, NYC.
23.30

Delora membisu.

Suaranya belum terdengar sama sekali dan tubuhnya tak menunjukan gerakan sedikitpun. Meskipun begitu sedari tadi matanya tak pernah berhenti menelusuri setiap sudut club malam tempat nya berada saat ini.

ANGUSTIAS [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang